TEKNIK KIRE HAIKU


(Wawasan Haiku Bagi Pemula)
Haiku adalah bentuk sastra berdasarkan pemotongan. Sedangkan istilah “kire” digunakan untuk merujuk pada “tindakan memotong kalimat secara tatabahasa dan makna” yang sengaja dilakukan oleh haijin. Pertanyaannya, apa tujuan tindakan memotong kalimat secara tatabahasa dan makna? Jawabnya: Teknik pemotongan tujuannya adalah untuk “memotong adegan, ide, atau alur pikiran untuk menciptakan jeda yang memunculkan makna, isi, atau irama sehingga membuat puisi tidak datar”.

Haiku adalah puisi yang terpotong secara tatabahasa dan makna, puisi yang berawal dari keheningan dan berakhir dengan keheningan. Artinya: setiap haiku telah memiliki potongan yang tidak terlihat di awal dan akhir. Tindakan memotong setelah 5 suku kata pertama (kire di akhir kalimat baris pertama) atau setelah 12 suku kata pertama (kire di akhir kalimat baris kedua) memberikan tambahan satu, sehingga ada tiga kire yang tidak terlihat dan yang terlihat dalam satu ayat haiku penjajaran atau haiku toriawase. Esensi terpotong di awal dan akhir, mengangkat kalimat prosa biasa keluar dari normal dan membawa haiku ke ranah puisi. Dengan demikian satu ayat haiku bersifat mandiri, tidak berangkai dengan apa pun yang mendahuluinya – karena itu haiku tidak berjudul – dan tidak pula berangkai dengan ayat haiku berikutnya. Karena itu pula secara prinsip bahwa penulisan haiku tidak perlu diawali dengan huruf besar dan tidak perlu ada tanda titik di akhir ayat.

Kire di tengah ayat (kire setelah baris pertama, setelah 5 suku kata) atau setelah baris kedua (setelah 12 suku kata dari awal) juga dimaksudkan untuk menambah kedalaman perasaan penulis dalam haiku atau berbicara untuk kata-kata yang dihilangkan. Sedangkan kire di akhir ayat (jeda setelah 17 suku kata) dimaksudkan untuk memberikan jeda berefek gema. Sifatnya bisa jadi memberikan jeda “reflektif” atau perenungan atau bersifat menghadirkan “kejutan” di akhir ayat.

Jadi kita bisa melakukan tindakan kire atau tindakan memotong kalimat secara tatabahasa dan makna setelah 5 atau 12 suku kata pertama atau sama sekali tidak melakukan tindakan memotong di tengah hingga selesai 17 suku kata. Bila kita melakukan tindak memotong kalimat secara tatabahasa dan makna setelah 5 atau 12 suku kata pertama maka haiku dengan gaya ini disebut sebagai “haiku toriawase nibutsu shoogeki” atau biasa disebut sebagai haiku penjajaran dua tema atau dua gambar yang sama tegak secara internal. Ini adalah tindakan haijin memotong kalimat secara tatabahasa dan makna untuk memunculkan adanya dua tema atau gambar atau elemen yang sejajar dan sama tegak dalam satu ayat haiku dalam rangka memunculkan Ma di tengah ayat. Kire untuk toriawase nibutsu shoogeki biasanya melayani tiga fungsi: penekanan, memotong, dan menciptakan Ma.

Tindakan memotong kalimat di tengah ayat dimaksudkan untuk menambah kedalaman perasaan penulis dalam haiku atau berbicara untuk kata-kata yang dihilangkan dalam rangka mengisi Ma atau mengisi kekosongan dengan cara mengeksplorasi hubungan dua elemen atau gambar yang sama tegak. Tindakan omissions yang diperhitungkan dengan  baik dalam konteks “menjaga jarak” hubungan “dua elemen atau gambar yang sejajar” bertujuan untuk memunculkan pesan-pesan tersirat (yo-in) atau berbicara untuk kata-kata yang dihilangkan itu . Isi Ma umumnya kokoro dan omoi’ Kokoro ekspresi sesaat yang dapat berubah sesuai dengan situasi, kondisi, dan suasana momen haiku yang dijumpai. Sedangkan omoi sifatnya stabil dan tidak berubah akibat pengaruh momen sesaat, mencerminkan tingkat kecerdasan emosional spiritual yang seorang haijin. Silakan simak contoh haiku berikut ini:

sungai meluap
kelapa tua hanyut
membawa semut

Haiku di atas terpenggal di akhir kalimat baris pertama. Kenapa demikian? Kalimat “sungai meluap”, secara tatabahasa kita harus berhenti sejenak ketika membacanya karena kalimat baris kedua bukan merupakan kelanjutan kalimat baris pertama. Secara semantik, kalimat sungai meluap memiliki makna: menunjuk pada fenomena air sungai jadi meluap karena menampung curah hujan yang besar. Kigo haiku berada dalam frasa kata ini, kalimat “sungai meluap” merujuk pada fenomena alam yang umumnya menggambarkan suasana musim penghujan. Keterpenggalan ini membuat haiku dapat kita sejajarkan dalam dua baris:

L1: sungai meluap
L2: kelapa tua hanyut membawa semut

Demikian pula bila kita ingin memenggal kalimat secara tatabahasa dan makna setelah 12 suku kata pertama. Bila kita ingin memenggal kalimat setelah baris pertama maka buatlah kalimat baris kedua lebih dekat atau terhubung langsung dengan kalimat baris ketiga (lihat contoh haiku di atas). Bila kita ingin memenggal kalimat secara tatabahasa dan makna setelah 12 suku kata pertama atau setelah kalimat baris kedua maka buatlah kalimat baris pertama dan baris kedua menjadi lebih dekat sehingga membuntuk formasi 12 dan 5 suku kata. Silakan simak contoh haikunya berikut ini:

seluas pandang
lalang terkulai layu
mencari air

Secara tatabahasa dan makna, haiku terpenggal di akhir kalimat baris kedua. Kita lihat penjajarannya dalam dua baris:

