STRUKTUR DAN GAYA HAIKU


Haiku merupakan puisi,  sekelompok kata yang ditulis untuk mengekspresikan atau membangkitkan emosi, melukis gambar, atau memberi rasa keindahan.  Haiku adalah bentuk pengucapan bahasa yang ritmis, mengungkapkan pengalaman intelektual penyair yang bersifat imajinatif dan emosional. Mengacu pada dua aspek, yaitu bentuk dan isi puisi. “Bentuk” disebut sebagai struktur fisik puisi, sedangkan “isi” disebut sebagai struktur batin puisi.

Struktur fisik merupakan medium mengungkap struktur batin. Unsur-unsur yang termasuk dalam struktur fisik haiku adalah: diksi, pengimajian (citraan), kata konkret, ritme, pola tuang 5-7-5, dan sarana retorika (Teknik atau Gaya penulisan haiku, Kigo, Kireji, dan Ma). Struktur batin haiku terdiri atas: tema, nada, perasaan, dan amanat. Unsur-unsur tersebut tidaklah berdiri sendiri tetapi merupakan kesatuan yang saling berhubungan.

Struktur Fisik

Diksi adalah bentuk serapan dari kata “diction”, diartikan sebagai pilihan kata. Memiliki peranan yang penting untuk mencapai keefektifan dalam penulisan suatu karya sastra. Seorang penyair haiku harus memahami masalah kata dan maknanya, harus tahu memperluas dan mengaktifkan kosakata, harus mampu memilih kata yang tepat, kata yang sesuai dengan situasi yang digambarkan, dan harus mengenali dengan baik macam corak gaya bahasa sesuai dengan prinsip haiku.

Satuan arti yang membentuk struktur formal lingustik haiku adalah kata yang dibatasi oleh jumlah suku kata perbarisnya. Diksi adalah tindakan memilih kata, haiku dibatasi oleh jumlah suku kata, maka harus ada alasan yang kuat dan tepat untuk menempatkan setiap kata dalam teks puisi.  Haijin harus selalu bertanya “kenapa harus kata ini bukan kata yang lainnya?” Haiku biasanya menggunakan tiga jenis kata yakni: kata benda, kata sifat, dan kata kerja. Menggambarkan atau menunjukkan sifat atau kerja suatu benda dalam dimensi ruang dan waktu adalah  penting dalam haiku.

Setiap kata yang dipilih bersifat mewakili pengalaman konkret dan juga rasa atas pengalaman itu.  Tindakan memilih kata adalah cara untuk menyampaikan gagasan dan nilai estetis tertentu. Kata memiliki arti dan efek tertentu yang akan ditimbulkannya. Diantaranya adalah arti denotatif dan konotatif, citraan dan rasa haiku.  Kata-kata dalam tiap haiku merupakan cerminan kepribadian penyair, yaitu suatu bentuk pengekspresiannya yang bersifat pribadi atau individual.

Pengimajian (Citraan) dalam haiku adalah untuk memberi gambar yang jernih, menimbulkan suasana khusus, membuat lebih hidup gambar dalam pikiran dan penginderaan pembaca, untuk menarik perhatian, untuk memberikan kesan mental atau bayangan visual. Citraan dapat dibedakan atas beberapa macam, yaitu citraan visual (penglihatan) citraan auditif (pendengaran) citraan artikulatori (pengucapan) citraan olfaktori (penciuman), citraan gustatori (kecapan), citraan faktual (perabaan/perasaan), citraan kinaestik (gerak).

Haiku disebut puisi konkret, bersifat menunjukkan hal-hal yang konkret atau sesuatu yang nyata adanya (bukan imajinasi, ide, atau gagasan pikiran dan pengetahuan penyair). Kata konkret adalah kata-kata yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan suatu keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca. Kata-kata diupayakan agar menyaran (sugestif) kepada arti yang menyeluruh.  Konkret juga dapat diartikan sebagai “menyajikan gambar nyata”, sesuatu hasil sensor indra manusia. Kadang penyair memiliki kendala, antara memilih ketepatan metrik namun mendistorsi gambar atau memilih keutuhan gambar.  Karena itu perbedaan satu suku kata kadang harus ditolerir dalam rangka menyajikan gambar yang menarik.

Struktur Batin

Tema haiku adalah pokok pikiran penyair dalam sebuah ayat haiku. Makna puisi haiku harus ditafsirkan, meski apa yang tertulis sebagai teks puisi menyajikan gambar jernih yang bersifat konkret atau nyata. Penggunaan kata dan hubungan antar kalimat dalam tiap baris harus ditafsirkan secara kontekstual berdasarkan hubungan yang tersurat (tertulis) maupun yang tersirat  agar penafsiran tidak berbeda jauh dengan maksud penyair. Dengan demikian maka pokok pikiran atau tema pada puisi dapat diketahui.

Secara umum, menafsirkan suatu puisi dilakukan dengan cara meninjau bahasa yang digunakan oleh penyair. Menentukan konteks puisi berdasarkan hubungan kohesi (hubungan struktur antar kalimat) dan koherensi (hubungan makna antar kalimat). Makna puisi tidak hanya ditentukan oleh kata dan kalimat secara lepas, akan tetapi ditentukan oleh hubungan antar kalimat yang satu dengan yang lain.

Nada mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca, sedangkan suasana puisi adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca. Nada dan suasana puisi saling berhubungan, nada puisi  menimbulkan suasana terhadap pembacanya.

Haiku dapat mengungkapkan perasaan gembira, sedih, terharu, dan berbagai emosi manusia umumnya. Karena itu penyair harus mengerahkan segenap kekuatan bahasa untuk memperkuat ekspresi perasaan yang bersifat total sehingga haiku memiliki fungsi simbolik, emotif, dan afektif.

Suasana haiku adalah perasaan yang diciptakan oleh penyair bagi pembaca.  Nada ialah alunan lembut, keras, rendah atau tinggi yang terhasil daripada berbagai jenis bunyi yang  terkait dengan pengungkapan perasaan penyair. Suasana hati dan nada sering bergantung satu sama lain untuk bisa memahami apa yang digambarkan oleh penyair.

Amanat merupakan suatu pesan yang disampaikan penyair dalam puisinya. Pesan-pesan tersebut dihadirkan dalam ungkapan yang tersembunyi. Amanat ini dirumuskan sendiri oleh pembaca dan amanat itu akan selaras dengan tema haiku.

Gaya Haiku

Secara umum, ada 2 jenis “Gaya Haiku” yakni: Toriawase dan Ichibutsujitate. Masing-masing gaya memiliki konsekwensi teknik penulisan tersendiri. Gaya dan struktur haiku terkait satu sama lain, gaya mempengaruhi struktur dan struktur mempengaruhi gaya haiku.

Toriawase atau penjajaran dapat diterjemahkan sebagai kombinasi dua gambar, elemen, item, atau konsep dimana antar keduanya ada rasa persatuan tanpa koneksi logis. Dalam toriawase kita dapat membedakan adanya dua gambar atau “kutup” ketegangan. Kita menjajarkan, atau seperti membenturkan, dua elemen: benda, waktu, atau pengalaman; sehingga melalui itu muncul bagian puisi yang tak tertulis. Toriawase membutuhkan Ma atau ruang spasial atau jeda yang tidak kosong. Ma yang baik biasanya tidak terlalu jauh dan tidak juga terlalu dekat.

Ichibutsujitate adalah prinsip haiku yang tidak menunjukkan “penjajaran”, tapi didasarkan pada satu hal, tema, item, unsur, gambar, atau konsep. Menulis haiku jenis ini dianggap sulit, butuh keterampilan tinggi untuk menulisnya. Dibutuhkan penguasaan dasar-dasar haiku yang kokoh untuk bisa menghasilkan “haiku” yang sempurna. Bagi para pemula, sebaiknya mematangkan terlebih dahulu “gaya toriawase” baru kemudian meningkatkan keterampilannya ke tingkat yang lebih tinggi.

