KONTEMPLASI DAN MOMEN HAIKU (Dalam Perspektif Haiku Zen)


Ini adalah tentang Haiku, puisi mungil yang sarat dengan filosofi dan estetika. Menulis haiku dengan pemahaman atas segenap esensinya, pada intinya belajar untuk “membersihkan pintu persepsi”. Haiku harus muncul dari pikiran terbuka dan tidak terhalang oleh dorongan apapun untuk membuat sesuatu dari kenyataan yang menjadi perhatian penyair.

Momen haiku atau “Saat Haiku”, hanyalah sebuah flash kecil, sebuah realitas yang kemunculannya tidak dikondisikan oleh apapun kecuali oleh tangan kreatif alam yang tak henti bekerja (Zoka). Itu mungkin suatu kejadian kecil yang luput dari perhatian banyak orang. Namun ketika intuisi penyair bekerja, hal yang seperti itu mampu menyuarakan nilai-nilai universal yang mampu dipahami secara umum meski sebelumnya mungkin tak pernah tersimpulkan oleh akal pikiran sadar manusia. Ini hanya sebuah fenomena kecil namun menggemakan gelombang rasa dan aura Keagungan Ilahi, hal yang tak sepenuhnya mampu dicerna oleh kelima indera kita.

“Saat Haiku” adalah fenomena alam dan alami. Mungkin itu hanya tentang daun-daun yang berubah warna atau yang kering berguguran, mungkin itu hanya sekuntum bunga kecil liar di tengah padang rumput, mungkin itu tentang air sungai yang menyusut atau dasar rawa yang mengering dan merekah, atau mungkin suara seekor gagak saat matahari terbenam……Fenomena itu ditangkap oleh penyair, dengan pikiran yang jernih sehingga tercermin darinya fenomena yang terjadi, terekam oleh alam pikiran bawah sadar…dan jiwa spiritual penyair mengolahnya menjadi sebuah puisi pendek yang kita namakan sebagai haiku. Haiku adalah puisi alam yang keluar dari kehidupan spiritual penyair, dan haiku yang baik sampai ke dalam kehidupan spiritual pembacanya. Inilah yang sering kita sebut sebagai PUISI KONTEMPLASI!

Seorang haijin pemula kadang berteriak dengan kerasnya “lihatlah ini momen haiku!”….namun sayang ego subjektifnya, katakanlah itu imajinasi atau ide-de atau teori sastra yang dimilikinya mengaburkan persepsinya tentang objek. Dalam haiku, pikiran adalah cermin, ia hanya memantulkan benda-benda, suasana, dan warna-warni yang ada di sekitarnya.

Kontemplasi dalam haiku, ini bukan tentang “membersih cermin”, melainkan sebuah kesadaran bahwa tiada bayangan yang kekal melekat pada sebuah cermin. Ini hanya tentang sebuah lintasan kehidupan pada setitik ruang dan waktu, sebuah fenomena alam dan alami yang memunculkan dirinya ke dalam sebuah kolam pikiran yang jernih. Hal yang tercerahkan adalah jiwa atau bathiniah kita, bukan hal-hal yang bersifat fisik adanya.

Haiku adalah tentang pengalaman baru yang bersifat mencerahkan (Kensho). Kenshō adalah istilah bahasa Jepang dari tradisi Zen . Ken berarti “melihat,” shō berarti “alam, esensi”. “Melihat esensi diri sejati”. Istilah kenshō sering digunakan secara bergantian dengan satori, yang berasal dari kata kerja satoru dan berarti “pemahaman; pengertian”. Kensho adalah pengalaman yang mencerahkan, pengalaman yang melampaui kualitas baik-buruk, hitam-putih, objek-subjek. Karena itu “Satir” dan yang sejenisnya tidak bisa digolongkan sebagai haiku. Senryu cenderung melihat dari sisi negative atau ketimpangan, ketidaksempurnaan atau ketidakkekalan sebagai bahan sindiran dan sejenisnya.

Kontemplasi adalah bagaimana mencabut akar kebingungan atau kegelisahan dari dalam akal pikiran kita. Imajinasi atau kegelisahan atau khayalan mewujudkan dirinya ke dalam kolam pikiran kita, mempengaruhi cara berfikir dan tindakan kita dalam keseharian, dari waktu ke waktu kita terjebak dalam ilusi kehidupan. Haiku hadir sebagai puisi untuk tujuan spiritual, dengannya kita belajar membersihkan pintu persepsi, untuk menyimak tunjuk dan ajar alam, menjadi harmoni dan selaras dengan alam semesta.

Jadi haiku tidak lebih dari sebuah refleksi, menemukan cermin diri pada musim atau waktu yang berubah. Alam yang ramah menampakan dirinya, memunculkan jiwa seni sejatinya melalui apa yang kita katakan dengan istilah “Zoka”, ia mengungkapkan dirinya kepada kita “ini seperti yang dialami manusia” dalam perspektif “kemanusiaan kita bersama”.

Mereka (alam) menawarkan “hal yang puitis” kepada haijin, untuk melihat sesuatu melalui dirinya, dan persepsi yang jernih memantulkannya ke dalam ruang hati haijin, dan di sana haiku diproses lalu keluar sebagai puisi. Persepsi jernih mampu “menerimanya”, menyerap kemurniannya dalam kualitas: kasih sayang, sukacita, ketenangan, kedamaian, kesunyian, kesederhanaan, dan juga humor yang halus.

Haiku adalah ekspresi yang paling menyeluruh dari sastra Zen. Kekuatan haiku Zen terletak pada perwujudan bentuk dan kekosongan. Haijin mengambil alam sebagai subyek mereka, karena lebih mudah diakses untuk kontemplasi dan juga karena menyadari kekuatan Zoka. Namun ketika alam ternyata berubah menjadi dramatis maka hanya penyair haiku yang terbaik yang bisa mengungkapkan drama dan mempertahankan semangat haiku tanpa terjebak ke dalam melodrama subjektif.

Dalam perspektif Haiku Zen, ada dua kondisi optimum untuk pembuatan haiku: Pertama, memahami “saat haiku” sebagai priming (warna dasar) dan internalisasi bentuk…masuk ke suasana hati dan motif haiku untuk berbagi. Kedua, membuka pikiran kontemplatif sebagai ekspresi kehidupan spiritual penyair. Dua kondisi ini hanya muncul dalam “kesadaran kekosongan”.

Kesadaran kekosongan ini dapat didefinisikan sebagai “Kesedihan atau melankolis yang timbul dari dalam diri penyair, apresiasi empati dari kehidupan fana yang ditunjukan oleh alam”. Mencerminkan kehidupan manusia, sebuah kesadaran atas karya seni yang dimunculkan oleh tangan alam, watak kreatif alam yang tak pernah berhenti berkreasi sepanjang waktu, sepanjang musim.

Basho bilang “Sabi adalah warna dasar (priming) haiku”. Sabi adalah “kesadaran kekosongan”, insubstantiality dan kerentanan fenomena. Kesadaran ini adalah “sikap menerima” yang menemukan sumber inspirasinya dari ajaran agama atau pengalaman hidup, penerimaan dengan kelembutan hati. Ada sebuah getaran halus kerinduan yang tak terlihat ujungnya, aura rasa kesedihan dari sesuatu yang datang dan berlalu seiring laju waktu.