L1: seluas pandang lalang terkulai layu
L2: mencari air

Objek haiku, secara teoritis maksimal ada tiga objek dan minimal harus ada satu objek haiku. Setiap haiku yang memiliki dua atau tiga objek lalu membentuk dua tema atau gambar yang berbeda maka disebut haiku toriawase atau haiku penjajaran. Haiku toriawase ada dua macam yakni: 1) Terpenggal secara tatabahasa dan makna di tengah ayat (lihat dua contoh di atas) disebut sebagai “toriawase nibutsu shoogeki” 2) Meskipun memiliki dua atau tiga objek di dalamnya namun tidak terpenggal secara tatabahasa di tengah ayat maka disebut sebagai “toriawase torihayashi”. Lihat contoh haikunya berikut ini:

satu melayang
terbawa hujan angin
kamboja merah

Ada dua jenis kire yang perlu diketahui, yakni kire semantik (memotong secara makna), dan kire sintaksis (memotong secara tatabahasa).  Kire semantik muncul sebagai konsekwensi adanya dua atau tiga objek dalam satu ayat haiku. Sifat kire semantik “tidak memotong” tetapi memunculkan gambar, suasana, atau citraan baru di tengah ayat yang menambah keluasan imajinasi ayat haiku. Sedangkan kire sintaksis sifatnya “memenggal kalimat” secara tatabahasa sehingga menciptakan luka atau rongga atau kekosongan sesaat atau Ma dengan tujuan untuk memunculkan jeda yang diikuti perenungan sesaat atas frasa kata sebelum kire. Setiap kire sintaksis harus diikuti oleh kire semantik karena setiap kalimat yang terpenggal secara tatabahasa haruslah bermakna.

Kita simak contoh haiku torihayashi di atas bahwa ada penjajaran internal antara dua objek yakni: objek “hujan angin” dan objek “kamboja merah”.  Keberadaan objek “hujan angin” di baris kedua membuat teks terpenggal secara semantik (makna) namun tidak terpenggal secara tatabahasa hingga 17 suku kata. Artinya bahwa kire haiku di atas berada di akhir kalimat baris ketiga. Tetap ada Ma dalam haiku tipe seperti ini, tindakan kire di akhir ayat tujuannya untuk menciptakan jeda bergema yang memiliki efek reflektif bagi pembaca atau memberikan semacam kejutan yang tak terduga dengan kalimat baris ketiga. Membawa pembaca untuk tetap menghubungkan kembali kalimat baris ketiga dengan baris pertama dan kedua sehingga haiku membentuk pola melingkar (enso). Secara teknis haijin harus teliti dalam milih kata dan membuat kalimat baris ketiga tetap terhubung secara tatabahasa dengan kalimat baris pertama dan kedua, dan demikian juga kalimat baris pertama tetap terhubung dengan baris kedua, dan baris kedua tetap terhubung secara tatabahasa dengan baris ketiga . Haiku harus bulat untuk tipe haiku yang memiliki kire di akhir kalimat baris ketiga.

Haiku yang hanya memiliki satu objek atau satu tema maka disebut sebagai haiku ichibutsu jitate. Tipe haiku ini teknis penulisannya sama dengan teknis penulisan haiku toriawase torihayashi. Pembeda keduanya adalah bahwa kalau torihayashi objeknya lebih dari satu sedangkan haiku ichibutsu jitate objeknya hanya satu. Konsekweinsi objek lebih dari satu, haiku torihayashi terpenggal secara makna namun tidak terpenggal secara tatabahasa di tengah ayat, sedangkan ichibutsu jitate tidak terpenggal secara tatabahasa dan makna di tengah ayat. Silakan simak haiku ichibutsu jitate berikut ini:

dari selatan
sepanjang hari ombak
mengalun lembut

Objek haiku di atas hanya satu, yakni: “ombak”. Kire di akhir kalimat ketiga bertujuan memberikan jeda reflektif disebabkan “perenungan” ombak. Kire di akhir kalimat baris ketiga juga bisa dimaksudkan untuk menghadirkan “kejutan atau memunculkan hal yang tak terduga”. Contohnya seperti ini:

mengalun lembut
teratur tak terputus
ombak selatan

Frasa kata “ombak selatan” adalah kigo haiku, merujuk suasana musim kemarau, suasana dimana para nelayan merasa aman dari ombak besar untuk mencari ikan di laut.

Kesimpulan:

Kalau dalam haiku ichibutsujitate atau toriawase torihayashi kita harus menempatkan kalimat terpenting di baris ketiga (karena adanya kire setelah kalimat baris ketiga)..maka dalam haiku toriawase nibutsushoogeki kalimat terpenting itu kita letakkan di L1 (karena adanya kire setelah 5 atau 12 suku kata). Kenapa? Karena makna kalimat penting itu harus bergema di Ma!

Penjajaran L1 dan L2, biasanya satu bagian didasarkan pada pengalaman aktual yang dimiliki pada momen spesial dan yang kedua adalah ide atau pemikiran yang terinspirasi oleh pengalaman ini. L1 yang baik sifatnya “objek atau sesuatu yang masih atau tengah ada di hati dan pikiran penyair, sedangkan bagian lain dari penjajaran yang membuat dia sepenuhnya sadar bahwa ini terjadi SEKARANG”. Dua elemen penjajaran (L1 dan L2) yang baik mungkin tampak tidak berhubungan pada pandangan pertama, tetapi jika pembaca cukup jeli, dia mungkin akan melihat gema.

@WawasanHaikuByBeniGuntarman

 

Iklan

ESENSI TANKA


Tanka 短歌 ” artinya puisi pendek”, berkembang di Jepang sejak abad ketujuh, istilah ini digunakan untuk membedakannya dari Choka 長歌, “puisi-puisi panjang”. Tanka adalah puisi pendek (nyanyian pendek) tentang alam, musim, cinta, kesedihan, dan emosi yang kuat lainnya.

Hampir tidak ada yang berubah dari tanka sepanjang 1300 tahun usianya, bentuknya tetap lima baris 5-7-5-7-7 total 31 onji (suku kata), kecuali di mana letak harus terjadi jeda (kire). Pada abad 12 Tanka Jepang menemukan bentuknya sebagai “puisi dua frase” berdasarkan kecenderungan terkuat tanka Jepang sejak abad ketujuh hingga abad dua belas.

Suku kata baris tanka terdiri 5 atau 7 onji atau suku kata, setiap suku kata dihitung sebagai satu ketukan, sehingga ada istilah “setelah ketukan 5 atau setelah ketukan 7”. Tanka sebelum abad 12, sebagaimana yang terbaca di antologi kekaisaran Jepang “Manyoshu” yang terbit pada abad 9, letak kire tanka umumnya terjadi setelah ketukan 7 dan poros pergeseran frase (pivot) umumnya terjadi di baris kedua. Sehingga kemungkinan variasi pola jedanya adalah 5-7, 5-7-7 (satu kire) atau 5-7, 5-7, dan 7 suku kata (dua kire). Pada abad 12 letak kire tanka terjadi setelah ketukan 5 suku kata dan poros pergeseran frase (pivot) umumnya terjadi di baris ketiga, dan kemungkinan variasi pola jedanya adalah 5-7-5 dan 7-7 (satu kire) atau 5, 7-5, dan 7-7 (dua kire). Ketika Masaoka Shiki mereformasi waka (nama lain tanka) pada awal abad 19, terkait pula kemunculan genre Haiku, maka bentuk standar tanka Jepang adalah pola 5-7-5 dan 7-7 (satu kire) dengan poros pergeseran frase atau pivot terletak di baris ketiga.

