MISTERI MUSIM OMBAK UTARA


Lihatlah alur kehidupan ini kawan

langkah-langkah kaki kita menjalani kehidupan

setiap langkah kita

berpijak pada bidang tempat di muka bumi ini

sayap yang tumbuh

yang menandai kemandirian hidup

bukan berarti bisa membuat kita terbang

meraih bintang

 

Lihatlah kemana langkah kaki kita

terayun dan melangkah setiap detik

jalan panjang yang kita tempuh ini

tak membawa kita bertemu ujung bumi

tiba di ujung setiap daratan akhirnya bertemu laut

di mana-mana lautan terhampar luas

kita akan bertemu lautan pada akhirnya

 

Mencari-Nya

membuat kita bagaikan seorang bocah

yang merindukan berenang di pantai

seruan suci dari langit itu menggiring langkah kita

berjalan menuju ke pantai

tempat batas akhir perjalanan hidup ini

hidup akan bertemu laut pada akhirnya

menjadi bocah yang riang berenang

 

laut bergolak

musim ombak utara

penuh misteri

 

******

MENGHADIRKAN KONTEMPLASI DALAM HAIKU


kontemplasi

Tujuan utama menulis haiku adalah berbagi. Berbagi tentang apa? Berbagi tentang sepenggal pengalaman hidup dan bisa juga berbagi persepsi penulis atas pengalamannya itu. Haiku adalah puisi pendek tidak berima (tidak sengaja ditulis untuk berima). Kekuatan haiku bukan pada rima melainkan pada nilai kontemplasinya. Haiku lebih dimaksudkan sebagai potret suatu momen di dalam setitik ruang dan waktu, mencatat esensi dari momen di mana alam terkait dengan kehidupan manusia. Pada tingkat yang lebih dalam lagi, haiku adalah ekspresi hati manusia bagaimana penyair menggambarkan kehidupannya, menyuarakan suara hatinya, dengan menggunakan objek-objek di alam sebagai alat penyampaian maksud dan pesannya.

Haiku mengedepankan “menyajikan gambar hidup” objek-objek alam yang kemunculan atau ketiadaannya terkait dengan perubahan waktu. Secara khusus diarahkan pada fenomena di suatu musim karena tiap-tiap musim berpengaruh luas terhadap perilaku alam, hewan, tumbuhan, dan mempengaruhi aktivitas manusia di wilayah yang relatif luas atau biasa kita pahami sebagai garis iklim. Ada iklim tropis yang hanya memiliki dua musim, ada iklim sub-tropis yang mengenal 4 musim, ada iklim dingin seperti di kutub yang juga mengenal perubahan musim. Tiap-tiap musim memiliki tanda-tanda yang khas, dan sangat mudah mengenalinya lewat cuaca, perilaku hewan atau tumbuhan tertentu, perubahan pada sungai saat musim penghujan atau kemarau, dan juga perilaku kehidupan manusia seperti: aktivitas bercocok tanam di awal hingga musim hujan berlangsung, aktivitas nelayan yang berubah saat musim ombak laut berbahaya bagi nelayan melaut, dan masih banyak lagi perubahan aktivitas manusia yang terkait musim penghujan atau kemarau yang bisa disebutkan.

Haiku memiliki 3 esensi yang harus ada untuk bisa disebut sebagai haiku (standar) Pertama, ditulis menggunakan Pola 5-7-5 suku kata. Jadi 17 suku kata dalam tiga baris. Kedua, Kigo. Haiku dituliskan menggunakan bahasa ekspresi musiman atau mengandung penanda waktu atau musim dalam puisi yang singkat itu. Ketiga, Kireji. Haiku yang ditulis dalam tiga baris itu harus terdiri dari dua bagaian atau terdiri dua gambar untuk diperbandingkan. Artinya haiku yang ditulis tiga baris itu harus ada bagian yang terpenggal atau terputus atau terjadi lompatan agar haiku terdiri dari dua bagian yang terpisah namun dalam satu kesatuan. Ketika telah terpenggal maka pola haiku menjadi seperti berikut: 5 dan 7-5 atau 5-7 dan 5. Masing-masing bagian memiliki satu gambar, penyair mengajak pembaca untuk menghubungkan kedua gambar itu. Pastikan ada dua gambar dalam setiap haiku yang ditulis guna memastikan bahwa ada kireji di dalamnya. Indikator ada tidaknya kireji dalam sebuah ayat haiku adalah ada tidaknya dua gambar yang sejajar dalam haiku!