Ini merupakan sebuah kesadaran bahwa hidup ini tidak kekal, tidak sempurna, dan semuanya pada akhirnya akan dibatasi oleh waktu. Sabi adalah jenis emosi murni dan luhur melankolis, bersih dari rasa egois, sikap menerima untuk menghormati apa adanya. Sabi adalah nilai-nilai spiritual yang muncul karena dipicu oleh fenomena di luar diri si penyair. Sedangkan Wabi adalah konstruksi filosofis, ide-de, ajaran agama, atau jalan spiritual yang bersemayam di dalam dada penyair.

*******

ZEN DAN SENI HAIKU (Menyingkap Misteri Haiku Zen)


  1. HAIKU DALAM PERSPEKTIF ZEN

Zen Jepang dikaitkan dengan berbagai bentuk seni lukis, kaligrafi, merangkai bunga, seruling shakuhachi , seni bela diri, upacara minum teh. Puisi juga merupakan seni tradisional Zen, dan bentuk puisi Zen yang paling terkenal adalah haiku.  Haiku menghadirkan kontemplasi yang muncul dari kehidupan spiritual penulis, dan haiku yang terbaik berbicara kepada kehidupan spiritual pembaca.

Haiku mengambil dunia emosi terkonsentrasi dan percikan kreatif yang diciptakan oleh fakta-fakta sederhana, bahkan dari hal yang kecil yang selama ini sering luput dari perhatian kita, dan haijin mengubahnya kedalam puisi pendek yang mampu mengorientasikan semangat menuju satori, atau pencerahan Zen. Semua ini dilakukan dalam sebuah bidang ekspresi yang sempit, terbatas hanya 17 silabel (suku kata ketika diucapkan) dan terdiri dari tiga kelompok suku kata yakni, 5-7-5 suku kata.

Melalui penyatuan antara yang mengamati (penyair haiku atau haijin) dan yang diamati (objek-objek yang ada di alam), yang mana hal ini terkadang sangat sulit untuk dibayangkan oleh pikiran awam, tapi terutama melalui keheningan, sebuah kesatuan antara “dilihat” yang tidak pernah berakhir, bervariasi dan kompleks, dan sebuah “kontradiksi” yang tak henti-hentinya, sederhana dan tidak dapat ditembus atau sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata namun dapat diwujudkan dalam haiku. Kekuatan haiku Zen terletak pada perwujudan bentuk dan kekosongan. Haiku juga disebut sebagai “model untuk estetika keheningan”, secara intuitif menyajikan kenyataan yang mengungkapkan suatu keheningan yang tak terbatas, merekam momen yang anggun itu di suatu tempat, si suatu waktu, dan dengan demikian haiku yang tercipta memberi pembaca kebebasan yang cukup besar dalam intervensinya sendiri untuk menciptakan makna.

Haiku hanyalah sebuah bahasa puitis yang ditandai dengan “ambiguitas” dan “ketergantungan tinggi pada konteks”, bersamaan dengan budaya yang diilhami oleh filsafat Zen dapat menciptakan kelahiran jenis puisi pendek dan memukau, dan yang pasti kesederhanaan bahasa dalam cara penyampaiannya bisa menjadi bukti kedalaman semantik.

Haiku adalah cara melihat dunia. Haiku mencerminkan kehidupan spiritual penyair, dan haiku yang baik seharusnya bisa masuk ke dalam kehidupan spiritual para pembacanya. “Haiku,” kata RH Blyth, “harus dipahami dari sudut pandang Zen.  Daisetz Suzuki, juga mengatakan bahwa selain Zen, “haiku tidak mengungkapkan gagasan tapi … mengemukakan gambar yang mencerminkan intuisi”.  “Ketegangan dan kontras antar gambar,” kata Finlay, adalah komposisi penting dalam haiku.

Objek-objek yang ada di alam adalah unsur penting dalam puisi Zen (haiku).  Dalam haiku tradisional Jepang, hampir selalu ada “kata musim”. Jika ada kata yang tidak menyebutkan musim secara langsung, itu adalah kata benda yang bisa dikenali terkait dengan waktu tertentu dalam setahun. Ini “kata-kata orientasi” yang disebut sebagai Kigo, biasanya menyangkut langit, sungai, danau, laut, geografi, benda-benda astronomi, hewan, atau tumbuhan.

Mayoritas haiku mencapai efek utamanya melalui perangkat yang disebut Kireji, yang berfungsi membuat teks terpenggal menjadi dua bagian yang mana tiap-tiap bagian  mencerminkan sebuah gambar. Terkadang garis potong sepenuhnya muncul secara alami lewat penjajaran yang bersifat kontradiktif, sebagaimana prinsip zen itu sendiri, yakni: merangkul dua hal yang berlawanan (kontradiktif) dan mengintegrasikan keduanya, untuk menghasilkan suatu kondisi yang kita sebut sebagai pengalaman baru atau pencerahan. Kireji memiliki efek: penekanan pada suatu objek, memotong alur cerita, dan akhirnya memunculkan suatu ending cerita yang membuat mata pembaca jadi terbuka karena menemukan suatu pengalaman yang baru (Kensho).

Menghadirkan kontradiksi adalah salah satu tujuan haiku, melalui pemahaman atasnya maka alam pikiran bawah sadar dibangkitkan menuju suatu kesadaran. Singkat kata, kontradiksi dihadirkan dalam haiku dalam rangka untuk membangkitkan kesadaran pada nilai-nilai kehidupan. Satori atau Kensho (pencerahan yang tidak sedalam satori) adalah efek dari kontemplasi. Ciri-ciri haiku yang bersifat kontemplatif maka ada terkandung kontradiksi atau paradoks di dalamnya. Dua hal yang saling bertolak belakang itu akan memancarkan kilas-kilas cahaya bila disejajarkan. Pada pengertian ini Ma atau ruang kosong harus dihadirkan dan pertimbangan di mana tanda kireji (cut marker) harus diletakan.  Keterpenggalan haiku sejatinya terjadi pada suatu titik di mana dua hal yang kontrakdiktif muncul dan di sejajarkan. Keterpenggalan itu menimbulkan luka atau celah, ruang jeda ini yang kita sebut sebagai Ma.

Haiku yang terpenggal menjadi dua bagian, yang mana tiap-tiap bagian itu mencerminkan satu gambar, lalu keduanya diperbandingkan. Dalam menjajarkan dua gambar ini; haijin harus memiliki intuisi bahwa beberapa hal tertentu, walaupun memiliki karakteristik “berlawanan”, namun memiliki resonansi satu sama lain yang akan membangkitkan sebuah pencerahan ketika disandingkan sesuai dengan estetika haiku yang telah teruji waktu.

Apa itu Intuisi? Intuisi adalah istilah untuk kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Pemahaman itu tiba-tiba saja datangnya dan di luar kesadaran. Intuisi terkadang disebut sebagai indera keenam manusia. Kalau pada hewan kita menyebutnya sebagai instink. Tidak semua intuisi berasal dari kekuatan psikis. Sebagian intuisi bisa dijelaskan sebab musababnya, salah satunya dipahami sebagai refleks yang muncul sebagai buah ketekunan mengolah jiwa dan raga.