Sama halnya dengan haiku, tanka adalah seni verbal yang mengedepankan gambar (visual). Dalam bentuk tradisionalnya tanka tidak memiliki rima; karena kekuatan puitis tanka bukan pada suara (rima) tapi pada gambar hasil tangkapan indera manusia (visual atau aural, dan seterusnya ) yang ditunjukkannya, sehingga puisi harus memiliki aspek konkret atau harus berdasarkan pengalaman. Hasil tangkapan kerja indera manusia harus berdasarkan pengalaman yang dilihat, didengar, dirasa, diraba, atau dikecap oleh manusia.

Tiga baris pertama Tanka (5-7-5) disebut “frase Kami no ku atau frase atas” ( 上の句) dan dua baris berikutnya (7-7) disebut frase Shimo no ku atau frase bawah (下の句). Frase atas biasanya menyajikan gambar, hasil sensor indera terhadap alam sekitar. Sisa dua baris berikutnya (frase shimo no ku) bergeser fokus ke ide terkait, memberikan lebih banyak ruang untuk membangun citraan yang kuat luas dan dalam dengan 31 suku kata. Namun bila kita mengikuti tanka abad 12 bahwa frase atas (kami no ku) tidak harus menyajikan gambar hasil sensor indera manusia yang disajikan dalam bahasa objektif. Sangat banyak ditemukan dalam antologi kokinshu bahwa pola 5-7-5 (frase kami no ku) justru merupan ekspresi subjektif dan frase 7-7 (frase shimo no ku) merupakan eskpresi objektif hasil sensor indera manusia. Hal ini pembeda tanka abad 12 dengan tanka abad 19 (setelah reformasi waka oleh Masaoka Shiki).

Baris ketiga tanka dua frase disebut sebagai kakekotoba atau pivot. Kakekotoba ( 掛 詞 ) atau pivot atau kata jembatan atau kata poros adalah alat retoris (cara ekspresi) yang digunakan dalam tanka (waka) tradisional Jepang. Ini digunakan ketika kita ingin mengatakan dua hal berbeda dalam satu kata, mengaitkan dua konteks yang berbeda dengan korespondensi satu arti untuk setiap konteks. Fungsi dari kata pivot adalah untuk mengikat dua gambar berbeda yang memungkinkan sistem puitis melompat dari satu makna ke makna lain. Tujuannya untuk membangun hubungan dua frase dan menjaga kontinuitas tanka dari baris pertama hingga baris kelima. Kita dapat menunjukkan gambar atau objek yang berbeda antara frase Kami no ku (5-7-5) dan frase Shimo no ku (7-7). Namun kontinuitas tanka tetap terjaga dengan adanya kata poros (pivot).  Bisa dilihat dari contoh Tanka Saigyo yang saya terjemahkan berikut ini:

atap pondokku
ini bobrok dan bolong
terlihat bulan
segalanya tercermin
air mata di lengan

Pada lobang di atapnya yang bolong “terlihat bulan” (makna sesungguhnya). Baris pivot “terlihat bulan” jadi memiliki makna baru ketika muncul kalimat “segalanya tercermin”. Dalam puisi Jepang klasik kalimat “terlihat bulan” makna kiasnya adalah “aib atau kekurangan diri yang tersingkap”. “Tiba-tiba terlihat aib diri, segalanya tercermin (terlihat jelas dengan mata batin)….air mata menetes jatuh di lenganku”!

Kata Pivot pertama kali ditemukan di naskah paling awal yang masih ada di mana puisi puitis disimpan dalam bentuk tertulis. Contoh paling awal adalah dari periode Nara (710 – 794 M). Asalnya dari teknik ini tidak jelas, namun kemungkinan itu sudah umum digunakan dalam periode sebelum menulis diperkenalkan, sebagai bagian dari tradisi puisi tanka. Ini adalah teknik yang dirancang untuk memperkaya cara menyampaikan puisi dalam ruang terbatas. Pola umumnya adalah sebagai berikut: “Menggunakan konteks kalimat sebelum kakekotoba dan setelah itu menciptakan makna baru”.

Kakekotoba bersifat ambigu (memiliki makna ganda), diterjemahkan menjadi dua makna yang berbeda dengan sendirinya. Karena itu dapat diterjemahkan dengan arti yang berbeda, terjemahan kakekotoba terkadang dapat menjadi tidak bermakna oleh mereka sendiri, dan membutuhkan konteks untuk memunculkan maknanya, yang tidak dianggap sebagai masalah dalam periode Heian. Bila dikaitkan dengan dua baris yang mendahuluinya kakekotoba memiliki satu makna dan bila dikaitkan dengan dua baris bawah (baris keempat dan kelima) yang mengikutinya maka kakekotoba memiliki makna berbeda. Secara singkatnya, kakekotoba atau pivot adalah penggunaan kata-kata yang memiliki makna ganda.

Hal yang paling umum, yang menghubungkan puisi Jepang abad 10 hingga abad 16 adalah ekspresi puitis dalam tema musim yang kemudian hari itu disebut kigo. Sehingga ketika Matsuo Basho (1644 -1694) mengatakan kigo sebagai “benang merah yang menghubungkan semangat puisi ratusan generasi penyair Jepang” maka pernyataan Basho itu menempatkan kigo sebagai esensi untuk puisi pendek dalam pola tuang 5-7-5. Pernyataan Basho itu lebih banyak didasarkan keterhubungannya dengan Saigyo Hoshi (1118 – 1190) salah satu dari empat Grandmaster Tanka Jepang, sebagai guru dan murid. Basho secara tegas menyatakan bahwa ia belajar puisi dari Saigyo. Kigo telah menjadi elemen penting tanka sejak abad 10, namun menjadi “esensi tanka” ketika Shiki mereformasi Waka Jepang pada awal abad 19.