Apa saja yang sering tertulis dalam haiku yang ditulis oleh seorang master atau grand master haiku? Di dalamnya ada jawaban atas tiga pertanyaan ini: Kapan (where), Apa (what), dan Di Mana (when). Kapan adalah bila momen itu terjadi, menunjukkan waktu atau musim saat adegan terjadi atau saat potret momen itu direkam penyair. Haiku adalah puisi dengan bahasa ekspresi musiman, menyebutkan atau mengisyaratkan waktu atau musim lewat objek hewan atau tumbuhan atau benda-benda alam seperti: bulan, bintang, matahari, sungai menyusut, sungai meluap, dan daun-daun berguguran, jalanan berlumpur, dan seterusnya. Kapan adalah kigo, dan kigo adalah sumsum haiku yang memberi rasa pada daging dan tulang. Kigo adalah elemen penting haiku karena itu harus bermakna atau memberikan makna. Jadi jangan asal ada kigo karena ingin disebut haiku namun lupa menempatkan kigo itu dalam dimensi makna atau pesan yang hendak disampaikan.

“Kapan” tidak dapat terlepas dari “Apa”. Haiku menyajikan drama tunggal yang disampaikan lewat dua gambar. “Apa” adalah objek atau momen atau kejadian, bisa jadi itu: daun gugur, burung terbang, sungai meluap, banjir bandang, rumput memanjang, seekor monyet yang lucu, anak kecil menangis, sosok seorang tukang batu, dan seterusnya. Apa saja bisa menjadi objek haiku. Tidak semua objek dalam drama tunggal itu mengandung penanda waktu seperti: katak, laron sebagai pananda waktu musim penghujan atau jati meranggas dan randu gundul sebagai penanda waktu musim kemarau. Musim, hari, minggu, bulan, tahun, pagi, siang, senja, dan malam adalah waktu. Haijin harus menyebutkan elemen waktu. Hadirkanlah “waktu” kapan momen itu terjadi. Karena tiada kejadian di bawah langit ini yang bisa terlepas dari ruang dan waktu.

Haiku adalah puisi nyata, bukan imajinasi atau khayalan, karena itu tidak boleh meniadakan waktu yang sudah pasti akan terkait tempat. Haiku adalah puisi rasa musiman atau rasa dalam tema waktu. Apa yang kita rasakan saat musim penghujan tidaklah sama dengan apa yang kita rasakan saat musim kemarau. Perasaan kita saat di pagi hari tidaklah sama ketika siang, sore, atau malam hari.  Haiku merekam sesuatu yang berubah di dalam waktu,  mencatat esensi dari momen atau fenomena atau kejadian alami di mana peristiwa alam dan alami itu terkait dengan kehidupan manusia.

Kigo adalah penanda waktu saat momen haiku terjadi. Di dalam kigo ada unsur waktu atau musim, ada tempat, dan ada zoka atau sifat kreatif alam yang selalu berubah. Setiap ayat haiku umumnya memiliki dua objek yang membentuk dua gambar. Kigo kadang merupakan objek utama atau tokoh hero dalam drama tunggal sebuah ayat haiku. Kigo (when/kapan) yang kuat kadang menciptakan satu gambar lalu diperbandingkan dengan what (apa) atau where (di mana atau suatu tempat) yang membentuk satu gambar lain lalu antar kedua gambar itu memiliki keterhubungan yang bersifat kontradiktif, asosiatif, dan persamaan. Membentuk jalinan keterhubungan dua gambar itu diperlukan pemahaman tentang teknik menulis haiku.  Bagaimana teknik menulis haiku sehingga menghasilkan dua gambar yang bersifat kontradiktif maka dibutuhkan sebuah proses pelatihan yang intensif dan terarah. Kenapa haiku tradisional Jepang seperti haiku karya Matsuo Basho  begitu menarik perhatian dunia? Kuncinya menghadirkan dua gambar yang kontradiktif, sehingga menyentuh alam bawah sadar pembaca dan berefek munculnya sebuah perenungan (kontemplasi).

Kigo bisa dituliskan dengan langsung menyebutkan siang, malam, senja, musim penghujan, atau musim kemarau dan bisa diwakilkan lewat objek yang kemunculannya terkait dengan waktu atau musim misal: bulan, kelelawar (lelawa) atau musang atau hewan nocturnal lainnya yang mengisyaratkan waktu malam, dan seterusnya. Kigo hadir guna memberikan makna dan memperkuat pesan yang hendak disampaikan. Disini kenapa dibutuhkan pengalaman langsung atau pengalaman nyata dalam menulis haiku. Karena setiap pengalaman nyata terjadi pada setitik waktu dalam kehidupan kita. Setiap pengalaman nyata itu terjadi di suatu tempat. Jadi bila haijin menulis haiku berdasarkan pengalaman nyata, pengalaman yang langsung dilihat, didengar, dan dirasakannya lalu dituangkan ke dalam pola 5-7-5 maka itulah yang disebut sebagai haiku. Jadikanlah kigo sebagai bagian dari rasa haiku, bagian dari bahasa hati penulis (haijin).