Bagi mereka yang telah mencapai tingkat terampil dalam berhaiku, tidak ada ancang-ancang di awal apakah akan menulis haiku toriawase atau ichibutsujitate, semuanya mengalir begitu saja sebagaimana intusi haijin menuntun. Ketika tiba-tiba ia (haijin) berpikir “ haiku ini lebih efektif atau lebih baik bila menggunakan penjajaran” maka haijin harus memenggalnya (Kire), berhenti untuk menunjukkan satu gambar melalui 5 atau 12 suku kata…lalu dilanjutkan dengan memunculkan gambar berikutnya.

Menulis haiku dalam tiga baris atau tiga line (pola 5-7-5) maka ada dua pilhan, toriawase (penjajaran) atau ichibutsujiatae (satu tema). Namun ketika menulis haiku dalam dua baris maka pilihannya hanya satu, yakni “toriawase”. Tidak ada jenis haiku satu tema untuk ditulis dalam haiku dua baris. Toriawase dalam tiga baris, kalimat di baris ketiga membawa kita kembali ke baris pertama. Sedangkan untuk gaya Ichibutsujitate kalimat baris ketiga merupakan kalimat “pukulan akhir”, seolah-olah ia merupakan inti dari haiku, dan tidak membawa pembaca kembali ke baris pertama.

Haiku yang ditulis dalam dua baris atau haiku 2 line adalah bentuk lain penulisan haiku penjajaran, untuk penulisan haiku di luar Jepang. Haiku harus terpenggal untuk menghasilkan satu gambar, tema, ide, atau elemen…lalu memunculkan gambar berikutnya, hubungan antar keduanya bukan merupakan logika lurus “sebab-akibat”. Sebaiknya dibuat satu baris bersifat “statis” dan baris yang satunya lagi bersifat “dinamis”.

Prinsipnya, satu line (baris) harus lebih pendek ketimbang line yang satunya lagi. Line yang pendek ini umumnya menunjukkan satu gambar konkrit yang mewakili perasaan terkuat di internal diri haijin. Haiku yang baik, ketika dibaca kita merasakan suatu aliran emosi yang semakin meningkat, kata per kata. Kombinasi lembut dan keras, seperti emosi yang meledak dan reda, atau tenang dan terkejut, dst.

Menjajarkan dua elemen atau gambar konkret secara internal, dimaksudkan untuk memberikan efek resonansi. Kita bayangkan kedua gambar itu sebagai garpu tala, bila satu garpu tala bergetar maka garpu tala yang satunya juga akan bergetar dalam frekwensi yang sama. Pembaca haiku adalah garpu tala ketiga, yang juga akan ikut bergetar dalam frekwensi yang sama, atau kita sebut sebagai fenomena “menjadi harmoni”. Artinya, masing-masing gambar atau elemen konkrit itu memancarkan gelombang pikiran si penyair. Haiku yang baik biasanya muncul dari kehidupan spiritual haijin dan sampai ke kehidupan spiritual pembaca.

Tiap benda, suara, rasa, aroma yang menjadi objek haiku, elemen konkret yang ditunjukkan dalam penjajaran itu, adalah hasil sensor indra manusia. Sebagai sesuatu yang konkret maka elemen-elemen itu terkait dengan ruang dan waktu. Waktu adalah sesuatu yang dinamis, senantiasa berubah. Kita merekamnya melalui objek yang berubah seirama musim atau waktu, baik itu berubah secara kualitas, bentuk, atau warnanya. Sedangkan ruang, untuk momen “saat ini” bersifat statis. Menjajarkan dua elemen bersifat statis vs dinamis adalah prinsip penting toriawase.

Estetika wabi adalah sudut pandang ruang. Ini tentang apa (benda-benda di alam  atau objek), bagaimana (suasana), dan dimana (tempat) elemen itu berada. Sedangkan Sabi adalah dimensi waktu (kapan, atau isyarat musim atau waktu), sesuatu yang terkait dengan fluks kehidupan yang senantiasa berubah dalam irama musim atau waktu. Misalkan, kita sebutkan Cukcoo, jenis burung yang kicauannya menandakan datangnya musim panas (Summer). Maka menyebutkan kemunculan burung dengan kicauannya itu merupakan nilai Sabi, sedangkan alam dan suasana di tempat burung itu muncul dan berkicau mengandung nilai-nilai Wabi. Bisa jadi di dalam satu objek yang menjadi elemen atau gambar konkrit yang ditunjukkan, terkandung keduanya, nilai-nilai Wabi dan Sabi.

Wabi dan Sabi adalah nilai-nilai yang kontras dan perpaduan antar keduanya memunculkan harmoni. Secara teoritis, menempatkan dua hal yang kontras untuk disejajarkan secara internal merupakan cara, trik, atau teknik guna memicu munculnya “getaran” dalam fenomena “tiga garpu tala” yang telah disebutkan di atas, atau fenomena “menjadi harmoni”.

*****

Iklan

BELAJAR DARI BASHO, CARA MENGGUNAKAN KIGO


萎 れ 伏 す や 世 は は さ さ さ ま の 雪 の 竹

layu, sujud
dunia telah terbalik
salju di atas bambu

withered, prostrate
the world has turned upside down
snow on the bamboo

Lewat haiku di atas Basho menggunakan citra musim dingin untuk menyampaikan emosi yang dalam. Hal ini secara luas dikaitkan dengan kematian seorang anak  kecil dari salah satu sahabatnya.

Baris pertama menggabungkan dua kata kerja yang tampak serupa namun memiliki konteks yang sangat berbeda. Kedua kata kerja tersebut menunjukkan “terkulai”, namun ” 伏 す” (fusu) memiliki konotasi yang mengindikasikan “membungkuk” seperti anak kecil kepada orang tua mereka.  Jadi “anak yang dimaksud” sujud, tapi bukan karena dia taat, ia telah meninggal dunia. Terbayang posisi si anak: duduk meringkuk kedinginan dalam posisi seperti orang sedang sujud, meringkuk menahan dingin dan mungkin juga menahan lapar.

Baris kedua adalah ledakan emosional, “dunia telah terbalik” ini seakan-akan Basho mengatakan: ia tak berdaya mengahadapi fluks kehidupan (perubahan cuaca/musim), terbalik seperti puncak gelombang yang terseret oleh pergerakan arus ke lembah, anak yang tadinya lincah tak bisa diam seperti bambu…. tiba-tiba terkulai.

Akhirnya, Bashō menyelesaikan haiku ini  dengan citra elegan. Bambu seperti yang kita ketahui ketika ditiup oleh angin yang sangat kencang sekalipun susah diatur, seperti kelakuan anak-anak yang sedang lincah-lincahnya. “Bambu yang terbebani oleh salju” menjadikannya bambu yang diam,  menandakan hilangnya kelincahan si anak oleh dunia musim dingin yang kejam dan terlalu berat baginya.

Kepiawaian Basho menggunakan citra musim dingin (salju) secara efektif membuat haiku ini sebagai puisi yang fenomenal.  Kita bisa memetik pelajaran bagaimana caranya menulis haiku yang baik, dan bagaimana seharusnya menggunakan citra musim atau waktu untuk menghidupkan sebuah haiku.

DUA TIPIKAL HAIKU


Haiku adalah puisi, menggunakan bahasa sensorik dan sederhana dalam penyampaiannya, menyajikan gambar yang menunjukkan suatu pengalaman, tidak sepenuhnya bersifat abstrak. Sebaiknya menunjukkan minimal dua atau maksimal tiga benda konkret sebagai suatu hasil sensor indra haijin sendiri di suatu tempat, di suatu waktu. Haiku adalah potret adegan, fenomena, atau momen pengalaman dalam setitik waktu.

Ada dua jenis haiku, yakni: Pertama, haiku dengan satu tema atau satu objek yang ditonjolkan. Biasa disebut sebagai “Haiku satu tema”.  Haiku jenis ini biasanya bersifat spontan, sangat kuat mencerminkan kesadaran sekarang.  Biasanya benda atau objek yang menjadi kigo haiku merupakan tokoh sentral dalam puisi.  Namun tidak semuanya begitu. Haiku dapat terpenggal sehingga terjadi jeda nafas sesaat namun jeda yang terjadi tidak menciptakan satu gambar, tidak terpenggal secara tata bahasa dan makna.  Jeda ini tidak dianggap sebagai “Kire” atau memotong puisi, karenanya hanya satu tema atau gambar atau ide yang ditonjolkan.