Secara tegas bisa disimpulkan bahwa ada empat esensi tanka sejak abad 19 yakni: Pola tuang 5-7-5-7-7, Kire, Pivot, dan Kigo. Formulasi dengan empat esensi saat ini merupakan bentuk standar tanka yang berlaku secara internasional. Dengan empat esensi (pola tuang, kigo, kire, dan pivot) tanka non Jepang diharapkan dapat mendekati efek tanka Jepang klasik mau pun modern.

*******

 

AKU ADA KARENA ENGKAU ADA


tiada lelah bagiku, telah dan akan

terus kudengarkan keluh kesahmu

biarkan beban di hatimu tertumpah

biarkan cerita hidup mengalir deras

 

memang tidaklah mudah bagimu

menempuh jalan terjal kehidupan

namun coba tengoklah ke belakang

langkahmu semakin jauh ke puncak

 

aku ada untuk menguatkan hatimu

engkau pun ada untuk mendorongku

biarlah arus mengalir begini adanya

ikuti saja ke mana alur cinta mengalir

 

tiada lelah bagiku, telah dan akan

terus menyapamu dalam suka – duka

menatap wajahmu dari hari ke hari

memastikan matahari tetap bersinar

 

*****

Batam, 16 September 2018.

 

HAIKU dan TEATER NOH


WawasanHaiku

Menangkap momen haiku, si AKU undur diri ke belakang, biarkan objek berbicara sendiri langsung ke pembaca. Haijin hanya bertindak selaku perantara yang menghubungkan objek dengan pembaca.  Teater NOH, teater tradisional Jepang, adalah contoh bagaimana prinsip-prinsip haiku diterapkan dalam seni drama. Posisi haijin menjalankan peran waki dalam seni drama Noh.  Kebanyakan drama noh dikategorikan sebagai mugenno , di mana karakter utama bukanlah manusia yang hidup tetapi sosok dunia lain yang menceritakan kisah dari masa lalu. Ini adalah bentuk mugenno yang memberi Noh kualitas khasnya.

Salah satu arti dari istilah waki adalah “peran pendukung,” dan orang pada umumnya menganggap itulah satu-satunya definisi. Tapi ada arti kata lain yang lebih tua: Ini adalah jahitan di sepanjang sisi kimono yang memisahkan bagian depan dan belakang pakaian. Bagian depan dan belakang itu dua bahan yang terpisah dan disatukan oleh jahitan di sepanjang sisi kimono.

Waki adalah seseorang yang berdiri di tepi dua dunia, mirip dengan jahitan sepanjang sisi kimono. Bagian depan kimono dapat disamakan dengan dunia manusia hidup, dan bagian belakang adalah tempat tinggal roh. Kedua dunia biasanya tidak berbaur, tetapi karena waki memiliki kakinya di keduanya, itu tidak biasa baginya untuk bertemu pengunjung dari dunia luar. Dalam permainan noh yang khas, seorang aktor waki muncul pertama di panggung, sering kali dalam peran seorang biarawan keliling dan sering ditemani oleh biksu lainnya. Datang pada pohon yang tidak biasa, bunga, atau batu, ia membacakan sebuah puisi, yang memicu fenomena alam yang tiba-tiba dan aneh, seperti hujan atau kegelapan langit.

Lalu, muncullah , cukup sering seorang wanita muda atau lelaki tua (Shite, tokoh utama, pemerannya menggunakan topeng). Ketika karakter berbicara, percakapan mereka berubah ke masa lalu — sebuah kisah dari sastra klasik atau legenda lokal. Waki mulai curiga bahwa dia tidak berbicara kepada manusia biasa. Dia bertanya mengapa shite begitu akrab dengan episode khusus ini dan memanggil shite untuk mengidentifikasi dirinya sendiri.

Peran waki adalah untuk membuat dunia yang tak terlihat dapat diakses oleh para penonton. Ini sangat mirip dengan pengalaman menulis haiku, karena alam merupakan komponen integral dari bentuk puitis. Melalui pepohonan, bunga, dan batu, penyair berkomunikasi dengan entitas yang tidak terlihat. Sebuah haiku adalah semacam ucapan, sebuah catatan pendek yang menanyakan apakah semuanya baik-baik saja.

Dan sama seperti waki , penyair haiku tidak memberikann interpretasi apa pun setelah subyek; haijin menunggu mereka untuk mendekat — keadaan pikiran yang mungkin disebut “menunggu secara proaktif.” Ayat lima, tujuh, dan lima suku kata per baris ditawarkan sebagai ucapan, dan haijin menunggu “balasan” dari subjek untuk menyelesaikan puisi (haiku).

Kualitas kunci yang memungkinkan karakter waki untuk berbaur dengan roh adalah sifat pasif dari orientasi psikis mereka. Mereka tidak pergi keluar untuk mencari-cari sesuatu di alam; sebenarnya, alam memanggil untuk merayu mereka.

Pertemuan dengan pohon, bunga, dan batu tidak mungkin dilakukan melalui prosa. Untuk berkomunikasi dengan dunia roh, seseorang harus menggunakan ayat, yang dalam bahasa Jepang secara tradisional berarti garis meteran yang terdiri dari lima dan tujuh suku kata. Puisi adalah apa yang diucapkan di dunia roh. Melalui bahasa tidak yang biasanya kita gunakan — melalui ayat — bahwa kita dapat berkomunikasi dengan roh-roh itu. . Untuk Basho, media komunikasi dengan roh seperti itu adalah haiku.

Puisi seharusnya mendorong kebebasan berekspresi. Apakah konvensi formal haiku (pola tuang 5-7-5) bentuk pengekangan kebebasan berekspresi?

Seperti halnya dalam Noh, bentuk formal itu memainkan peran penting. Pembatasan memaksa orang untuk menggunakan imajinasi mereka; banyak kesenian di Jepang, pada kenyataannya, bergantung pada imajinasi penonton untuk menghidupkan sebuah karya. Hal yang sama berlaku untuk haiku.