Ungkapkanlah yang apa tengah berkesan di hatimu dengan menulis haiku. Awali apa yang berkesan itu dengan lima (5) suku kata atau dua belas (12) suku kata. Setelah jeda (Ma) lalu lanjutan dengan kata-kata yang berisi dan bermakna. Ungkapkan apa yang berkesan di hati dengan 5 atau 12 suku kata sehingga terbentuk satu gambar lalu munculkan “Apa” atau “Kapan” atau “Di Mana” atau kombinasinya dengan 12 atau 5 suku kata membentuk satu gambar lain, sebagai kelanjutannya. Tidak ada ketentuan tentang Apa, Kapan, dan Di Mana harus diletakkan di baris berapa. Di Mana atau tempat kadang tidak harus disebutkan, selagi pembaca bisa memahaminya atau mengisinya sendiri sesuai dengan pengalamannya maka “Di Mana” atau tempat tidak harus ditulis atau disebutkan.

Gunakanlah bahasa yang sederhana agar haiku mudah dipahami. Haiku ditulis untuk melibatkan pembaca lewat keberadaan Kireji. Karena itu betapa pentingnya menggunakan bahasa yang sederhana agar terjadi komunikasi langsung dengan pembaca. Bahasa yang sederhana juga dapat menghasilkan gambar yang jernih yang bisa ditangkap pembaca melalui inderanya. Tidak semuanya bisa disampaikan lewat 17 silabel itu. Kelebihan haiku bahwa 17 silabel itu cuma bahasa verbal, lewat dua gambar itu dan keterhubungan keduanya maka hadir pula bahasa batin (non verbal) yang tidak termanifestasikan lewat kata-kata namun dapat dirasakan kehadirannya.

Karena itu haiku adalah puisi yang bernilai kontemplatif, tidak hanya mengandalkan bahasa verbal. Hanya penjajaran dua gambar yang bersifat kontradiktif yang memiliki efek  kontemplatif yang kuat bagi pembacanya. Untuk bisa sampai ke sana, haijin harus mengetahui apa itu yang dimaksudkan sebagai estetika wabi, sabi, wabi dan sabi. Penjajaran dua gambar yang bersifat kontradiktif yang berefek kuat menghadirkan kontemplasi atau perenungan bagi pembaca hanya bisa berhasil bila telah memahami perbedaan watak antara nilai-nilai sabi dan nilai-nilai wabi.

Kesimpulan:

  • Tulislah pengalaman yang berkesan dihati dalam 17 suku kata atau silabel dalam tiga baris dengan pola 5-7-5
  • Temukan dua objek penting dalam pengalaman itu guna diperbandingkan. Dua objek itu ada pada dua dari tiga jawaban atas pertanyaan ini: When (kapan), What (apa), dan Where (di mana). Usahakan dua objek penting itu masing-masing membentuk satu gambar guna diperbandingkan. Lewat perbandingan dua gambar itu penulis dan pembaca terhubung
  • Harus ada objek utama dalam sebuah haiku. Objek utama itu adalah tokoh hero dalam drama tunggal yang disajikan. Usahakan Kigo atau jawaban atas pertanyaan “When” berupa sebuah objek yang keberadaannya terkait dengan waktu atau musim. Haiku adalah proses atau dinamika objek utama, tekankan pada “What” atau pada apa yang terjadi dengan objek utama itu misalkan: katak melompat, ayam berkokok di gelap subuh, daun ketapang berguguran, dan seterusnya
  • Haiku yang 17 silabel dalam tiga baris itu harus terdiri dari dua bagian yang terpisahkan oleh jeda sintaksis. Inilah pengertian Kireji, haiku terpenggal oleh jeda. Dalam Haiku Jepang kireji itu berupa tanda penggal yang dihitung sebagai suku kata. Sebaiknya tidak menggunakan tanda penggal, sebagai gantinya bahwa di akhir jeda sintaksis dimunculkan lagi sebuah gambar. Jadi harus ada dua gambar yang sejajar. Sebuah haiku dikatakan ada kirejinya bila ada dua gambar yang sejajar dalam haiku itu.
  • Upayakan menghadirkan dua gambar yang sejajar yang bersifat kontradiktif. Misalkan gambar ketenangan kolam tua disejajarkan dengan suara air katak melompat. Perbandingan yang kontradiktif memiliki efek kontemplasi yang kuat bagi pembaca. Kelebihan haiku dari genre puisi lainnya bahwa 17 silabel yang tertulis itu cuma bahasa verbal. Namun lewat penjajaran dua gambar itu dan keterhubungan keduanya maka hadir pula bahasa batin (non verbal) yang tidak termanifestasikan lewat kata-kata namun dapat dirasakan kehadirannya. Seperti fenomena gunung di atas laut, yang 17 silabel adalah puncak gunung yang terlihat sedangkan bahasa non verbal itu merupakan bagian terbesar dari gunung yang tersembunyi di bawah laut. Di sana ada nilai-nilai kehidupan yang bersifat universal, esensi kehidupan manusia di dalam suatu budaya, dan juga nila-nilai pencerahan.