Kunci menulis haiku jenis ini adalah, haijin harus menggenggam erat-erat objek utama haiku, bahkan kadang mengungkapkannya secara perlahan-lahan di baris pertama dan kedua, hingga akhirnya memuncak di kjalimat baris ketiga. Kalimat baris ketiga menjadi sangat penting, dengan  tempo yang semakin meningkat ketika dibaca maka kalimat  baris ketiga haiku jenis ini merupakan kalimat “pukulan terakhir” atau kalimat “yang paling menendang”, kalimat yang membuat puisi berasa haiku.

Haiku jenis ini sifatnya spontan, idealnya komposisi haiku diselesaikan secepat tebasan pedang. Menciptakan haiku yang sempurna untuk tipe ini dibutuhkan pengalaman dan ketekunan berlatih bertahun-tahun.  Bagi haijin yang telah mencapai tingkat “terampil” dikatakan bahwa“biasanya tidak ada pikiran di awal apakah akan menulis haiku jenis satu tema atau penjajaran.  Semuanya mengalir begitu saja, bagaimana intuisi penyair bekerja. Haiku satu tema umumnya merupakan ungkapan ekspresi emosi yang kuat, fokus pada satu persoalan.  Sepenuhnya dalam kesadaran sekarang.  Kejujuran seorang haijin akan sangat kuat tercermin lewat haiku jenis ini.

Dalam bahasa Jepang, kireji haiku jenis ini letaknya di akhir kalimat baris ketiga. Biasanya berupa kalimat yang menunjukkan suatu benda atau sifat dari suatu benda yang menjadi objek utama haiku. Contoh:

 

di tangkai petai

menghadang dengan garang

semut geranggang!

 

Kedua, jenis haiku yang memiliki dua tema yang disejajarkan secara internal atau biasa disebut sebagai haiku “Toriawase”. Haiku jenis ini terpenggal di akhir kalimat baris pertama atau akhir kalimat baris kedua. Untuk haiku non Jepang, keterpengalan haiku jenis ini ditandai dengan munculnya satu tema yang membentuk gambar tersendiri dalam lima atau dua belas suku kata.

Muncul satu tema, berhenti sejenak atau terjadi jeda yang menyebabkan terjadinya luka atau ruang kosong (Ma). Kemudian dimunculkan satu tema berikutnya yang juga membentuk satu gambar.  Terjadi penjajaran dua tema atau elemen yang berdiri sama tegak, maka lewat penjajaran ini ada bagian puisi yang tak tertulis dimunculkan. Biasanya itu berupa pesan moral atau agama atau renungan atau pemikiran dan filsafat.  Karena itu haiku yang sangat pendek ini mampu menjangkau hal-hal yang lebih lebih luas dari apa yang tertulis dalam teks, mampu membangkitkan emosi terdalam dalam pikiran bawah sadar, menyentuh nilai-nilai universal yang menembus lintas bahasa dan budaya.

Penjajaran dua elemen yang kontras tujuannya untuk  menghasilkan resonansi yang kuat dan dalam, membuatnya bergema dalam pikiran pembaca sehingga haiku jadi gampang diingat dengan sekali baca. Trik sederhana untuk mencapainya adalah dengan cara berlatih memisahkan secara tegas dua elemen yang sama tegak itu kedalam dua baris yang sejajar. Satu elemen menjadi satu baris, dan antar keduanya memiliki rasa persatuan namun tanpa hubungan logis. Haiku yang sangat baik biasanya menghadirkan menjajarakan dua hal yang kontras,  benturan dua elemen yang menghasilkan percikan api yang memicu kontemplasi.

Haiku jenis ini harus cermat mengkombinasikan kata kerja, kata sifat atau kata benda. Merupakan penjajaran statis versus dinamis, maka gunakan kata kerja secara efektif untuk elemen yang bersifat dinamis dan gunakan kata benda atau kata sifat secara efektif untuk elemen yang statis.  Dalam prinsip haiku Jepang, untuk selalu membawa kigo menjadi hidup atau dinamis maka gunakan kata kerja yang seperlunya untuk elemen yang mengandung kigo. Kigo adalah bagian dari “kesadaran sekarang, saat ini”, kesadaran dalam waktu sekarang.

Fungsi kigo adalah bagaimana membawa suasana yang tengah berubah dalam irama waktu atau musim “saat ini” jadi berdenyut dalam puisi. Karena itu kalimat yang dipilih untuk menggambarkan elemen atau tema yang mengandung kigo haruslah betul-betul berdasarkan pengalaman atau hasil sensor indra haijin sendiri di suatu tempat, di suatu waktu.

Dalam haiku jenis Toriawase, pengalaman atau kesadaran “sekarang” dapat memicu munculnya “pengalaman masa lalu” yang masih berkesan di hati atau memunculkan pikiran tentang sesuatu yang akan datang, misalnya haiku tentang menjelang kematian seorang haijin.  Haiku kematian seperti ini biasanya muncul dari kedalaman  spiritual seorang haijin.

Namun secara umum, haiku yang terbaik selalu muncul dari pengalaman spiritual penyair atau haiku yang bersifat kontemplatif. Haijin dapat menjajarkan dua elemen ini: “pengalaman sekarang” dengan “pengalaman masa lalu yang masih berkesan di hati” atau menjajarkannya dengan pikiran intuitifnya tentang “masa yang akan datang”. Umumnya itu merupakan ungkapan ekspresi perasaan yang sugestif atau tidak langsung, eskpresi perasaan yang jelas dan langsung, atau ekspresi yang menyembunyikan emosi kuat.

Haiku sesungguhnya terletak di suatu tempat di luar kata-kata itu sendiri. Hanya kata-kata sempurna yang ditempatkan dengan sempurna memiliki kekuatan untuk mengungkapkan “makna” atau sering dikatakan sebagai “memilki resonansi”. Kata-kata yang sempurna adalah kata-kata yang mampu menggerakkan setidaknya tiga indra manusia: penglihatan, pendengaran, dan penciuman. Apa yang mampu disensor dengan indra penciuman tidak dapat melebihi indra pendengaran. Apa yang disensor dengan indra pendengaran tidak dapat melebihi apa yang dapat ditangkap oleh indra penglihatan. Apa yang dapat ditangkap oleh kelima indra manusia tidak dapat melebihi apa-apa yang ditangkap oleh intuisi penyair.  Intuisi adalah ruh yang menghidupkan kata-kata dalam puisi.

Haiku merupakan wawasan “merasakan ketajaman alami” dalam keindahan bentuk, warna, atau kualitas benda-benda yang tengah berubah di alam.  Kesadaran sekarang muncul diawali dengan bangkitnya emosi karena suatu pengalaman yang disensor oleh indra pendengaran, penglihatan, atau penciuman. Haiku adalah kualitas emosional yang melekat pada objek, manusia, alam, dan seni. Penekanannya dalam “kesadaran sekarang” pada pengalaman emosional langsung, bukan pada pemahaman religius ataupun gagasan dan ide-ide puitis.

Kesadaran sekarang merupakan resonansi “kehidupan sementara”, sesuatu yang tersirat dalam kigo. Kigo merupakan objek sabi mencerminkan fluks universal “datang dari” dan “kembali ke.” Merupakan cermin  ketidakkekalan yang tetap menyenangkan dan provokatif, yang mengarahkan pembaca atau pendengar ke refleksi dan kontemplasi.

___

HARMONI DENGAN ALAM (Kumpulan Puisi Zen Karya Beni Guntarman)


1)

KEKUATAN SEBUAH DOA

Arus berputar

pasang malam meninggi

suara ombak

 

Bila rembulan menutup dirinya dengan tirai

awan kelabu terlihat bersinar keperak-perakan

namun bila  lautan luas kehilangan ombaknya

apakah yang melambungkan doamu ke langit?