Haiku sangat pendek, tidak mungkin untuk mengungkapkan semuanya melalui kata-kata.  Keringkasan menciptakan “margin” atau “ruang kosong,” memberi ruang bagi pembaca untuk membayangkan sentimen di balik setiap frasa. Basho menggambarkan ini sebagai iiosete nanika aru (katakan sedikit, berarti banyak). Jika  kita mengungkapkan segalanya, tidak ada yang tersisa untuk dikatakan. Dengan menjadi selektif bahwa proses penyulingan dan pemurnian terjadi (omissions), mengubah haiku menjadi pengalaman yang dapat mengangkat semangat para penyair dan pembaca

Pentingnya kata jauh lebih jelas sekarang. Daripada menghalangi kebebasan berekspresi, kata memberi kita alat untuk memungkinkan kita mengekspresikan diri dengan bebas.  Banyak orang, ketika mereka mulai menulis haiku, merasa bahwa ada terlalu banyak batasan. Haiku sangat pendek, garis harus mengikuti pola lima-tujuh-lima metrik, dan kigo musiman harus disertakan. Tetapi jika haijin terus berusaha, setelah sepuluh atau dua puluh tahun, tiba-tiba menyadari betapa aturan-aturan semacam itu memberikan kita banyak kebebasan.

Alih-alih menjadi pemaksaan yang tidak wajar, bentuk formal bisa menjadi salah satu hasrat manusia yang paling alami. Kata adalah saluran yang kita gunakan untuk melampaui tampilan permukaan untuk mencapai inti, aspek batin dari sifat manusia.

Ini terkait dengan perbedaan makna dari dua kata Jepang: kokoro dan omoi .  Yang pertama mengacu pada perasaan atau emosi, dan juga kata untuk “hati.” Ini sangat berubah-ubah, berubah dari satu momen ke momen berikutnya.  Orang yang kita cintai tahun lalu, misalnya, mungkin tidak lagi menjadi orang yang kita sukai sekarang.  Sekarang jelas tentang apa artinya kokoro.

Kata untuk sesuatu yang lebih dalam dan tidak berubah, di sisi lain, adalah omoi . Objek hasrat asmara kita mungkin berubah, tetapi ada dorongan dalam diri kita yang memaksa kita untuk selalu jatuh cinta pada seseorang!  Omoi terletak di balik emosi sekilas kita. Dalam noh, tidak berurusan dengan kokoro ; tetapi dengan omoi . Jika kokoro adalah kepentingan utama, noh tidak akan bertahan selama 650 tahun. Suatu bentuk seni yang didedikasikan untuk sesuatu yang selalu berubah pasti sudah ketinggalan zaman sekarang.

Para aktor mengekspresikan omoi ini di atas panggung, meskipun, adalah manusia yang hidup. Diri kita penuh kokoro yang berubah-ubah . Dalam peran yang membutuhkan ekspresi cinta, misalnya, sangat mudah untuk jatuh ke dalam perangkap pengalaman dangkal yang menarik kita.

Biasanya, seorang aktor noh tidak berpikir tentang perasaan karakter yang dia gambarkan. Adalah tugas para aktor noh untuk “mengekstrak” omoi dan menghidupkannya kembali dengan setiap pertunjukan. Setelah itu memanifestasikan dirinya di atas panggung, omoi mungkin kemudian beresonansi dengan penonton – bersama dengan para aktor di panggung – terbangun untuk sesuatu yang biasanya tidak diperhatikan.  Jadi kata bukan hanya bentuk luar. Ini memiliki akarnya dalam emosi yang begitu dalam sehingga kita bahkan tidak menyadari mereka ada di sana.

Orang mungkin mengatakan bahwa aspek perubahan dan bertahan hidup afektif kita, sebagaimana diwakili oleh kokoro dan omoi , memiliki eksistensi paralel. Omoi terletak lebih dalam, sementara kokoro ada di permukaan. Haiku, juga, adalah alat untuk menghubungkan dengan sifat terdalam kita, daripada penggambaran keinginan kita yang sekilas.

Omoi sering tidak bisa dimasukkan ke dalam kata-kata, haiku menggunakan adegan alam untuk mewakilinya. Pesan yang sebenarnya harus ditemukan bukan dalam kata-kata tetapi dalam kelalaian (omissions), margin kosong di antaranya. Alam adalah medium yang kita gunakan untuk tiba di omoi kita .

Omoi bukan masalah pribadi, jadi tidak perlu subjek — tidak ada orang pertama (Saya/Aku). Jika saya berkata, “Saya jatuh cinta dengan Rita,” misalnya, “Saya” ada di sana. Orang lain mungkin mengatakan mereka tidak menyukai Rita. Tetapi “saya/aku” itu masih ada di sana.

Namun, dalam noh, cinta kita untuk pasangan kita, anak-anak, kekasih, atau bahkan makanan semuanya berubah menjadi omoi . Sementara kita menggambarkan karakter tertentu, pada saat yang sama kita juga mengungkapkan omoi semua orang , termasuk orang-orang di antara penonton. Maka “AKU” secara alami menghilang. Demikian juga haiku, tidak memiliki orang pertama juga.

Pribadi kita dalam hal ini diwakili momen, ketika kita melampaui diri dan mencapai tingkat kesadaran yang baru (objek dan subjek menjadi satu). Secara fisik, ini adalah saat ketika energi kita menjadi fokus di sini, di daerah perut bagian bawah. Kokoro adalah sesuatu yang kita rasakan di dada kita.  Omoi sedikit lebih rendah, daerah yang disebut tanden dalam bahasa Jepang, di bawah pusar. Itu adalah tempat di mana kita memfokuskan nafas ketika melakukan yoga atau zazen.  Haijin membutuhkan banyak waktu berlatih haiku untuk mengaktifkan tandennya. Karena itu sering diajarkan untuk tidak menulis haiku dengan kepala kita. Inspirasi harus datang dari bawah, dari sekitar area tanden kita .

Ada kekayaan yang tak terlukiskan dengan interval kosong, yang disebut Ma. Kire  dalam haiku adalah dasar-dasar estetis dari “margin” spasial dan temporal,  memiliki kesamaan denga estetika Noh, bahkan dengan Ikebana.

Dalam noh, ada interval yang dipahami setiap orang.  Dalam haiku, kita dapat mendengar itu pada jeda antar elemen penjajaran (toriawase).  Tidak ada suara yang dihasilkan selama jeda, tetapi dalam banyak hal, keheningan berbicara lebih keras daripada nada. Mereka adalah momen yang sangat kaya dan kental.  Panjang ma diukur dengan jumlah nafas. Menyinkronkan nafas kita dengan pikiran pembaca berarti bahwa para pembaca juga menghirup dan menghembuskan nafas sebagai satu.  Jadi tidak ada “aku” dalam omoi dan bahwa ini merupakan fitur penting dari haiku. Menulis haiku seperti menggambarkan adegan tanpa menyuntikkan perasaan subjektif kita.