Intuisi haijin harus terhubung dengan Zoka (watak seni kreatif alam), intuisi biasanya muncul sebagai efek pikiran kontemplatif, hal yang dilakukan dengan cara  mengosongkan pikiran dari ide, gagasan, imajinasi, atau pengetahuan yang dimilikinya, dan menyatu dengan alam. Intuisi ototmatis muncul dan mengisi kekosongan pikiran, dan semua ini terkait dengan Shikantaza dan  5 sikap mental Zen yang akan sedikit dibahas dalam tulisan ini. Mungkin haiku katak karya Basho di bawah ini masih sangat relevan untuk menjadi contoh bagaiman bentuk asli haiku Zen:

 

古 池 や や 蛙 び こ む 水 の 音

“Furuike ya / kawazu tobikomu / mizu no oto”

 

Kolam yang tua:

katak melompat masuk

suara air

 

Haiku di atas sederhana sekali. Ini merupakan prinsip penting dalam penulisan puisi Zen, haiku harus disampaikan dalam bahasa yang sederhana agar mudah dicerna oleh umum. Dalam haiku, setiap kata berarti sesuatu atau ada maknanya sendiri. Pada tingkat objektif, terlihat kata benda mengendalikan pembaca di setiap baris: “kolam,” “katak,” dan “air.” Puisi itu bersifat visual dan aural, seperti yang kita lihat katak melompat masuk dan kita mendengar percikan. Haiku Zen selalu menghadirkan satu adegan. Adegan dalam haiku di atas melibatkan kolam dan katak, yang mana katak adalah objek utama atau sang tokoh hero dalam adegan sesaat itu.

Dalam haiku Zen semacam ini, bahwa tindakan sederhana seekor katak yang melompat ke kolam adalah fenomena nyata yang disensor oleh indera manusia langsung dari alam, dan apa yang tersirat di dalamnya mewakili ketenangan kehidupan yang seimbang, puisi yang keluar dari dalam diri, mencerminkan kecerdasan emosional spiritual penulisnya. Dalam sudut pandang Zen, setiap orang hidup di dunia yang diciptakannya lewat kesadarannya sendiri.

Haiku adalah ungkapan pengalaman langsung, bukan ungkapan gagasan tentang pengalaman. Kesalahan yang paling umum dilakukan oleh penulis haiku pemula adalah menggunakan haiku untuk mengekspresikan “ide” tentang pengalaman, bukan “pengalaman” itu sendiri. Haiku adalah ekspresi Zen yang paling menyeluruh. ‘Moment haiku’ demikian tidak lain adalah kilasan kecil dari realitas tertinggi yang nyata terjadi di depan mata. Haiku adalah fenomena alam itu yang kita lihat melalui cermin (pikiran yang jernih adalah sebuah cermin), suatu kejadian yang kita sensor secara langsung dengan kelima indera, di suatu tempat pada setitik waktu, dan kita sampaikan kepada pembaca sebagaimana adanya.

Banyak haijin yang menyatakan: “ini moment haiku!” Tapi ego subjektif, sebut saja sentiment, imajinasi, ide-ide, dogma, atau pengetahuan dalam pikiran haijin mengganggu persepsi mereka tentang objek itu. Mereka hanya mampu mengekspresikan “ide” tentang pengalaman mereka, bukan mengungkapkan tentang “pengalaman” itu sendiri secara jernih, jujur, dan tidak menipu diri sendiri.

Dalam perspektif Zen, tentang kondisi optimal untuk pembuatan haiku, ada dua kondisi yang penting: Pertama ada priming dan internalising dari bentuk – masuk ke suasana (mood) dan mode haiku.  Kedua, dan yang lebih penting, adalah membuka pikiran kontemplatif.  Basho menasehati: “Saat membuat sebuah ayat jangan sampai batas rambut memisahkan pikiran Anda dari apa yang Anda tulis; komposisi sebuah puisi harus dilakukan dalam sekejap, seperti penebang kayu yang menebang pohon besar atau seorang pendekar pedang yang melompat ke musuh yang berbahaya”.

Haiku adalah cermin fenomena alam bagaimana adanya. Mereka menarik perhatian kita seperti adanya. Secara intuitif kita menangkap sebuah resonansi bahwa mereka mengungkapkan bagaimana hal itu seperti yang dialami oleh manusia. Alam menampilkan dirinya dalam sebuah adegan, tanpa dorongan puitis dari siapa pun, dan dengan intuisi kita menangkapnya sebagai suatu bayangan di cermin kehidupan. Kita menyadari bahwa “itu capung atau katak”, dan kita hanya menyampaikan kepada pembaca bahwa gambar capung itu sebagai capung, gambar katak itu sebagai katak, bukan sebagai sesuatu yang lainnya.

Perasaan metafora mungkin sangat kuat ketika penyair memiliki perasaan sendiri dalam pikiran (pikiran subjektif) ketika menyampaikan adegan. Namun penggunaan metafora dalam haiku bertentangan dengan prinsip haiku Zen: “menghargai adegan alami yang terjadi di alam sebagai realitas tertinggi yang ada di depan mata”.  Aspek kejujuran dan ketulusan haijin pada alam jadi dipertanyakan. Haiku yang baik memang biasanya cenderung ditangkap sebagai metafora oleh pembacanya, ini kondisi manusiawi yang beresonansi dengan adegan alami yang kita sampaikan. Namun haijin sama sekali tidak berniat menyampaikan itu sebagai suatu metafora. Metafora atau bukan biasanya hanya sesama haijin yang dapat membedakannya dengan jelas.

Haiku adalah puisi alam. Ketika alam berubah dramatis hanya penyair haiku terbaik yang bisa mengekspresikan drama dan mempertahankan semangat haiku tanpa memikirkan melodrama subjektif. Wawasan tentang momen haiku dan bagaimana haiku berproses di dalam diri haijin menjadi isu menarik untuk dibahas. Dalam momen haiku, kesigapan haijin dalam menangkap momen itu akan mempengaruhi bagaimana haiku berproses di dalam dirinya. Sejak awal selalu ditekankan kepada haijin pemula: singkirkan segala macam ide, pikiran, dogma, kepercayaan, dan pengetahuan ketika menangkap momen haiku.

Kekuatan haiku Zen terletak pada perwujudan bentuk dan kekosongan. Dalam “kesadaran kekosongan”, pikiran adalah cermin, bukan lensa. Sifat cermin adalah hanya menampilkan suatu bayangan, seperti halnya bayangan bulan di dalam kolam. Apa pun yang muncul di dalam cermin hanya diamati, tanpa diberi komentar seperti: “indah, sejuk, dingin, atau menghangatkan hati, dst”. Prinsip haiku Zen ini pernah dikritik oleh Masaoka Shiki sebagai suatu hal yang kaku.  Shiki bukan pendeta Zen ataupun samurai seperti Matsuo Basho yang berjasa memperbaharui Hokku (cikal bakal haiku) sehingga bisa berdiri sendiri dari rangkaian puisi renga atau haikai.

Prinsip penting yang dinyatakan kaku itu justru berkembang dan berakar kuat, dikatakan sebagai salah satu inti Zen, pada seni bela diri tradisional yang sangat dipahami oleh para samurai Jepang. Namun secara umum, Masaoka Shiki telah berjasa besar  dengan memisahkan hokku dari rangkaiannya dan memberinya nama Haiku. Berkat jasa besar seorang Masaoka Shiki maka haiku jadi begitu terkenal dan tersebar luas ke seluruh dunia, menjadikan puisi yang sangat pendek ini sebagai bagian dari sastra dunia.