******

Menafsirkan Simbol Sarung sebagai Pesan Jokowi


https://seword.com/media/menafsirkan-simbol-sarung-sebagai-pesan-jokowi/

Jokowi Presiden nyentrik dan ndeso, teriak seorang teman. Setelah menggunakan bahasa simbol jaket dan payung, kali ini Jokowi menggunakan sarung sebagai bahasa simbolnya. Tak biasanya seorang Presiden Indonesia naik-turun pesawat kepresidenan  menggunakan sarung. Biasanya Presiden RI terlihat menggunakan pakaian resmi, setelan jas dan celana, kemeja, dasi, dan sepatu pantofel. Namun Jokowi melakukannya pada Minggu (8/1/2017), menggunakan sarung warna merah koral dengan atasan jas dan kemeja putih, menutupi kepalanya dengan peci dan beralas kaki sandal.

PADA SEBUAH PERJALANAN


_____karya beni guntarman

 

aku tidak tahu

dari dan akan ke mana perjalanan ini

kakiku melangkah tak bermata di atasnya

jiwaku tengah terhanyut di sungai waktu

 

sekedar mengikuti perjalanan arusnya

menelusuri liku-liku alur sungai yang tenang ini

cahaya pagi menerobos celah-celah dedaunan

jatuh menimpa airnya yang bening kecoklatan

 

nyanyian burung pada pepohonan di kedua sisinya

sisi gelap-terang permukaan sungai saling berpadu

dengan hijau dedaunan muda dalam sorot cahaya

sejuk, damai, dan tenang mengaliri sekujur tubuhku

 

rindu menyelinap dari balik sunyi yang menderas

lewat cahaya yang jatuh tepat ke pelupuk mataku

seperti hangat mentari yang mengusir kabut tipis

kulihat engkau menduduki segenap ruang hatiku

 

bangun bangunlah

bunga bunga di sana

o kupu kupu

 

___Batam, 21 Desember 2016.

SEBUAH KEBENARAN


__________beni guntarman

 

Bila kebenaran diumpamakan sebagai rumput

Maka ia dapat tumbuh berakar di mana saja

Meski tangan kebajikan tak menyentuhnya

 

Bila kebenaran adalah hujan yang tercurah

Maka bumi tak akan pernah jenuh menyerapnya

Dalam lingkupnya berjuta kehidupan berkembang

 

Bila kebenaran adalah suara gemuruh

Maka ia memastikan bahwa hujan pasti terjadi

Meski mulut pawang hujan berbuih menolaknya

 

gagak berkoak

mendung hitam menggumpal

dihembus angin

 

_______Batam, 20 Desember 2016.

MENGADU KEPADAMU, IBU


________beni guntarman

 

masih berkibar

gorden jahitan ibu

akhir desember

 

mengadu kepadamu, ibu

lewat jendela hari yang berputar ke masa silam

betapa waktu telah melaju sedemikian pesatnya

burung garuda pun bingung mencari di mana rumahnya

 

lalu kutatap pemandangan luas di luar sana

bukit separuh gundul masih menyisakan kehijauan

pada hamparan tanah merah bercampur bauksit itu

beton-beton bertumbuh layaknya pepohonan

di sisinya, sebuah danau kecil airnya tampak menghitam

 

dulu, sering kudengar indahnya kicauan burung itu di sini

tentang kemerdekaan hidup bagi segenap anak negri

di luar kungkungan sangkar emas kemajuan pembangunan

paruhnya yang gagah itu menatap lantang ke langit biru

kemerduannya melingkupi untaian zamrud di khatulistiwa

 

tapi itu dulu, sekarang kutatap lagi bola mentari di pagi ini

betapa garangnya ia menatapku, seperti kemarahanmu, ibu

dan sungai-sungai pun kini bebas meluapkan amarahnya

meski itu tentang butanya mata hati peradaban timur

tetang matinya cahaya rembulan di dalam dada paku bumi

 

mengadu kepadamu, ibu

lewat jendela yang terbuka lebar di masa kini

mentari yang dulu merupakan perwujudan rasa kasihmu

karena gerhana fajar yang sangat kabur batas-batasnya

maka kini ia berubah menjadi seperti separuh rembulan

mungkin hatinya telah remuk diracuni  oleh kemunafikan

namun ia tetap menggantung di batas timur dan barat

tetap dalam nada kebangsaan seperti dulu yang kau ajarkan

meski tatapanya  kini

membelakangi kepala garuda yang selalu menoleh ke kanan

 

____Batam, 21 Desember 2016