Basho (1644–1694) menciptakan bentuk puisi baru yang disebut haiku dengan mengambil tiga baris pertama dari genre puisi kolaboratif yang lebih panjang yang disebut haikai no renga dan mengubahnya menjadi karya yang berdiri sendiri. Sangat menarik bagaimana interpretasi haiku Basho dari sudut pandang berpikir aktor Noh:

furuike ya / kawazu tobikomu / mizu no oto 

kolam tua/ katak melompat masuk/ suara air

Mereka berpendapat bahwa Basho tidak melihat langsung katak melompat ke kolam.  Tidak ada “aku” yang menyaksikan peristiwa ini.  Haiku  ini memiliki tiga komponen dasar, yaitu, kolam, katak melompat ke dalamnya, dan suara air. Siapa pun yang menulis haiku atau puisi apa pun akan segera mengidentifikasi “suara air” sebagai inti dari “pengalaman” Basho. Dia mungkin menyusun ayat ini ketika dia sedang berjalan, setelah mendengar sesuatu jatuh ke kolam pinggir jalan. Tapi setelah mendengar celoteh, katak itu tidak terlihat. Jadi sejauh yang dia tahu, itu bisa jadi batu atau ikan mas, daripada seekor katak. Satu-satunya cara dia bisa yakin bahwa itu adalah “katak” adalah jika dia adalah “kolam” itu sendiri.

******

Referensi Tulisan:

Disarikan dari tulisan Madoka Mayuzumi, “Haiku and Noh: Journeys to the Spirit World”.

MENGENAL HAIKU DUA BARIS


Haiku dua baris (Two Lines Haiku) adalah “Haiku”, di dalamnya tetap berlaku esensi dan cara-cara penulisan haiku tradisional Jepang. Haiku dua baris adalah haiku yang ditulis sesuai dengan teknik toriawase. Namun tidak semua haiku toriawase dapat dituangkan menjadi dua baris.

Toriawase secara harfiah artinya “kombinasi”, dan pada kenyataannya kombinasi dua gambar, item, atau konsep. Yamashita Kazumi mengatakan: “toriawase adalah kombinasi dari dua elemen, di mana ada rasa kesatuan tanpa koneksi logis”. Toriawase terjadi dalam satu ayat haiku sebagai konsekwensi adanya kire sintaksis di tengah ayat. Bentuk haiku non Jepang pada umumnya adalah 17 suku kata di tulis dalam tiga baris. Karena “terpenggal oleh kire sintaksis” maka yang 17 suku kata itu jadi terbagi menjadi dua elemen: Pertama, elemen dengan jumlah 12 suku kata. Kedua, elemen dengan jumlah 5 suku kata. Jadi meski pun ditulis dalam format tiga baris, secara substantif haiku terbelah menjadi dua elemen.

Ada dua jenis kire yang berkerja dalam toriawase, yakni: kire semantik, dan kire sintaksis. Kire “semantik” sifatnya “tidak memenggal” ayat haiku menjadi dua segmen. Kire semantik dapat kita gambarkan seperti sebatang ranting yang melintang di tengah arus sungai dangkal, air sungai terus mengalir (tidak berhenti), air hanya terlihat jadi bergelombang; alur pikiran tetap berlanjut dan baru akan terhenti ketika bertemu kire sintaksis. Kire sintaksis dapat kita bayangkan seperti sebuah bendungan yang menahan laju air, aliran sungai atau alur pikiran jadi terhenti karena adanya sekat yang memotong alurnya. Kire sintaksis, ketika teks haiku kita baca maka pembacaan berhenti sejenak pada titik kire sintaksis di tempatkan. Sehingga terjadi kekosongan sesaat yang sarat makna. Seperti interval dua nada dalam musik, ada keheningan sesaat yang menambah penghayatan pendengar terhadap musik.

Tidak semua jenis toriawase dapat dituangkan menjadi haiku dua baris. Sebuah haiku yang ditulis sesuai dengan teknik toriawase dapat dipotong secara sintaksis (secara tatabahasa) atau secara semantik (secara makna). Toriawase yang dipotong oleh kire semantik, tidak membuat kalimat 17 suku kata itu terpenggal menjadi dua segmen (tidak menciptakan rongga atau ruang kosong di tengah ayat). Terpenggal hanya untuk menghadirkan ketegangan dua kutub di antara gambar, dan keterpenggalan ini disebut sebagai “Torihayasi”, ketegangan di antara dua kutub yang menciptakan “harmoni”! Toriawase jenis ini tidak bisa dituangkan menjadi haiku dua baris.

Jenis ketegangan lainnya adalah disebut “Nibutsushougeki”. Ketegangan ini terjadi karena ayat terpotong oleh kire sintaksis, terpotong secara tatabahasa, sehingga ayat haiku yang 17 suku kata itu jadi terbelah menjadi dua elemen. Kedua elemen itu dapat kita tuangkan dalam format dua baris, dan kita sebut L1 untuk elemen yang mendahului kire sintaksis, L2 untuk elemen setelah kire sintaksis. Jadi haiku dua baris adalah toriawase jenis “Nibutsushougeki”, ketegangan dua elemen (kita sebut itu L1 dan L2) yang bila kite benturkan antar keduanya, seperti kita menbeturkan dua logam, akan menciptakan suara atau resonansi atau gema atau pesan yang tak terucapkan (pesan tersirat). Haiku toriawase jenis “nibutsushougeki” adalah jenis haiku yang paling memiliki kedalaman makna dari semua jenis haiku yang ada.

Sekarang sudah jelas bagaimana ceritanya kenapa ada haiku dua baris. Seperti haiku yang ditulis dalam tiga baris, ada 7 prinsip haiku toriawase yang harus dipahami oleh haijin. Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut:

  1. PENJAJARAN
    Haiku toriawase adalah kombinasi dua gambar atau tema yang disejajarkan secara internal. Penjajaran itu dapat ditunjukkan dalam dua baris, yang mana tiap baris itu merupakan gambar atau tema atau tiang yang berdiri sama tegak (toriawase nibutsushougeki). L1 dan L2 masing-masing bisa bersifat mandiri bila dipisahkan, penggabungan keduanya dimaksudkan untuk memunculkan efek/pesan tertentu atau tak terduga.
  2. SATU KIRE
    Hanya ada satu kire dalam haiku, kire didahului oleh kalimat L1. Artinya, ada kire di akhir kalimat L1. Satu tema atau satu gambar terbentuk, terjadi kekosongan sesaat yang bermakna, lalu lanjut ke L2.