2.  SIKAP MENTAL ZEN TERKAIT SENI HAIKU

Dalam konteks menambah wawasan tentang haiku tradisional Jepang (hokku) maka kita harus berbicara tentang pengertian Zen dan kondisi mental Zen: Mushotoku, Hishiryo, Zanshin, Fudoshin, Mushin. Lima kondisi mental Zen ini sangat jelas merupakan sumber atau akar dari berbagai aturan haiku Zen yang kita kenal sangat ketat.  Sebagaimana yang dikatakan Matsuo Basho kepada murid-muridnya yang mengeluh tentang aturan yang ketat, Basho bilang: “Pelajari dan pahami. Setelah itu lupakan!”.

Dalam sebuah artikel yang berjudul “What is Zen?”, dijelaskan bahwa mendefinisikan Zen ibarat mencoba menggambarkan rasa madu kepada seseorang yang belum pernah mencicipinya.  “Anda bisa mencoba menjelaskan tekstur dan aroma madu, atau Anda bisa mencoba membandingkan dan mengkorelasikannya dengan makanan sejenis. Namun sayang madu! Selama Anda belum mencicipinya, Anda berada dalam ilusi tentang apa itu madu”.

Zen adalah praktik yang perlu dialami, bukan konsep intelektualitas yang dapat dipahami dengan otak.  Zen adalah laku spiritual, pengertiannya dalam bahasa Jepang adalah meditasi. Tanpa meditasi maka Zen bukanlah Zen. Meditasi Zen adalah cara kewaspadaan dan penemuan jati diri dilakukan: duduk dengan tenang, berhenti bergerak, dan lepaskan pikiran. Fokus hanya pada pernapasan, biarkan ego dan akal bawah sadar mengalir, bergabung dengan alam semesta.

Meditasi Zen atau Zazen adalah salah satu bentuk kontemplasi diri. Intinya adalah kontemplasi, menyelidik ke dalam diri sendiri, dan ini bukan  merupakan suatu kepercayaan, dogma, agama, dan bukan pula teori, gagasan, atau pengetahuan. Ini adalah tentang pengalaman praktis kehidupan spiritual para penganut Zen dalam menemukan kesadaran atau pencerahan diri.

Pengertian Zen sendiri agak kenyal dan sulit untuk didefinisikan. Saat anda berfikir bahwa anda sudah berhasil mendefinisikannya maka bisa jadi itu bukan Zen lagi.  Haiku mengandung dua aspek yakni: seni dan spiritualisme. Ada puisi dalam konsep seni untuk seni, dan ada pula puisi yang berpegang pada konsep seni untuk spiritualisme. Hokku adalah sebutan untuk haiku tradisional Jepang, merupakan refleksi dari filosofi Zen, kental menerapkan prinsip: puisi sebagai seni untuk tujuan spiritual.

Zen tidak tertarik pada teori metafisik atau ritual. Zen fokus sepenuhnya pada praktik meditasi sadar, dilakukan dengan sangat sederhana, dan dalam kesederhanaan sikap di keseharian maka banyak keindahan memunculkan dirinya di depan mata kita, muncul dari fenomena nyata di keseharian, mungkin itu sesuatu yang luput dari perhatian kita yang selama ini dipenuhi oleh pikiran beragam persoalan hidup. Pencerahan jiwa itu bagaikan fenomena melihat bulan di dalam kolam: bulan tidak rusak di dalam air, dan air kolam tidak meluap karena ada bulan di sana. Tidak ada yang berubah, namun ada keindahan bathiniah yang terlihat dan kita nikmati, kita saksikan langsung di dalamnya.

Hampir semua manusia menyadari bahwa dalam berinteraksi dengan  tiap makhluk yang tercipta selalu ada dua sisi yang harus dihadapinya, bahkan hal ini juga melekat pada dirinya sendiri: baik-buruk, hitam-putih, tinggi-rendah, lebar-sempit, atas-bawah, perang-damai, senang-susah, bahkan sorga-neraka. Dua sisi dari lembar kehidupan ini sering dipahami sebagai kontradiksi kehidupan. Kontradiksi adalah realitas kehidupan.

Zen tidak menilai baik atau buruk segala hal, tidak berusaha menjawab pertanyaan subjektif yang berkaitan dengan  Tuhan, akhirat, reinkarnasi, dan spiritualisme karena itu bukan isu penting bagi Zen. Saat sekarang, di sini, dan saat ini adalah hal yang penting bagi Zen. Dengan tegas Zen mengatakan bahwa tidak ada yang tahu jawaban atas pertanyaan tersebut. Bahwa pertanyaan tersebut tidak mungkin dijawab karena kondisi kita terbatas, hakikat kita tidak sempurna.

Zen dengan senang hati menerima gagasan bahwa pria hanyalah laki-laki, capung hanyalah capung, dan tidak lebih dari itu. Menyadari apa adanya, tidak ingin berspekulasi menjawab pertanyaan tentang hidup yang tidak mungkin dijawab tanpa jatuh ke dalam perangkap ilusi. Tidak ada yang tahu jawaban atas pertanyaan mendalam tentang kehidupan dan kematian. Agama memberikan jawaban atas segala sesuatu sebagai tanda “kebijakan agung”. Zen bukan agama, karena itu tidak memberikan jawaban sama sekali adalah hikmat agung.

Zen tidak menolak materialisme, namun menolak ketergantungan padanya. Dalam prinsip Zen: kita perlu merangkul sipritualisme dan materialisme, seperti halnya kita memahami eksistensi sisi depan dan belakang selembar kertas. Zen menganggap kehidupan ini tak ubahnya selembar kertas yang memiliki dua sisi, merangkul dua hal yang berlawanan (kontradiksi) dan mengintegrasikan keduanya  untuk menghasilkan suatu kondisi yang dapat membantu seseorang mencapai dimensi tertinggi, mushotoku.

Konsep Mushotoku, mungkin lebih tepat digambarkan sebagai sikap tulus dalam bertindak untuk segala hal. Ini mewakili keadaan pikiran dimana seseorang secara rohaniah tidak memikirkan timbal-balik apapun ketika berbuat. Ini kearifan universal yang melampaui dualitas kehidupan (kontradiksi kehidupan) dan melampaui kerbatasan yang diciptakan oleh ego manusia.

Janganlah berlatih pedang untuk ketenaran atau keuntungan. Jangan mempraktikkannya untuk mendapatkan hadiah; Jangan mempraktikannya untuk mendapatkan kekuatan esoteris (kekuatan metafisik). Berlatihlah pedang untuk diri sendiri, dalam rangka bertahan hidup. Konsep ini merupakan langkah awal menuju penyatuan diri sejati dengan alam semesta. Sikap tulus menghargai fenomena alam dan sesuatu yang alami, sikap yang harus ditanamkan ke dalam diri haijin, filosofinya berakar pada konsep ini.

Mushotoku berarti menyingkirkan keterikatan pada tingkat mental, yaitu menjadi tidak terikat dengan keuntungan pribadi dalam segala bentuk. Melepaskan keuntungan berarti melepaskan diri sendiri. Pada akhirnya, sikap berserah diri adalah prestasi terhebat yang bisa Anda capai. Mushotoku adalah Anda, saya dan seluruh alam semesta dalam ketulusan murni.