 

Dia yang  duduk hening dengan kejernihan hati

melukis sketsa malam yang penuh kehangatan

duduk tanpa pikiran bukan berarti tidak berpikir

seperti tiada jalan  sesungguhnya sebuah jalan

 

Ia yang menghangatkan  jiwanya dengan malam

merasakan energi kehidupan menjalari tubuhnya

namun  mereka yang berkicau mengalahi burung

jalan berputar-putar mencari arah kebenaran

 

Berapa banyak air mata yang jatuh dalam doa

tak akan mengalirkan debu yang melekat di mata

yang membersihkan pikirannya dari prasangka

yang dapat melihat kekuatan sejati sebuah doa

 

2)

BUNGA TANPA NAMA

Aku menemukannya di sebuah pantai

di antara sunyi bebatuan dan rumputan kering

ia begitu mencolok mata karena merahnya

dan melambai dalam hembusan angin senja

 

Tidak setiap  bunga harus memiliki nama

dengan atau tanpa nama ia tetaplah bunga

muncul – mekar dengan sendirinya tanpa diatur

keadaan layu dan gugur pun ia tetaplah bunga

 

Pikiran kadang memaksakan nama untuknya

agar bisa diingat dan mudah dikenang  indahnya

ketika ketiadaan nama adalah kekosongan

apa yang hadir di benakmu saat menatapnya?

 

Tidak setiap bunga harus memiliki nama

yang kita cari dalam hidup ini adalah makna

yang mengisi ruang batin kita dengan rasa cinta

di atas ketidakkekalan dunia dalam segala hal!

 

3)

BAYANGAN DIRI

 

Dengan bayanganku sendiri

Kami hanya saling menatap dalam diam

Tak ada yang berani bicara tentang bulan

Tak ada kopi yang menghangatkan malam

 

Ke manapun aku melangkah

Ia selalu mendahului langkahku

Coba menghentikannya agar tak bergerak

Namun selaksa bayangan muncul di pikiran

 

Menenun waktu bersama bayangan di pikiran

Kukira aku telah mengembara begitu jauh

Namun ternyata ini hanya jalan melingkar

Semuanya kembali ke dalam diri sendiri

 

4)

 

DIALOG DENGAN SEEKOR SEMUT

 

Aku melihatnya dalam suatu perjalanan

Ia menempel di bajuku dan terus terbawa berjalan

Hingga suatu saat aku duduk untuk beristirahat

“Engkau melihatku?” tanya semut hitam itu

 

“Ya,” jawabku sekedarnya

“Bagaimana engkau menilai diriku?” tanyanya lagi

“Engkau makhluk kecil pengganggu hinggap di bajuku”

“Betulkah begitu?” tanyanya dengan nada heran

 

“Engkau salah,” ujarnya , membikinku sedikit kaget

“Kenapa salah, di mana letak salahnya?” tanyaku

“Salahnya,   tentang pikiran besar dan kecil itu.

Padahal besar atau kecil juga makhluk hidup,” ujarnya

 

Dahiku jadi berkerut, berusaha mencerna maksudnya

Ujarnya: “ Hilangkan pikiranmu yang tersekat-sekat.

Tataplah aku sebagai makhluk sebagaimana adanya.

Karena tiap yang tercipta mengambil perannya sendiri.”

 

Kutatap sekeliling, bukit-bukit tak sama tingginya

Rumput dan ranting  tumbuh tak sama panjangnya

Dalam keindahan itu  serangga mengambil perannya

Dengan cara yang belum sepenuhnya kita ketahui

 

5)

MENDAKI SEBUAH GUNUNG

 

Aku mencapai sebuah puncak gunung

Mungkin bagi sebagaian orang tiada artinya

Bagiku ini adalah sebuah anugrah

Sejak lama aku hanya mampu memandangnya

 

Aku mencari jalan yang termudah

Untuk menggapai puncaknya

Namun semua punya tantangan yang berbeda

Kupilih satu jalan dengan sepenuh hatiku

 

Semua dinding adalah terjal

Karena itu kupikirkan cara mendakinya

Selangkah demi selangkah terus mendaki

Jangan tanya tentang beratnya medan

 

Tepat berada di puncaknya yang tertinggi

Betapa rendah lembah yang terhampar

Namun terasa diri tetap berada di bawah

Di atas kepalaku berlapis-lapis langit!

 

6)

TAFAKUR

Dua atau tiga kali melintas

Wajah cantik dan senyumannya

Dalam tafakurku

Namun itu hanyalah bunga kehidupan

Yang tiada kekal sifatnya

Bila ditolak ia semakin menguat

Bila digenggam ia menjadi awan

 

Maka biarkan ia berlalu

Karena setiap yang berawal dari

Pasti akan kembali ke

Bagaikan rangkaian ombak

Semuanya dalam hukum sebab-akibat

Hanya kekosongan yang dapat meredamnya

 

Saat ini aku hanya duduk

Duduk untuk bertamu ke alam semesta

Pikiranku hanya fokus ke tuan rumah

Meski ia hanya sehelai daun kering yang gugur

Ikut merasakan bagaimana yang ia rasakan

Kemarau panjang ini begitu mengenaskan

 

7)

KEBEBASAN DAN KEBENARAN

Kebebasan

Apa arti kebebasan?

Di ujung kebebasan elang yang terbang

Ada kebebasan elang yang lain

Semua ada batasnya

 

Engkau berkata

“Dia lemah, dia tak ubahnya wayang”

Namun seiring waktu engkau terkejut

Lalu engkau teriak:

“Rezim yang sewenang-wenang!”

 

Kebenaran

Apa arti kebenaran?

Cahaya matahari yang menyinari bumi

Ia membedakan gelap dan terang

Dan menyisakan cahaya bulan untuk malammu

 

Engkau mengerti isyarat rembulan?

Sebagai perumpamaan bagi mata yang awas

Bahwa sekecil apa pun bentuk rembulan itu

Ia terlihat jelas oleh mata yang terbuka

Engkau masih menyangkalnya?

 

8)

DI ATAS BATU HITAM

Setiap waktu awan datang dan berlalu

Ia pergi ke segala arah tanpa tujuan

Dan biarkan ia menghilang begitu saja

Terbang melayang sejauh bermil-mil:

Melepaskan beban di pikiran!

 

Seekor ikan bisa berenang melawan arus

Namun tidak membuat lompatan kemajuan

Karena air yang mengalir adalah pikiran

Harmoni dengan alam adalah kehidupan

Dalam keberagam kita adalah satu kesatuan

 

Jika berjalan dengan pikiran terbuka

Maka seribu hal akan datang mendekat

Mereka akan menampakkan siapa jati dirinya

Engkau yang awas akan mampu mengenali

Yang mana layak digenggam dalam pikiran

 

Takdir membentangkan  jalan tak terbatas

Bagi siapa sja yang ingin  menempuhnya

Kehendak bebas adalah pilihan untuk jalan

Sekali kakimu melangkah di atasnya

Maka waktu yang hilang tak akan berulang

 

Apakah seorang yang optimis mengatakan

Bahwa sebuah gelas itu setengahnya penuh?

Tapi fungsi pikiran terletak pada kekosongan

Kekosongan bisa diisi dengan apapun pilihan

Orang optimis hanya melihat apa yang hilang!

 

9)

SEBUAH JALAN TANKA

(Terinspirasi Saigyo Hoshi/1118-1190)

 

Di kesunyian

Mengisi kekosongan

Suara jangkrik

Hangatnya mendebarkan

Membangkit kerinduan

 

Kukira aku berpikir tentang Tao

Yin datang membangkitkan Yang

Namun ternyata keduanya lenyap

Dalam kekosongan tanpa bentuk

Tidak berpikir Zen ataupun Tao

 

Zen adalah Zen, Tao adalah Tao

Satu tujuan namun berbeda jalan

Ketika tiba di kota agung

Aku tiba terlambat dari keduanya

Dengan bunga yang lebih banyak

 

Kecepatan diukur dengan waktu

Kebahagian diukur dengan langkah

Ketenangan diukur dengan keduanya

Pencerahan ada di antara keduanya

Sebuah Tanka mengatasi keduanya

 

10)

DEBU

 

Ini tentang kembali ke fitrah

bahwa sebutir debu yang teramat kecil pun

tak mampu kau perintah

agar ia tetap diam di tempat

atau melayang bersama angin

 

jangan mengunci pintu

pergilah ringan seperti debu

untuk kembali menyatu dengan bumi

seperti bunga ilalang

yang tak berdaya di tangan angin

namun ketika ia jatuh malah tumbuh

menjadi dirinya sendiri

 