Agar tidak meraba-raba, ada tiga fungsi kire yang harus betul-betul dipahami oleh haijin:

(a) MEMOTONG/MEMENGGAL aliran pikiran atau alur cerita. Tujuannya adalah menempatkan objek L1 di tempat baru, agar lebih segar dan lebih hidup.

(b) MENEKANKAN kalimat sebelumnya, sehingga L1 kita sebut sebagai “titik tumpu semantik” haiku. L1 sifatnya “masih dalam hati”. Kita mengatakannya dengan menunjukkan gambar yang jernih yang mengandung benda konkrit yang penuh makna. Kita dapat mengidentifikasinya sebagai hasil sensor indera manusia.

(c) MENCIPTAKAN RONGGA antara L1 dan L2. Ruang kosong (Ma) adalah vakum sesaat yang penuh makna. Ada pesan tak terucapkan yang terkandung di dalamnya.

  1. KIGO
    Kigo adalah sumsum haiku, hal yang memberikan rasa pada tulang dan daging. Dengannya kita seakan-akan berkata: “simaklah apa yang kukatakan lewat isyarat atau pertanda atau lewat kata musim ini”. Agar kigo berfungsi secara maksimal sebaiknya guna satu kigo dalam haiku. Bila L1 kigo maka L2 merupakan gambar atau tema lain yang tidak ada kata musim di dalamnya. Demikian juga sebaliknya.

Dua fungsi penting kigo dalam haiku: (a)Kigo sebagai isyarat waktu, sebagai pertanda musim yang tengah berlaku saat momen haiku terjadi. (b) Untuk “membawa suasana revolusi bumi mengelilingi matahari jadi berdenyut dalam puisi”. 7 macam unsur kigo: Season, Celestial phenomena, Terrestrial phenomena, Life/Humanity, Animal, Plants, atau Events semuanya mengandung dua fungsi kigo. Selanjutnya adalah bagaimana keterampilan haijin untuk menghidupkan dua fungsi kigo ini dalam satu ayat haiku yang ditulisnya.

  1. MENANGKAP MOMEN, CERITANYA “SEKARANG, SAAT INI”.
    Haiku adalah potret suatu momen dalam setitik ruang dan waktu. Ini adalah cerita tentang momen sesaat yang membuat kita terkejut, tersenyum, terpesona, termenung, atau terkagum-kagum. Kita ceritakan itu dalam adegan “saat ini”, saat momen haiku berlangsung. Karena itu tidak ada kata “telah” atau “akan” untuk momen yang kita tunjukkan.
  2. GUNAKAN OBJEK KONKRET
    Momen haiku adalah suatu adegan nyata, karena itu bahasa yang kita gunakan sifatnya “menunjukkan” kejadian konkret yang merupakan hasil serapan indera manusia. Kita hanya menceritakan atau menunjukkan sesuatu yang kita dengar, lihat, cium, raba, atau sesuatu yang kita kecap dengan lidah kita.
  3. OMISSIONS DAN PESAN TERSIRAT HAIKU

Omissions (kelalaian) adalah jiwa dari haiku, keberadaannya penting bagi struktur fisik dan struktur batin haiku. Omissions berarti melepaskan kata-kata, menyingkat dan meninggalkan beberapa bagian untuk kepentingan keringkasan. Apa yang harus disingkat dan apa yang harus ditinggalkan membutuhkan pertimbangan yang paling hati-hati. Omissions dan pesan-pesan yang tidak diucapkan tidak dapat dipisahkan. Omissions yang dihitung dengan baik menghasilkan pesan yang tidak diucapkan.

Haijin perlu belajar cara melepaskan kata-kata sehingga haiku hanya dapat membawa kata-kata yang tidak dapat dihindarkan, dan menyisakan ruang imajinasi bagi pembaca untuk memahami pesan yang tidak diucapkan (pesan tersirat). Pesan tersirat yang lahir dari kelalaian adalah apa yang pembaca bisa simpulkan dari apa yang diungkapkan dalam kata-kata. Pesan yang tak terucapkan atau pesan tersirat adalah dunia imajinasi tanpa batas yang tersentuh oleh setiap kata yang diucapkan. .

Tidak mungkin menceritkan segalanya dengan kata-kata yang singkat. Karena itu harus menghilangkan bagian tertentu untuk keringkasan cerita. Tindakan menghilangkan bagian tertentu yang dihitung dengan baik akan menghasilkan “pesan tersirat”. Dalam memutuskan baris pendek atau baris panjang yang mendahului kire, kita juga harus memperhitungkan apa yang akan tersirat dalam kekosongan sesaat antara L1 dan L2. Ma (ruang kosong yang tercipta karena jeda nafas atau karena teks terpenggal secara tata bahasa/jeda sintaksis) merupakan ruang tempat kita menyampaikan perasaan kita yang sesunguhnya (suara hati). Omissions, pesan tersirat, dan Ma bila dilakukan dengan baik akan membuat haiku jadi bergema di pikiran pembaca.

  1. MEMILIKI RONGGA (MA)

Haiku toriawase jenis nibutsushougeki harus memiliki rongga di tengah ayat. Rongga itu berada di anatara L1 dan L2. Rongga itu kita menyebutnya sebagai “Ma”. Tidak ada jenis haiku lain yang memiliki Ma kecuali haiku jenis ini. Kire sintaksis hadir dalam rangka untuk menciptakan Ma. Ini adalah teknik puisi timur yang umumnya memiliki budaya “berkesadaran ruang dan waktu”. Estetika timur yang ada di dalam seni lukis, seni musik, dan juga seni puisi.

Ma kadang disebut sebagai “ruang bermimpi” (dream space) karena di dalam kekosongan sesaat inilah pikiran pembaca dan penulis dapat bertemu. Ini adalah ruang imajinasi bagi pembaca, apa yang ada di pikiran pembaca belum tentu sama dengan yang ada di pikiran penulis (haijin). Pembaca berhak memberikan interpretasinya sendiri sesuai dengan latar belakang dan pengalamannya. Cara menguji apakah Ma bekerja dengan baik, maka genggamlah kalimat L2 lalu benturkan dengan L1. Harus ada getaran atau resonansi yang memancarkan pesan tersirat di dalamnya. Bila tidak ada pesan tersirat, maka periksa kembali haiku anda. Pasti ada kesalahan dalam penjajaran itu. Contoh haiku dua baris:

senja di pantai
kemilau cangkang siput kosong di pasir

dusk on quiet beach
shining the empty shell of snail in white sands

【晶子訳】
ひっそりとした海岸の夕暮れ
白砂の蛇の抜け殻を照らす

(Beni Guntarman)

bayangan awan
ikan menyergap capung di rawa tua

shadow of white clouds
fish grabbed the dragonfly in the old swamp

【晶子訳】
白雲の影
古い沼地でトンボを捕らえた魚

(Beni Guntarman)

*********

KAKEKOTOBA (PIVOT) TANKA


Tanka 短歌” artinya puisi pendek”, berkembang di Jepang sejak abad ketujuh, istilah ini digunakan untuk membedakannya dari Choka 長歌, “puisi-puisi panjang”. Tanka adalah puisi pendek (nyanyian pendek) tentang alam, musim, cinta, kesedihan, dan emosi yang kuat lainnya. Masaoka Shiki menghidupkan kembali istilah tanka pada awal abad kedua puluh dengan menyatakan bahwa waka (puisi Jepang) harus diperbaharui dan dimodernisasi.