Konsep Hishiryo adalah keadaan pikiran yang tidak memikirkan apapun, tapi menyadari pikiran yang datang dan pergi.  Bila Anda berpikir terlalu banyak, konflik dan peperangan menguasai pikiran Anda, mencegah Anda untuk menemukan kedamaian sejati. Hal ini mencegah Anda untuk selaras dengan kenyataan, dan dengan alam semesta secara keseluruhan.  Imajinasi dan keinginan pribadi Anda mengekspresikan diri mereka ke dalam pikiran Anda, membawa Anda menjauh dari kondisi sederhana, damai, asli pikiran Anda. Hishiryo adalah kesadaran egolessness mutlak, dalam kesatuan penuh dengan seluruh alam semesta.  Tidak memikirkan apapun adalah Jalan. Begitu Anda tahu ini, semuanya menjadi Jalan. (Bodhidharma).

Konsep Zanshin. Setiap tindakan dan setiap pikiran di sini dan sekarang harus benar dan harmonis: ini adalah Zanshin. Konsep ini  yang ditemukan di berbagai cabang seni Zen, Budo (seni bela diri Jepang), terutama Kendo, dan Ikebana (rangkaian bunga), chado (upacara minum teh) dan sumi-e (lukisan tinta). Konsep Zanshin adalah bahwa seseorang harus hadir sepenuhnya dalam tindakan apa pun yang ada. Saat saya makan, saya makan. Pikiran saya sepenuhnya terlibat dalam aksi makan. Saat aku bertarung, aku bertarung. Pikiran saya sepenuhnya terlibat dalam aksi berkelahi. Saya berada di sini dan sekarang, benar-benar tenggelam dalam momen haiku yang saya alami.  Jika Anda tidak bahagia di sini dan sekarang, bagaimana Anda bisa bahagia? (Taisen Deshimaru).

Konsep Fudoshin adalah ‘pikiran tak tergoyahkan’, yaitu pikiran yang telah memenuhi semua tantangan kehidupan, dan telah mencapai ketenangan dan ketidakberdayaan. Fudoshin dikaitkan dengan perasaan tak terkalahkan, pikiran yang tidak bisa diganggu oleh perasaan melankolis subjektif, kebingungan, keraguan-keraguan, atau ketakutan.  Di Feudal Japan, Fudoshin diwujudkan dalam demonstrasi keberanian Samurai yang tak diragukan lagi, dan tekad untuk menghadapi kesulitan, bahaya, rasa sakit, dan bahkan kematian, tanpa rasa takut. Sebagai pendekar pedang Jepang, Tsukahara Bokuden berkata: “Ketenangan mental, bukan keterampilan , adalah tanda samurai yang matang “.  Seluruh bulan dan seluruh langit tercermin dalam satu embun di rumput. (Dogen Zenji).

Konsep Mushin adalah inti dari seni bela diri Zen. Mushin secara harfiah berarti “pikiran tanpa pikiran”, dan ini biasa disebut “keadaan tanpa pikiran”. Ini adalah keadaan dimana pikiran tidak dikendalikan oleh pikiran yang mengganggu seperti: keasyikan, ketakutan, kehawatiran, atau emosi, entah dalam pertempuran atau kehidupan sehari-hari. Karenanya pikiran terhubung dengan Kosmos. Dalam kehidupan sehari-hari Anda, jika suatu kehendak atau keinginan berbuat sesuatu karena adanya dorongan yang diungkapkan sebagai pemikiran sadar, itu bukan Zen. Spontanitas, inilah intinya. Keadaan pikiran murni ini, dari kejernihan mental murni, dihasilkan oleh tidak adanya ego atau keterbatasan diri. Pikiran Mushin bukanlah pikiran kosong seperti cangkang kosong, sebaliknya, ini adalah kondisi mental dimana pikiran benar-benar hadir, sadar dan bebas.

Konsep Mushin identik dengan ekspresi metafora Jepang “Mizu no Kokoro” atau “pikiran seperti air.” Sikap mental ini mengacu pada pikiran yang selaras total dengan Cosmos sehingga menyerupai kolam yang masih ada air tanpa riak, dimana permukaannya menampilkan citra lingkungan sekitar yang jelas dan tidak terdistorsi, seperti cermin.

Mushin tercapai bila pikiran seseorang terbebas dari amarah, ketakutan, atau ego selama pertempuran atau kehidupan sehari-hari. Pikiran Mushin tidak memiliki Ego dan tidak ada substansi; Itu adalah Pencerahan murni dan merupakan realisasi sempurna dari diri. Keadaan pikiran ini membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berlatih. Mushin tercapai bila pikiran seseorang terbebas dari kemarahan, ketakutan, penghakiman, atau ego selama pertempuran atau kehidupan sehari-hari.  Fenomena tidak berbeda dengan kekosongan, kekosongan tidak berbeda dengan fenomena. (Sutra Hati).

3.  CARA SEDERHANA MENAMPILKAN WABI-SABI DALAM HAIKU

Wabi-sabi adalah konsep estetika tradisional Jepang,  ini merupakan estetika Zen, merupakan filosofi cara melihat dunia, berpusat pada “kesadaran kekosongan” dan penerimaan ketidakkekalan dan ketidaksempurnaan. Estetika ini kadang-kadang digambarkan sebagai “menemukan keindahan” di dalam suatu yang tidak sempurna, tidak kekal, dan tidak lengkap. Namun bila dikaji lebih jauh lagi Wabi-Sabi merupakan kristalisasi filosofi cara berpikir Zen yang tertuang dalam beragam bentuk ekspresi  seni Zen

Wabi-Sabi dalam haiku adalah hal yang terkait dengan objek yang disensor dengan indera kita, dalam suatu peristiwa atau adegan yang terjadi di alam, misalkan: menatap ranting-ranting gundul lalu terlihat pula daun-daun kering berguguran dan berserak. Ekspresi muncul karenanya, di dalam diri kita, perasaan melankolis yang tenang, terselip rasa kesepian, dan ada kerinduan yang tak tersimpulkan atau tak uraikan. Namun seketika kita  menyadari tiga realitas sederhana yang harus terjadi di dalam kehidupan fana ini: tidak ada yang abadi, tidak ada yang sempurna, tidak ada yang selesai.

 

gemertik ranting

daun gugur berserak

di jalan sunyi

 

WABI merujuk pada kesederhanaan, kesunyian, keheningan, kesegaran atau ketenangan suasana pedesaan, dan dapat diterapkan pada objek alami dan buatan manusia, atau keanggunan yang bersahaja.  Wabi adalah jiwa yang berusaha menemukan sesuatu di dalam sabi. Wabi mengacu pada konstruksi filosofis atau lima sikap mental spiritual Zen (Mushotoku, Hishiryo, Zanshin, Fudoshin, Mushin), ruang “kesadaran kekosongan” pada diri haijin, atau jalan hidup atau jalan spiritual.

SABI adalah konstruksi estetis yang berakar pada OBJEK dan fitur-fiturnya, ditambah dengan kemunculannya dalam suatu musim atau waktu, kronologi atau adegan, dan objektivitas dalam cara penyampaiannya. Sabi merujuk pada sesuatu yang berubah di dalam waktu. Filosofi ketidakkekalan dan ketidaksempurnaan adalah landasannya.

Objek-objek Kigo dalam haiku umumnya mengandung makna sabi. Objek-objek itu merujuk pada musim atau waktu tertentu, datang dan hilangnya objek-objek itu terkait dengan musim atau waktu. Ada filosofi ketidakkekalan dan ketidaksempurnaan hidup di dalam objek kigo. Karena itu haijin harus jeli, dan harus memilih diksi yang tepat agar makna ketidakkekalan dan ketidaksempurnaan yang tersembunyi dalam objek kigo, mencuat dengan sendirinya meski tanpa interpretasi atau ide-ide atau tanpa subjektifitas pikiran haijin di dalamnya.