11)

MUSIM SELATAN

Aku bertanya kepada ia yang menerangi malam

siapakah yang menggugurkan dedaunan pinus

sehingga hanya menyisakan ranting dan pungguk

tenggelam dalam kesunyian yang penuh bayangan

 

Namun aku tidak menemukan si juru kunci

yang berjaga-jaga di depan pintu jawabannya

hanya diriku, bayang-bayang, dan pohon pinus

saling memandang satu sama lain dengan tanya

 

Aku bertanya kepada ia yang menerangi malam

siapakah yang membangkitkan kerinduan di hati

ketika rasa perpisahan mengalahkan sebuah jarak

ketika rindu menjelma menjadi seekor pungguk

 

Tapi awan terlalu tipis untuk menyembunyikan

kerlip bintang pari yang menunjuk  arah selatan

menunjuk ke arah datangnya angin dari lautan

mengisyaratkan  datangnya musim perpisahan

 

12)

SAAT LILIN MENYALA

ada bayangan

saat lilin menyala

di depan cermin

 

Saat sumbunya dilapisi lilin

maka ia kita sebut sebagai lilin

Saat lilin mulai kita nyalakan

apakah kehidupannya telah dimulai?

Sejak memulai hidupnya dan saat itu pula

ia menuju kematiannya secara bersamaan

 

Kita nyalakan lilin baru saat ia sekarat

sebuah kehidupan baru telah dimulai?

Tapi lilin tidak sama dengan kesadaran kita

ia tidak menyadari kehidupan dan kematian

Namun kita dapat menyimak api cahayanya

mengingatkan pada kesadaran kita sendiri

 

Kesadaran sekarang, saat ini di sini

kesadaran saat datang bertamu ke alam

Merasakan realitas kehidupan di dalamnya

merasakan keheningan kelahiran dan kematian

Sebuah dunia yang lebih hidup muncul saat ini

saat menyadari indahnya sebuah kehidupan

 

13)

SUARA HUJAN

Hujan deras sekali malam ini

Suara hujan memenuhi telinga dan pikiranku

Segenap pikiran tenggelam dalam suara hujan

Kadang ia terdengar berat dan kadang ringan

Perubahannya kadang jelas dan kadang samar

Sampai suara kerasnya berhenti bergema

 

Itu adalah suara yang ditimbulkan oleh hujan

Suara air yang jatuh dari langit dan menerpa bumi

Takdir basah yang menimpa apa saja di bawahnya

Apa yang sebenarnya sedang menyentuh pikiranku?

Itulah ketidakkekalan, itulah kesementaraan

Yang muncul dan memudar secara bersamaan

 

14)

DI SINI DAN SEKARANG

Bagaikan burung mengikuti cahaya
menjalani hidup di sini dan sekarang
sepanjang hari, mengikuti arus waktu
menyambut fajar saat mereka datang

Terbang tanpa memikirkan masa lalu
atau membayangkan masa depan
tiada kecemasan pada kepak sayapnya
terbang tinggi menyentuh awan putih

Dengan atau tanpa memikirkannya
waktu bergulir dan dunia terus berubah
hidup akan menemukan jalannya sendiri
di sini dan sekarang adalah kenyataan

Fokus di sini dan saat ini adalah spontanitas
membuka mata dan pikiran seluas-luasnya
menemukan inspirasi, motivasi, atau momen
hukum sebab-akibat dalam tindakan

15)

KONTEMPLASI

Isilah terus gelasmu, itu akan tumpah

Asahlah terus pisaumu, itu akan tumpul

Namun bagaimana cara menjaga

Agar gelas tetap penuh

Agar pisau tetap tajam tanpa perlu diasah

Itulah tugas akal manusia

 

Mengisi gelas sesuai kapasitasnya

Menggunakan pisau pada tempatnya

Adalah kebijakan dengan akal sehat

Namun untuk memahami apa hikmahnya

Butuh  proses perenungan diri

Untuk memisahkan air dengan lumpur

 

Batam, 16 Juli 2017.

30 TANKA KARYA BENI GUNTARMAN


http://guntarmanbeni.blogspot.co.id/2017/06/30-tanka-karya-beni-guntarman.html

MENULIS TANKA


(Merangkum Beberapa Artikel Sebelumnya)

 

Tanka 短歌” artinya puisi pendek”, berkembang di Jepang sejak abad ketujuh, istilah ini digunakan untuk membedakannya dari Choka 長歌, “Puisi-puisi panjang”. Tanka adalah puisi pendek (nyanyian pendek) tentang alam, musim, cinta, kesedihan, dan emosi yang kuat lainnya.

Tanka adalah puisi tua asal Jepang, mulai muncul dan berkembang sejak pertengan abad ketujuh, dan masih tetap hidup hingga sekarang. Sejak 1300 tahun yang lalu, Tanka tetaplah puisi 31 Onji (suku kata suara), tertuang dalam 5 kelompok suku kata dalam pola 5-7-5-7-7. Sepanjang sejarahnya, hampir tak ada yang berubah dari Tanka kecuali soal di mana letak jeda suara harus dilakukan. Ada periode di mana arus dominan menggunakan jeda 5-7 dan 5-7-7, dan ada juga periode dominan menggunakan jeda 5 dan 7-5 dan 7-7 atau ada juga yang menggunakan pola jeda 5-7 dan 5 dan 7-7 serta berbagai varian lainnya. Arus dominan Tanka saat ini adalah 5-7-5 dan 7-7 suku kata, yang mana pola dominan ini merupakan pengaruh Haiku terhadap perkembangan Tanka. Seperti halnya haiku, tanka adalah seni verbal yang mengedepankan gambar (visual). Dalam bentuk tradisionalnya tanka tidak memiliki rima. Suatu tanka yang baik, lima baris itu biasanya mengalir mulus menuju ke satu pokok pikiran.

Masaoka Shiki menghidupkan kembali istilah tanka pada awal abad kedua puluh, setelah sekitar abad ke-17 mengalami kemunduran, dengan menyatakan bahwa waka (puisi Jepang) harus diperbaharui dan dimodernisasi. Waka pada awalnya merujuk pada Choka, Sedoka, Tanka dan puisi Jepang lainnya. Namun pada akhirnya hanya Tanka yang masih tetap hidup, sehingga istilah Waka sekarang merujuk pada Tanka tradisional, sedangkan istilah tanka digunakan untuk merujuk pada tanka yang telah dimodernisasi.

Tanka adalah puisi dua nada. Dalam aturan tanka modern, Tiga baris pertama yang berpola 5-7-5 disebut frase Kami No Ku ( 上の句) atau frase atas; Dan 7-7 disebut frase Shimo No Ku ( 下の句) atau frase bawah. Pergeseran antar frase dijembatani oleh sebuah poros, yakni baris ketiga, istilah bahasa Jepangnya disebut “Kakekotoba”, atau “Pivot line” dalam bahasa Inggrisnya. Jadi apa pun yang dimunculkan oleh Kajin (penyair tanka) pada frase bawah harus memiliki keterkaitan langsung atau tidak langsung dengan apa yang ditunjukan di baris ketiga.

Frase “Kami No Ku” (5-7-5) menyajikan gambar bersadarkan pengalaman yang didapat dari alam sekitar. Dalam pengertian tanka modern, bagian ini merupakan sketsa atau deskripsi suatu fenomena yang memiliki titimangsa. Bagi yang biasa menulis haiku, frase “Kami No Ku” ini sama halnya dengan haiku, memiliki kigo dan kireji. Haiku adalah haiku, ia puisi genre lain yang berdiri sendiri. Frase “Kami No Ku” adalah haiku yang tertanam dalam tanka, dan ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari frase Shimo No Ku yang berada di bawahnya. Namun bila menulis tanka dalam gaya tradisional (waka) maka aturannya tidaklah seketat tanka modern, namun tetap harus memiliki poros yang fungsinya menghubungkan dua frase.