Tanka telah berubah dan berkembang selama berabad-abad, tetapi bentuk lima baris yang mengandung 31 suku kata tetap sama kecuali di mana letak harus terjadi jeda. Tanka dua frase memiliki jeda sintaksis dan semantik secara bersamaan di akhir kalimat baris ketiga (pivot). Sama halnya dengan haiku, tanka adalah seni verbal yang mengedepankan gambar (visual). Dalam bentuk tradisionalnya tanka tidak memiliki rima, setiap baris terdiri dari satu gambar atau ide; dalam tanka yang baik, lima baris itu sering mengalir mulus ke satu pikiran.

Tiga baris pertama Tanka (5-7-5) disebut “frase Kami no ku atau frase atas” ( 上の句) dan dua baris berikutnya (7-7) disebut frase Shimo no ku atau frase bawah (下の句). Frase atas biasanya menyajikan gambar, hasil sensor indera terhadap alam sekitar. Sisa dua baris berikutnya bergeser fokus ke ide terkait, memberikan lebih banyak ruang untuk membangun citraan yang kuat, luas, dan dalam dengan 31 suku kata.

Kakekotoba (   ) atau pivot atau kata jembatan atau kata poros adalah alat retoris (cara ekspresi) yang digunakan dalam tanka (waka) tradisional Jepang. Ini digunakan ketika kita ingin mengatakan dua hal berbeda dalam satu kata, mengaitkan dua konteks yang berbeda dengan korespondensi satu arti untuk setiap konteks.  Fungsi dari kata pivot adalah untuk mengikat dua gambar berbeda yang memungkinkan sistem puitis melompat dari satu makna ke makna lain. Tujuannya untuk membangun hubungan dua frase dan menjaga kontinuitas tanka dari baris pertama hingga baris kelima. Kita dapat menunjukkan gambar atau objek yang berbeda antara frase Kami no ku (5-7-5) dan frase Shimo no ku (7-7).  Namun kontinuitas tanka tetap terjaga dengan adanya kata poros (pivot).

 Kata Pivot pertama kali ditemukan di naskah paling awal yang masih ada di mana puisi puitis disimpan dalam bentuk tertulis. Contoh paling awal adalah dari periode Nara. Asalnya dari teknik ini tidak jelas, namun kemungkinan itu sudah umum digunakan dalam periode sebelum menulis diperkenalkan, sebagai bagian dari tradisi puisi tanka. Ini adalah teknik yang dirancang untuk memperkaya cara menyampaikan puisi dalam ruang terbatas. Pola umumnya adalah sebagai berikut:  “Menggunakan konteks kalimat sebelum kakekotoba dan setelah itu menciptakan makna baru”.

Kakekotoba bersifat ambigu (memiliki makna ganda), diterjemahkan menjadi dua makna yang berbeda dengan sendirinya. Karena itu dapat diterjemahkan dengan arti yang berbeda, terjemahan kakekotoba terkadang dapat menjadi tidak bermakna oleh mereka sendiri, dan membutuhkan konteks untuk memunculkan maknanya, yang tidak dianggap sebagai masalah dalam periode Heian. Bila dikaitkan dengan dua baris yang mendahuluinya kakekotoba memiliki satu makna dan bila dikaitkan dengan dua baris bawah (baris keempat dan kelima) yang mengikutinya maka kakekotoba memiliki makna berbeda. Secara singkatnya, kakekotoba atau pivot adalah penggunaan kata-kata yang memiliki makna ganda.  Kita simak contoh berikut ini:

 

sekawan pipit

mengais  sana-sini

butiran padi…………………………kakekotoba/pivot/poros

amal dan kebaikan

satu jadi setangkai

 

Kalimat “butiran padi” bila dikaitkan dengan kalimat dua baris di atasnya adalah butir-butir padi yang tercecer di sana-sini, mungkin itu di rumput atau tanah sehingga sekawan pipit harus mengkais-kaiskan kakinya untuk mendapatkan butir-butir padi itu.

Kalimat “butiran padi” bila dikaitkan dengan dua baris di bawahnya maka memilikji makna lain, “serupa atau seperti atau bagaikan amal dan kebaikan, menanam satu butir padi (amal dan kebaikan) hasil akan jadi setangkai (jadi berlipat-lipat ganda).

Langkah pertama sebelum menulis tanka: “Tetapkan terlebih dahulu pivot untuk tanka yang akan ditulis, berikut makna baru seperti apa yang akan dimunculkan darinya”. Periksa kembali setiap kata dari pertama hingga baris kelima, pastikan bahwa tidak ada kata yang memberikan citraan yang saling bertentangan dengan makna baru yang kita inginkan.

*********

GADIS SUNYI ASYIK SENDIRI DI PANTAI


gadis sunyi yang asyik dengan dirinya sendiri

disela-sela  derai tawa dan deras air matamu

kulihat kesunyian hatimu menggenang hening

bagaikan rawa-rawa luas liar tak berpenghuni

 

gadis sunyi yang asyik dengan dirinya sendiri

kutatap lamat bening di kedua bola matamu

di dalamnya kulihat Selat Malaka berombak

kapal-kapal asing berlayar mencari dermaga

 

gadis sunyi yang asyik dengan dirinya sendiri

lihatlah di sana pada daratan yang terbentang

dalam kebiruan yang kian jauh semakin pekat

tingginya gunung-gunung hanyalah bayangan

 

gadis sunyi yang asyik dengan dirinya sendiri

dengarkanlah suara ombak memukul karang

tenggelamkan dirimu ke dalam kebisingannya

kedamaian yang engkau cari ada di dalamnya

 

*******

Batam, Mei 2018.

puisi by Beni Guntarman