Basho mengubah WABIZUMAI yang ia alami ke dalam PUISI SABI, dan melankolis alam muncul menjadi semacam kerinduan yang tak berujung, kerinduan tanpa disertai kesedihan. Membuat ketegangan antara wabi dan sabi merupakan pengalaman yang memperkaya dan tak habis-habisnya.  SABI sebagai ekspresi luar dari nilai estetika dibangun di atas prinsip-prinsip metafisik dan spiritual Zen, namun haijin menterjemahkan nilai-nilai ini ke dalam kualitas artistik dan material. Objek mencerminkan fluks universal “datang dari” dan “kembali ke.” Mereka mencerminkan ketidakkekalan yang tetap menyenangkan dan provokatif, yang mengarahkan pembaca ke refleksi dan kontemplasi-kembali ke wabi-kembali lagi ke sabi. Sebuah pengalaman estetika yang dimaksudkan untuk menghasilkan perspektif holistik yang damai dan transenden.

Ketika seorang haijin menulis sebuah haiku tentang sesuatu yang ia inginkan, dia akan sering mencoba untuk menangkap keindahan sementara dan kualitas abadi dalam keindahan, merangsang munculnya perasaan melankolis yang menguntungkan untuk ditulis sebagai haiku. Haiku yang paling sukses dari jenis ini menghasilkan kejelasan persepsi di mana pembaca melihat subjek haiku untuk apa adanya.

Misteri sabi mencuat ketika menyimak pernyataan dari Basho: “Dimana tidak ada sabi, akan ada kesedihan.” Maka sabi tidak mencakup apa yang biasanya diartikan sebagai kesedihan. SABI melampaui kebahagiaan dan kesedihan pada kualitas kesepian dalam eksistensi tunggal. Kesendirian Sabi, menurut Alan Watts, adalah dalam melihat sesuatu “terjadi ‘sendiri’ dalam spontanitas yang menakjubkan.” Kejutan besar adalah bahwa ketika kita membenamkan diri kita di alam, merasakan kesepian, untuk saat ini, dari segala sesuatu. Sabi kesepian seperti ini adalah keadaan di mana, tidak memiliki apa-apa, kita memiliki semua.

Dalam perspektif Zen, memahami kekosongan dan ketidaksempurnaan adalah langkah pertama menuju pencerahan. Matsuo Basho bilang: “Sabi adalah warna dasar (priming) haiku.” Pada pandangan yang dangkal tentang Sabi biasanya merujuk pada sesuatu yang sudah tua, aus, tenang, lembut dan bermartabat.  Sabi adalah sikap menerima apa yang muncul di dalam kekosongan pikiran, terkait dengan berbagai perubahan yang terjadi di alam, seiring laju perubahan waktu.

Sikap penerimaan yang diwarnai dengan perasaan yang melampaui rasa sedih atau bahagia, sikap menerima karena memahami bahwa kenyataan hidup: tidak ada yang sempurna, tidak ada yang kekal, tiap-tiap sesuatu yang tercipta pasti akan menemui takdirnya sendiri. Sabi adalah sejenis emosi melankolis murni dan agung, realitas tertinggi yang diterima dengan cara “tidak memusatkan emosi melankolis yang muncul dari alam sekitar ke dalam diri sendiri”, tetapi semua itu diterima sebagai rasa hormat atas apa adanya!

Singkat kata, haiku adalah puisi cerminan filosofi Zen, seperti prinsip meditasi Zen yang menekankan pada “sekarang, saat ini, di sini”. Tidak seperti puisi lainnya, haiku umumnya tidak menggunakan metafora atau citra yang tidak jelas atau pikiran subjektif penyair. Haiku muncul dari kehidupan spiritual penulis, dan haiku yang terbaik berbicara kepada kehidupan spiritual pembaca. Lantas apa yang dimaksudkan dengan pengetian pencerahan dalam konsep haiku?

Kita simak kalimat berikut ini: “Sebelum pencerahan; Potong kayu, bawa air. Setelah pencerahan; Potong kayu, bawa air. ” (Buddha). Pencerahan adalah seperti melihat bulan di dalam kolam yang jernih, keduanya sama-sama tidak ada yang berubah. Bulan tidak rusak di dalam air, dan air kolam tidak meluap karena ada bulan di dalamnya. Pencerahan pada esensinya adalah menemukan suatu keindahan di hal-hal yang sederhana,  sebagai buah melankolis objektif yang muncul dari hasil mengamati siklus alam, berkat kepekaan diri terhadap alam dan keadaan yang ada di sekeliling kita.

4.  MEDITASI SHIKANTAZA

Shikantaza secara harfiah, berarti “hanya pikiran duduk.” Paling tidak, Anda harus jelas bahwa Anda sedang duduk. “Pikiran Anda hanya duduk” berarti mengetahui bahwa tubuh Anda sedang duduk di sana. Ini tidak berarti memikirkan bagian tertentu dari tubuh Anda atau terlibat dalam sensasi tertentu. Seluruh tubuh Anda sedang duduk di sana, duduk dengan pikiran tunggal.

Shikantaza adalah ‘kesadaran kosong’, di mana pikiran adalah cermin, bukan lensa. Duduk berkonsentrasi dalam  ketenangan mental sambil mengamati alam semesta, mengacu pada kesadaran kekosongan. Apapun yang muncul hanya diamati, tanpa komentar mental, dan larut seperti gelembung. Bagi Haijin (penyair haiku) ini adalah cara melatih senstivitas Anda terhadap alam, teknik melatih fokus pikiran dan kontemplasi, menjawab pertanyaan tentang maksud atau pengertian “objek dan subjek menjadi satu”, misteri Haiku Zen yang jarang terungkap.

Secara tradisional, penyair haiku telah menganggap alam sebagai materi pelajaran mereka, karena lebih mudah diakses secara kontemplatif. Haiku adalah ekspresi Zen yang paling menyeluruh. Mereka juga merupakan salah satu dari beberapa ‘Jalan’ meditasi (seperti kaligrafi dan lukisan tinta minimal, zenga dan haiga) yang bentuknya keduanya memberi ekspresi pada wawasan dan membantu memperdalamnya. ‘Saat haiku’ demikian tidak lain adalah kilasan kecil dari realitas tertinggi yang sebenarnya adalah apa yang ada di depan mata kita. Ini berarti bahwa haiku harus muncul dari pikiran yang terbuka dan terhalang oleh dorongan untuk mewujudkan realitas yang telah menarik perhatian si penyair.

Banyak haijin memahami apa itu yang namanya ‘momen haiku’. Tapi ego subjektif, sebut saja sentimen atau  imajinasi, mengganggu persepsi mereka tentang objek itu. Haiku tidak lebih dari sekadar cerminan bagaimana adanya. Mereka kadang tidak menarik perhatian kita seperti adanya. Namun mereka mengungkapkan bagaimana hal itu seperti yang dialami oleh manusia.

Lebih dari sekedar itu, memahami Shikantaza berarti memahami pula “sikap haiku”,  membuka wawasan kita tentang keluasan makna perkataan Basho: “Saat membuat sebuah ayat jangan sampai batas rambut memisahkan pikiran Anda dari apa yang Anda tulis; komposisi sebuah puisi harus dilakukan dalam sekejap, seperti penebang kayu yang menebang pohon besar atau seorang pendekar pedang yang melompat ke musuh yang berbahaya”.