Frase “Shimo No Ku” (7-7) adalah ungkapan atau ekspresi subjektif Kajin (penyair tanka). Apa pun yang dituangkan dalam frase ini harus terkait, langsung atau tidak langsung, dengan apa yang ditunjukan di baris poros. Frase ini merupakan ungkapan ekspresi emosi manusia secara subjektif, bisa berupa metafora dan bisa juga merupakan ungkapan langsung yang bersifat kontemplatif atau transedental. Kajin harus selalu memastikan bahwa frase ini terkait dengan baris poros, dengan cara menutup baris pertama dan kedua lalu mendapatkan bahwa baris ketiga, keempat, dan kelima membentuk satu pengertian tersendiri.

Setidaknya ada tiga macam estetika sastra yang biasa digunakan dalam tanka Jepang, yakni: Mono No Aware, Wabi-Sabi, dan Yugen. Mono No Aware adalah estetika yang digunakan dalam tanka, sejak awal perkembangannya di pertengahan abad ketujuh. Sedangkan Wabi-Sabi yang merupakan inti seni Zen, digunakan dalam tanka modern. Zen adalah suara haiku dan tanka modern.

Mono No Aware secara harfiah diartikan sebagai “pathos” atau kesadaran, sebagai “empati terhadap sesuatu” atau “kepekaan” terhadap perubahan lingkungan. Merujuk pada kesadaran “ketidakkekalan” namun ada kesedihan lembut di dalamnya. Membedakan dengan “Sabi” bahwa pada estetika Mono No Aware ada kesedihan di dalamnya, sedangkan dalam Sabi, seperti yang dikatakan oleh Matsuo Basho: “Dimana tidak ada Sabi maka disitu ada kesedihan di dalamnya”.

Jadi Sabi tidak mencakup kesedihan, sedangkan Mono No Aware merupakan ekspresi lembut kesedihan atas ketidakkekalan yang terjadi, dan juga merupakan ekspresi kesedihan yang lebih dalam ketika menerima perubahan yang terjadi itu sebagai suatu kenyataan. Sedangkan Sabi menerima perubahan yang terjadi itu sebagai sikap “penghargaan atau menghormati” alam.

Pada masa lalu, Wabi-Sabi yang merupakan ekspresi Zen Buddhisme dianggap sebagai pengaruh luar. Sedangkan Mono No Aware meski istilah ini baru muncul pada periode Edo abad ke-18 oleh Motoori Norinaga dalam kritik sastranya terhadap Novel “The Tale of Genji”, adalah pengaruh Sintoisme yang berakar kuat dalam kebudayaan Jepang sejak ribuan tahun sebelumnya.

Estetika Mono No Aware boleh dikatakan “aslinya hati Jepang”. Namun pada kenyataannya, bahkan hingga sekarang, Wabi-Sabi dan Mono No Aware dan juga Yugen merupakan estetika asli Jepang. Zen yang merupakan perpaduan Buddhisme, Taoisme, dan Sintoisme mampu merangkul, menjaga, dan tetap menghidupkan semua estetika ini sehingga mempengaruhi seni Jepang secara keseluruhan.

Estetika Mono No Aware mendominasi sastra Jepang pada periode Heian (sekitar abad 12 sampai 15), khususnya Tanka yang pada saat itu tengah mengalami perkembangan puncaknya. Ini merupakan ungkapan kejutan yang terukur (ahh ness), diterjemahkan sebagai: “pathos” atau “kesadaran”, “ketajaman”, “perasaan mendalam”, dan juga “Kepekaan”. Mono No Aware adalah “ahh ness” dari segala sesuatu, kehidupan dan juga cinta. Merupakan melankolis subjektif, apresiasi terhadap kecantikan dan keindahan, membangkitkan kesedihan yang lembut saat keindahan yang tak kekal itu berlalu.

Mono No Aware biasa disimbolkan dengan Bunga Sakura. Ini merujuk pada suasana Sakura mulai layu dan gugur. Kecantikan atau keindahannya masih ada namun perlahan memudar, tak seberapa lama lagi akan gugur dan membusuk lalu lenyap menjadi tanah. Momen seperti ini yang diungkapkan sebagai ekspresi estetika Mono No Aware. Bila kita simak puisi Tanka yang berjaya pada periode Heian, hampir semuanya menggunakan estetika ini, melankolis subjektif adalah ciri khas tanka selama berabad-abad. Ada periode dimana tanka yang dianggap sebagai puisi “elit” bangsawan mengalami periode surut, kekacauan dan pergolakan sosial mempengaruhi itu, dan sastra rakyat tumbuh dalam pengaruh kuat estetika Wabi-Sabi.

Pengakuan atas ketidakkekalan dan transiensi kehidupan adalah ajaran sentral Zen Buddhisme. Ketidakkekalan (Mujo) dan Ketidaktahuan (Muga) adalah dua dari tiga kualitas kehidupan, menurut sudut pandang Zen Buddhisme. Di satu sisi manusia cenderung menyangkal hal ini, kejayaan dianggap tidak ada akhirnya, kecantikan atau keindahan atau kekuasaan disikapi sebagai suatu hal yang abadi. Namun pada sisi lain, kenyataan hidup sebagai suatu fenomena secara intrinsik tunduk pada perubahan. Maka muncullah kualitas ketiga, yaitu “Ku” yang berarti ketidakpuasan atau penderitaan. Dalam menengahi situasi inilah maka estetika Wabi-Sabi dan Mono No Aware masuk dan bekerja dalam sastra Jepang.

Dengan suasana hati ini, penerimaan ketidakkekalan dan kesedihan diangkat menjadi sensibilitas estetika Mono No Aware. Kalau Wabi-Sabi arahnya adalah seni untuk spiritual, maka Mono No Aware arahnya adalah seni untuk seni itu sendiri. Ketidakkekalan diterima sebagai sikap menghargai proses alam adalah prinsip Wabi-Sabi. Ketidakkekalan belum sepenuhnya diterima karena masih ada kesedihan adalah prinsip Mono No Aware. Ini semacam duka cita saat kita kehilangan orang atau hal-hal yang sangat berharga bagi hidup kita. Estetika Mono No Aware biasanya muncul dalam puisi atau prosa tentang cinta dan luka. Kerinduan pada orang yang kita cintai di masa lalu, namun karena meninggal atau berpisah sehingga jadi suatu kenangan atau luka, adalah contoh sederhana bagaimana estetika Mono No Aware bekerja dalam suatu puisi atau prosa.

Kesedihan dalam Mono No Aware adalah mendesah, bukan menangis.  Ini adalah tentang sudut tersembunyi dari hal-hal, makna yang lebih dalam, bukan reaksi dangkal yang mungkin kita miliki terhadap sesuatu yang mempengaruhi kita. Peristiwa Mono No Aware tidak sentimental atau simbolik, melainkan perasaan benar yang mengapung dengan tenang melalui pikiran dan tubuh.

Mono No Aware menyiratkan “sensibilitas,” kesadaran dan respons terhadap sesuatu: benda mati atau makhluk hidup, atau respons emosional pada orang lain. Selama bertahun-tahun ini dikenal sebagai kepekaan halus terhadap keindahan yang menyedihkan dan sementara.  Ini adalah tentang perasaan yang Anda miliki saat sesuatu dengan tenang tenggelam ke dalam pikiran Anda.