Ini adalah praktik meditasi shikantaza , atau “hanya duduk.” Anda duduk, bersila jika bisa, dan membiarkan pikiran Anda sendiri. Bila Anda berhenti berpikir, Anda mencapai titik non-berpikir. Ini adalah salah satu paradoks khas Zen yang membuat otak Anda mencoba dan memutar-mutar kata-kata itu, “bukan”, “non-berpikir” dan “berpikir” untuk mencari tahu apa artinya.

Tidak seperti bentuk meditasi lainnya, shikantaza tidak melibatkan konsentrasi pada benda, seperti nafas atau mantra. Ini adalah “meditasi tanpa tujuan,” di mana Anda berfokus pada semua hal pikiran alami Anda: suara, perasaan – tanpa melekat pada salah satu dari keduanya. Ketika Anda sampai di sana, Anda tahu apa itu.

Begitu Anda menyesuaikan postur tubuh Anda, tarik napas dalam-dalam, tarik napas dan buang napas, gerakkan tubuh Anda ke kanan dan ke posisi duduk yang mantap dan tidak bergerak. Jangan berpikir-berpikir. Menurut Anda bagaimana tidak-berpikir? Tidak berpikir. Ini sendiri adalah seni penting Shikantaza.

Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa meditasi dalam bentuk apapun baik untuk otak. Bahkan jika Anda tidak ingin mengikuti jalan meditasi, atau tradisi tertentu, hanya duduk selama beberapa menit setiap hari bisa menjadi cara yang bagus untuk kembali berhubungan dengan kenyataan dan mengisi ulang otak Anda. Anda bisa menggunakan hanya duduk di tanah sendiri, untuk mengambil beberapa menit dari pusaran dunia di sekitar Anda.

Anda sudah pasti pernah melakukan ini berkali-kali. Mungkin Anda sedang mendaki gunung, dan menemukan pemandangan yang sangat bagus. Anda duduk di beberapa batu, dan hanya duduk. Pada awalnya, Anda melihat pandangan itu, tapi kemudian pikiran Anda berhenti sejenak saat Anda menghargai kesunyian, dan kesederhanaan hanya saat ini. Atau mungkin ini adalah hari musim panas yang malas, duduk di geladak, mendengarkan lebah yang berdengung di sekitar Anda. Selama beberapa menit, Anda merasa terpisah dari kekhawatiran dunia, dan pikiran Anda terasa jernih. Hal ini terjadi pada kita semua, dari waktu ke waktu, tapi Anda bisa mengolahnya, berlatih secara teratur.

Anda bisa melakukan ini di mana saja, hampir setiap saat. Mulai di rumah; Paling mudah memulai di tempat yang sepi tanpa gangguan. Temukan tempat yang sepi untuk duduk: Anda tidak perlu duduk bersila di atas bantal meditasi, sebuah kursi juga bisa. Yang harus Anda lakukan adalah mencoba dan menjaga punggung tetap lurus.

Letakkan tangan Anda di paha Anda, tutup mata Anda atau mata menatap ke bawah sekitar satu meter di depan anda. Rasakan pernapasan Anda. Berkonsentrasi pada kenyataan bahwa Anda sedang bernafas. Anda mungkin akan menyadari bahwa pikiran Anda mulai menunjukkan kepada Anda berbagai gambar, dan Anda melompat ke arah mereka seperti anak yang mengejar mainan baru. Biarkan pikiran itu pergi. Jangan mencoba dan menghentikan mereka; Mereka hanya akan menjadi lebih kuat Tujuannya bukan untuk menyingkirkan pikiran, membungkam diri sendiri; Ini hanya tentang membiarkan pikiran itu menjadi dan tidak terikat di dalamnya. Biarkan saja mereka pergi.

Perlakukan pikiran Anda seolah-olah awan di langit. Anda mungkin melihat awan, melihat mereka bergerak, tapi Anda tidak akan pernah lupa bahwa di belakang mereka adalah langit biru yang jernih. Pikiran Anda tidak jelas: mereka muncul, mereka berada di tengah panggung, lalu mereka memudar. Begitu Anda menyadari hal ini, Anda mengerti bahwa semua pikiran Anda bisa hilang begitu saja jika Anda membiarkannya. Tidak perlu mengusir mereka; Biarkan mereka terus berjalan sendiri.

Di shikantaza , kita mencoba melangkah lebih jauh lagi, tanpa berpikir, melakukan meditasi tanpa tujuan. Untuk menemukan langit biru yang ada di balik awan pemikiran itu. Jangan khawatir tentang itu. Duduk saja, biarkan pikiran datang dan pergi, dan, saat Anda tersesat, kembalilah kepada kesadaran bahwa Anda sedang bernafas. Jangan khawatir tentang berapa lama Anda duduk, jangan khawatir tentang apa yang Anda butuhkan untuk dimasukkan ke dalam 15 menit atau satu jam atau satu hari. Berada bersama diri sendiri, biarkan diri Anda memiliki waktu untuk sekedar duduk.

Bila sudah cukup, bangun perlahan, dan jangan terburu-buru melakukan yang harus Anda lakukan selanjutnya. Cobalah dan biarkan perasaan santai yang Anda alami saat duduk sebentar sebelum kembali ke dunia. Jika Anda bisa melakukan ini selama beberapa menit setiap hari, Anda akan mulai menyadari bahwa tubuh Anda perlu menunda sendiri sesekali. Hal tentang hanya duduk adalah bahwa Anda dapat melakukannya di mana saja. Yang dibutuhkan hanyalah keinginan untuk duduk saja. Jangan khawatir tentang kebisingan di sekitar Anda; Anda akan terbiasa membiarkannya memudar.

Bahkan jika Anda tidak ingin “bermeditasi”, Anda bisa mencoba hanya duduk sebagai cara mencabut pikiran dari berbagai gangguan yang Anda hadapi siang hari. Hanya butuh beberapa menit, tidak ada biaya apapun, dan Anda benar-benar bisa melakukannya di mana saja. Hal yang hebat tentang hanya duduk adalah Anda dapat melakukannya tidak peduli apa keyakinan Anda. Apakah Anda seorang Buddhis, Kristen, atau Muslim, hanya duduk bisa sesuai dengan pandangan dunia Anda. Bahkan jika Anda tidak ingin bermeditasi, mungkin Anda mendapati bahwa hanya duduk selama beberapa menit setiap hari – bebas dari gangguan – akan membersihkan pikiran Anda.

Mengenai praktik ini, Dogen menasihati sebuah jenis tindakan yang tidak biasa ini, yaitu aktivitas yang sama sekali tidak peduli dengan manfaat atau pencapaian tujuan tersembunyi: aktivitas ‘hanya duduk’ atau ‘tidak ada apa-apa-tapi-duduk’ ( shikantaza ) dimana diri -memeriksa disisihkan dengan cara yang menyerupai ‘tubuh dan pikiran’ yang tegas. Namun, ini bukan hanya penyatuan ketenangan dan wawasan, lebih dari itu maka ini adalah deskripsi tentang esensi alami dan fungsi pikiran.