Menurut tradisi tanka, Fujiwara Teika (1162-1241) dikatakan telah menulis sebuah surat pada tahun 1219 kepada seorang siswa yang tidak disebutkan namanya, di mana dia menyebutkan sepuluh teknik tanka. Ini semacam praktik dan tantangan bagi pelajar sastra pada masa itu. Mereka dihadapkan pada berbagai topik, seperti: salju, kabut, bunga, bulan, kesedihan, atau jurnal perjalanan. Praktik dan tantangan ini memungkinkan penyair untuk mengeksplorasi dan berlatih dengan subjek dan situasi atau emosional yang tepat. Tulisan ini hanya menunjukan beberapa gaya yang paling popular dan banyak digemari oleh berbagai kalangan, dari anak muda hingga generasi tua pecinta puisi tanka. Beberapa gaya tanka itu adalah sebagai berikut:

  1. Tanka Gaya Yuugentei. Tanka gaya ini menyajikan gambar membangkitkan kesepian dan misteri yang dapat dirasakan namun tak sepenuhnya dapat diungkapkan lewat kata-kata .

terkubur daun
tanah kelahiranku
di dalam kebun
pondok beratap rumput
kian rapuh dan miring

  1. Gaya Koto Shikarubeki. Tanka dalam gaya ini bahwa sebuah puisi harus disusun sedemikian rupa sehingga seperti meluncur semulus setetes embun yang mengalir sepanjang lima tingkat daun.

coba menghindar
mencari kedamaian
di desa ini
namun tiap sudutnya
bunga kesayanganmu

  1. Tanka Gaya Urawashiki Tei. Tanka gaya ini ditandai dengan harmoni, keseimbangan, dan keindahan irama.

samar terlihat
pantai pulau Penyegat
dikabut senja
lenyap bersama buih
rindu terbawa kapal

  1. Tanka Gaya Ushintei. Tanka gaya ini menggunakan perasaan yang sangat subjektif di mana perasaan Kajin mencakup citra dan seluruh ungkapan di dalamnya. Hal ini sangat sesuai untuk puisi yang mengekspresikan cinta atau duka cita.

senandung malam
pada senar gitarku
di bara unggun
bayang-bayang wajahmu
melintas dan menjauh

  1. Tanka Gaya Miru tei. Ini adalah gaya yang menekankan deskripsi dan citra visual dan seringkali tidak mengandung pernyataan subjektif atau emotif. Tanka gaya atau teknik ini merupakan lawan semua gaya tanka yang menggunakan ungkapan subjektif yang kuat. Tanka modern atau biasa disebut sebagai gaya Shasei, sumber insiprasinya dari tanka gaya Miru Tei.

saluran air
dari tingginya gunung
gema di sawah
mengusir burung burung
mengisi lumbung padi

  1. Tanka Gaya Hitofushi Aru Tei. Tanka gaya ini menggunakan konsepsi puitis yang tidak biasa atau cenderung mengandung ungkapan yang mengejutkan.

tangisan sesal
menghanyutkan jiwaku
ke masa kini
namun tak menghidupkan
kenangan yang terkubur

Bagi penggemar tanka modern ada baiknya mengenal salah satu Grand Master Tanka Jepang, Saigyo (1118-1190), sosok penyair Tanka yang paling menonjol di zamannya. Saigyo banyak menginspirasi penyair beberapa generasi setelahnya, termasuk Basho yang lahir dekat awal abad 17. Tanka gaya Saigyo adalah penting, karena akar konsep shasei yang digagas oleh Masaoka Shiki sudah ada sejak zaman Matsuo Basho, dan apa yang dikatakan Basho tentang shasei semuanya berpegang pada pemahamannya terhadap pemikiran-pemikiran dan filosofi yang dikembangkan Saigyo dalam tankanya.

Pribadi yang kompleks, dalam usia yang sangat muda (23 tahun) memutuskan untuk menjadi seorang biarawan pertapa. Dalam kehidupan yang terpencil di sebuah gubuk yang sepi, Saigyo mendalami ajaran agamanya dan menulis tanka. Pada zamannya saat itu, menjadi seorang biarawan sekaligus menjadi penyair tanka tergolong langka. Meski banyak dikritik, namun ia bersikukuh bahwa menjadi penyair tanka itu bagian integral dari kehidupannya.

Dengan demikian, seiring kemajuan dalam perjalanan spiritualnya, Saigyo menemukan sebuah kedalaman makna lewat puisinya. Ia menganggap tanka mirip dengan mantra Buddha. Melalui Saigyo sastra inja (pertapa) terangkat ke permukaan, dan memberikan kontribusi besar dalam penggembangan nilai-nilai estetika wabi-sabi yang kini menjadi identitas bangsa Jepang.

Di dalam karyanya, Saigyo banyak menulis tentang kontras dan paradoks, tentang kesenjangan antara realitas dan kenyataan, tentang sikap dan tindakan yang sulit dipahami oleh masyarakat awam yang tenggelam dalam ilusi dunia. Karyanya sarat dengan renungan filosofis yang mendalam, namun ringan sehingga mudah dicerna oleh umum.

Saigyo adalah inspirasi terbesar bagi seorang Matsuo basho, dan Basho banyak menyebutnya dalam Narrow Road to the Deep North atau dalam berbagai jurnal perjalanan lainnya. Sensitivitas yang tajam dengan gerakan di alam yang menjadi ciri khas hokku atau haiku tradisional Jepang, merupakan salah satu pengaruh Saigyo terhadap Basho. Bahkan teknik penulisan gaya lembut yang menjadi ciri khas Basho mirip dengan gaya tanka Saigyo.

Saigyo menggunakan citra konvensional untuk perubahan musim, seperti jangkrik, krisan, pangkas rumput, rawa, burung, dan lainnya. Apa yang membuatnya unik adalah ekspresinya dari emosi yang terkait dengan musim. Saigyo secara terbuka menyatakan kesepian kehidupan pertapa. melankolis yang objektif; datang dari pengamatannya dari siklus alam dan kekacauan politik dan sosial di sekelilingnya. Saigyo, selalu merindukan persahabatan manusia, memaksa dirinya untuk bertahan lama dalam pertapaan.

Tanka gaya Saigyo selalu ditandai dengan wawasan yang tiba-tiba dan tak terduga. Ia mencontohkan sikap Buddha menemukan makna mendalam (pencerahan) dalam satu saat. Saigyo dipengaruhi oleh gaya puisi dari “Kokinshu,” yang berfokus pada satu gambar, diikuti oleh refleksi penyair, dan ditandai dengan penggunakan diksi yang sangat elegan.

Dalam “Sankashu,” gaya Saigyo ini memungkinkan untuk sejumlah gambar dialihkan (run atau cut) guna menyajikan suatu kedalaman makna. Dipengaruhi oleh masa pergolakan, Saigyo tidak terfokus hanya pada mono no aware (kesedihan dari perubahan) tetapi juga pada wabi-sabi (kesepian) dan Kanashi (kesedihan).
Contoh tanka karya Saigyo

abaretaru
kusa no iori ni
moru tsuki o
sode ni utsushite
nagametsuru kana

This leaky, tumbledown
grass hut left an opening for the moon
and I gazed at it
all the while it was mirrored
in a teardrop fallen on my sleeve.
–LaFleur, Awesome Nightfall, 86

ini berlobang
atap rumput pondokku
melihat bulan
semuanya tercermin
air mata di lengan

TIPS MENULIS TANKA

#Tanka 1

Didorong angin
Berarak dan menghilang
Awan yang putih
Tak mungkin menangkapnya
Meski di dalam kolam

Carried by the wind
Appeared and lost from sight
Clumps of the white clouds
It’s impossible to catch him
Even though he was in the pond

#Tanka2

mencari lubang
di puncak matahari
semut berjalan
dengan langkah kecilnya
berjuang untuk hidup

looking for a hole
on the sun’s culmination
black ants are walking
which with its small step
is a struggle for his life

#Tanka3
cahaya fajar
betapa rendah lembah
di puncak bukit
rasa masih di bawah
atasku ada langit

dawn light in the east
how low the valley unfolds
from the top of the hill
i feel still in a low place
above me there is sky

Tiga baris pertama tanka di atas adalah frase Kami No Ku (5-7-5), frase yang dibangun berdasarkan cermatan kita terhadap apa yang terjadi di alam sekitar kita. Dua baris berikutnya adalah frase Shami No Ku (7-7), frase yang dibangun berdasarkan ekspresi penulis terkait dengan fenomena yang ditunjukan dalam frase di atasnya.

Dengan menggenggam erat objek utama frase Kami No Ku, baik visual maupun aura (rasa atau kesan yang tersirat), maka penulis memunculkan frase Shami No Ku sebagai suatu renungan yang bersifat transedental.

Zen adalah suara haiku dan tanka. Kesadaran untuk menjernihkan pikiran dari prasangka, kesombongan, rasa takut dan cemas, dan dari berbagai penyakit hati lainnya adalah tujuan utama menulis haiku dan tanka berdasarkan prinsip-prinsip Zen.

Catatan: Tulisan ini berupaya memberikan gambaran tentang tanka dalam rentang 1300 tahun, dan selama lebih kurang 100 tahun terakhir tanka berubah menjadi lebih modern. Simak baik-baik tulisan di atas agar kita tidak berdebat seperti orang buta menerka bentuk gajah. Dianjurkan untuk mempelajari dengan serius tanka modern, agar jerih payah teman-teman belajar haiku tidak sia-sia.

*******
@CopryrightBeni Guntarman.

Referensi tulisan: Dirangkum dari berbagai sumber.

KONTEMPLASI DAN MOMEN HAIKU (Dalam Perspektif Haiku Zen)


Ini adalah tentang Haiku, puisi mungil yang sarat dengan filosofi dan estetika. Menulis haiku dengan pemahaman atas segenap esensinya, pada intinya belajar untuk “membersihkan pintu persepsi”. Haiku harus muncul dari pikiran terbuka dan tidak terhalang oleh dorongan apapun untuk membuat sesuatu dari kenyataan yang menjadi perhatian penyair.

Momen haiku atau “Saat Haiku”, hanyalah sebuah flash kecil, sebuah realitas yang kemunculannya tidak dikondisikan oleh apapun kecuali oleh tangan kreatif alam yang tak henti bekerja (Zoka). Itu mungkin suatu kejadian kecil yang luput dari perhatian banyak orang. Namun ketika intuisi penyair bekerja, hal yang seperti itu mampu menyuarakan nilai-nilai universal yang mampu dipahami secara umum meski sebelumnya mungkin tak pernah tersimpulkan oleh akal pikiran sadar manusia. Ini hanya sebuah fenomena kecil namun menggemakan gelombang rasa dan aura Keagungan Ilahi, hal yang tak sepenuhnya mampu dicerna oleh kelima indera kita.

“Saat Haiku” adalah fenomena alam dan alami. Mungkin itu hanya tentang daun-daun yang berubah warna atau yang kering berguguran, mungkin itu hanya sekuntum bunga kecil liar di tengah padang rumput, mungkin itu tentang air sungai yang menyusut atau dasar rawa yang mengering dan merekah, atau mungkin suara seekor gagak saat matahari terbenam……Fenomena itu ditangkap oleh penyair, dengan pikiran yang jernih sehingga tercermin darinya fenomena yang terjadi, terekam oleh alam pikiran bawah sadar…dan jiwa spiritual penyair mengolahnya menjadi sebuah puisi pendek yang kita namakan sebagai haiku. Haiku adalah puisi alam yang keluar dari kehidupan spiritual penyair, dan haiku yang baik sampai ke dalam kehidupan spiritual pembacanya. Inilah yang sering kita sebut sebagai PUISI KONTEMPLASI!

Seorang haijin pemula kadang berteriak dengan kerasnya “lihatlah ini momen haiku!”….namun sayang ego subjektifnya, katakanlah itu imajinasi atau ide-de atau teori sastra yang dimilikinya mengaburkan persepsinya tentang objek. Dalam haiku, pikiran adalah cermin, ia hanya memantulkan benda-benda, suasana, dan warna-warni yang ada di sekitarnya.

Kontemplasi dalam haiku, ini bukan tentang “membersih cermin”, melainkan sebuah kesadaran bahwa tiada bayangan yang kekal melekat pada sebuah cermin. Ini hanya tentang sebuah lintasan kehidupan pada setitik ruang dan waktu, sebuah fenomena alam dan alami yang memunculkan dirinya ke dalam sebuah kolam pikiran yang jernih. Hal yang tercerahkan adalah jiwa atau bathiniah kita, bukan hal-hal yang bersifat fisik adanya.

Haiku adalah tentang pengalaman baru yang bersifat mencerahkan (Kensho). Kenshō adalah istilah bahasa Jepang dari tradisi Zen . Ken berarti “melihat,” shō berarti “alam, esensi”. “Melihat esensi diri sejati”. Istilah kenshō sering digunakan secara bergantian dengan satori, yang berasal dari kata kerja satoru dan berarti “pemahaman; pengertian”. Kensho adalah pengalaman yang mencerahkan, pengalaman yang melampaui kualitas baik-buruk, hitam-putih, objek-subjek. Karena itu “Satir” dan yang sejenisnya tidak bisa digolongkan sebagai haiku. Senryu cenderung melihat dari sisi negative atau ketimpangan, ketidaksempurnaan atau ketidakkekalan sebagai bahan sindiran dan sejenisnya.

Kontemplasi adalah bagaimana mencabut akar kebingungan atau kegelisahan dari dalam akal pikiran kita. Imajinasi atau kegelisahan atau khayalan mewujudkan dirinya ke dalam kolam pikiran kita, mempengaruhi cara berfikir dan tindakan kita dalam keseharian, dari waktu ke waktu kita terjebak dalam ilusi kehidupan. Haiku hadir sebagai puisi untuk tujuan spiritual, dengannya kita belajar membersihkan pintu persepsi, untuk menyimak tunjuk dan ajar alam, menjadi harmoni dan selaras dengan alam semesta.

Jadi haiku tidak lebih dari sebuah refleksi, menemukan cermin diri pada musim atau waktu yang berubah. Alam yang ramah menampakan dirinya, memunculkan jiwa seni sejatinya melalui apa yang kita katakan dengan istilah “Zoka”, ia mengungkapkan dirinya kepada kita “ini seperti yang dialami manusia” dalam perspektif “kemanusiaan kita bersama”.

Mereka (alam) menawarkan “hal yang puitis” kepada haijin, untuk melihat sesuatu melalui dirinya, dan persepsi yang jernih memantulkannya ke dalam ruang hati haijin, dan di sana haiku diproses lalu keluar sebagai puisi. Persepsi jernih mampu “menerimanya”, menyerap kemurniannya dalam kualitas: kasih sayang, sukacita, ketenangan, kedamaian, kesunyian, kesederhanaan, dan juga humor yang halus.

Haiku adalah ekspresi yang paling menyeluruh dari sastra Zen. Kekuatan haiku Zen terletak pada perwujudan bentuk dan kekosongan. Haijin mengambil alam sebagai subyek mereka, karena lebih mudah diakses untuk kontemplasi dan juga karena menyadari kekuatan Zoka. Namun ketika alam ternyata berubah menjadi dramatis maka hanya penyair haiku yang terbaik yang bisa mengungkapkan drama dan mempertahankan semangat haiku tanpa terjebak ke dalam melodrama subjektif.

Dalam perspektif Haiku Zen, ada dua kondisi optimum untuk pembuatan haiku: Pertama, memahami “saat haiku” sebagai priming (warna dasar) dan internalisasi bentuk…masuk ke suasana hati dan motif haiku untuk berbagi. Kedua, membuka pikiran kontemplatif sebagai ekspresi kehidupan spiritual penyair. Dua kondisi ini hanya muncul dalam “kesadaran kekosongan”.

Kesadaran kekosongan ini dapat didefinisikan sebagai “Kesedihan atau melankolis yang timbul dari dalam diri penyair, apresiasi empati dari kehidupan fana yang ditunjukan oleh alam”. Mencerminkan kehidupan manusia, sebuah kesadaran atas karya seni yang dimunculkan oleh tangan alam, watak kreatif alam yang tak pernah berhenti berkreasi sepanjang waktu, sepanjang musim.

Basho bilang “Sabi adalah warna dasar (priming) haiku”. Sabi adalah “kesadaran kekosongan”, insubstantiality dan kerentanan fenomena. Kesadaran ini adalah “sikap menerima” yang menemukan sumber inspirasinya dari ajaran agama atau pengalaman hidup, penerimaan dengan kelembutan hati. Ada sebuah getaran halus kerinduan yang tak terlihat ujungnya, aura rasa kesedihan dari sesuatu yang datang dan berlalu seiring laju waktu.

Ini merupakan sebuah kesadaran bahwa hidup ini tidak kekal, tidak sempurna, dan semuanya pada akhirnya akan dibatasi oleh waktu. Sabi adalah jenis emosi murni dan luhur melankolis, bersih dari rasa egois, sikap menerima untuk menghormati apa adanya. Sabi adalah nilai-nilai spiritual yang muncul karena dipicu oleh fenomena di luar diri si penyair. Sedangkan Wabi adalah konstruksi filosofis, ide-de, ajaran agama, atau jalan spiritual yang bersemayam di dalam dada penyair.

*******