Sementara Anda berlatih hanya duduk, jelaskan semua hal yang terjadi dalam pikiran Anda. Apapun yang Anda rasakan, sadarilah, tapi jangan pernah meninggalkan kesadaran seluruh tubuh Anda bahwa Anda sedang duduk di sana. Ini adalah praktik yang sangat menuntut, membutuhkan ketekunan dan kewaspadaan. Jika latihan Anda berjalan dengan baik, Anda akan mengalami sensasi dan pikiran “menghempas”. Anda harus tetap bersamanya dan mulai mengambil ruang di seluruh lingkungan sebagai tubuh Anda. Apa pun yang memasuki pintu indra Anda menjadi satu totalitas, terbentang dari tubuh Anda ke seluruh lingkungan. Ini adalah iluminasi diam.

Shikantaza adalah “hanya duduk, adalah peringatan perhatian nonselektif yang tidak mengejar atau menekan pikiran, sensasi, dan lain-lain, namun, sebaliknya, memberi perhatian yang jelas terhadap apa pun yang muncul dan lenyap dari kesadaran. Shikantaza adalah pikiran seseorang Samurai yang menghadapi pertarungan hidup-mati. Mungkin dapat dibayangkan bahwa Anda terlibat dalam duel ilmu pedang seperti itu, jenis pertarungan yang biasa terjadi di Jepang kuno. Shikantaza sering disebut meditasi tanpa gol dalam kesadaran tenang.

Tenang duduk dalam kesadaran terbuka, yang mencerminkan langsung realitas kehidupan. Tidak ada pikiran yang berada di dalam pikiran selamanya. Semuanya akan datang dan pergi, dan kita membiarkan semuanya berjalan dengan bebas dan membiarkan mereka pergi dengan bebas. Kami tidak mencoba untuk melawan pikiran atau kondisi mental lainnya, dan kami juga tidak mencoba untuk berinteraksi dengan mereka. Tujuannya bukan untuk memahami apa yang muncul dari kesadaran Anda, melainkan untuk mencapai wawasan tentang Alam Sejati (kensho). Tidak mengerjakan koan apapun, atau menghitung nafas. Ini adalah kondisi waspada, dilakukan tegak, tanpa jejak kelesuan atau kantuk.

Meditasi Shikantaza berarti mengklarifikasi dasar pemikiran dan tinggal dengan nyaman di alam Anda yang sebenarnya. Ini disebut mengungkapkan diri Anda dan mewujudkan landasan aslinya. Bebas dari pertimbangan kebaikan dan kejahatan, Shikantaza melampaui perbedaan antara orang biasa dan orang bijak, hal itu melampaui penilaian yang tertipu atau tercerahkan. Mediatasi Shikantaza tidak mencakup batas antara makhluk hidup dan Sang Maha Pencipta. Karena itu sisihkan semua urusan, dan lepaskan semua asosiasi. Tidak melakukan apa-apa Keenam indra itu tidak menghasilkan apa-apa. Ini bukan memoles cermin tapi cermin yang secara alami tidak terikat oleh gambar yang dipantulkan.

“Tidak-berpikir” berarti “tidak berpikir dalam pikiran.” Tidak taat adalah sifat asli manusia. Pikiran tidak berhenti dari waktu ke waktu. Pemikiran sebelumnya digantikan setiap saat oleh pemikiran selanjutnya, dan pikiran terus berlanjut satu demi satu tanpa henti. Jika, untuk satu saat pikiran, ada jeda, tubuh sejati memisahkan diri dari tubuh fisik, dan di tengah pemikiran berturut-turut tidak akan ada keterikatan terhadap materi apa pun. Jika, untuk satu saat pikiran, ada taat, maka akan ada banyak pikiran berturut-turut, dan inilah yang disebut melekat. Jika, sehubungan dengan semua hal tidak ada yang abadi dari momen pemikiran sampai saat berpikir, maka tidak ada kemelekatan. Tidak taat pada apa yang muncul dalam pikiran adalah dasarnya.

Dalam melepaskan pemikiran, kita melepaskan sikap subyek pemikiran batin dan membuka diri pada bidang pengalaman langsung. Anda melepaskan diri dari pengambilan tindakan dan dengan demikian melepaskan objek dari konseptualisasi. Dengan demikian melepaskan subjek dan objek, Anda berlatih segera hadir dalam kepenuhan pengalaman.

Sedangkan untuk apa yang terjadi saat duduk, bisa jadi apa saja. Satu-satunya hal yang penting adalah apakah seseorang tersedot oleh kejadian yang sedang berlangsung atau tidak. Anda sebenarnya tidak perlu melakukan apapun kecuali membiarkan hal-hal yang terjadi di dalam pikiran mengalir. Namun ketika Anda menyadari bahwa Anda berinteraksi dengan apa yang terjadi dalam pikiran Anda, berhentilah berinteraksi dan kembali ke postur zazen sambil bernafas dengan mata terbuka. Itu berarti Anda melepaskan pikiran apa pun yang muncul, Dan Anda juga tidak tidur. Inilah intinya dalam latihan duduk.

Hal ini berarti tidak sengaja memikirkan sesuatu (shiryu), juga bukan sengaja memikirkan sesuatu (fushiryo), tapi hanya menyadari pikiran yang datang dan pergi (hishiryō). Atau dengan kata lain, bukan pikiran sibuk, bukan pikiran yang tertidur, tapi pikiran sadar, dalam kesatuan penuh dengan kosmos. Tidak memikirkan apapun adalah Jalan. Begitu Anda tahu ini, semuanya menjadi Jalan.

@CopyRightBeniGuntarman

******
Sumber Tulisan: Disarikan dari berbagai sumber.

 

 

 

EMOTIONAL SPIRITUAL QUOTIENT HAIKU


Hampir semua manusia menyadari bahwa dalam berinteraksi dengan  tiap makhluk yang tercipta selalu ada dua sisi yang harus dihadapinya, bahkan hal ini juga melekat pada dirinya sendiri: baik-buruk, hitam-putih, tinggi-rendah, lebar-sempit, atas-bawah, bahkan sorga-neraka. Dua sisi dari lembar kehidupan ini sering dipahami sebagai kontradiksi kehidupan. Kontradiksi adalah realitas kehidupan. Realitas kehidupan yang kita alami tidak selalu gelap seperti malam dan tidak juga selalu terang seperti siang. Siang dan malam selalu datang silih berganti dan kita manusia tidak akan pernah mampu mengaturnya.

Kontradiksi itu selalu terjadi di tiap tempat di bumi yang fana, di tiap waktu, dan di tiap fenomena kehidupan.  Zen merangkul dua hal yang berlawanan (kontradiksi) dan mengintegrasikan keduanya  untuk menghasilkan suatu kondisi yang dapat membantu seseorang mencapai dimensi tertinggi, mushotoku atau mencapai tingkat Ihsan dalam sudut pandang ajaran Islam. Ihsan adalah sikap seorang hamba dalam menyembah Allah, seolah-olah ia Melihat-Nya. Tetapi jika ia tidak melihat-Nya maka ia menyadari bahwa segala gerak-geriknya, bahkan apa yang ia hanya sembunyikan dalam hati, selalu dilihat oleh Dzat Yang Maha Mengetahui.

Tiada yang abadi dalam kehidupan ini kecuali perubahan. Dari satu titik waktu ke titik waktu berikutnya adalah perubahan. Jadi esensi waktu adalah perubahan dan perubahan itu sendiri adalah waktu: detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, fajar, pagi, siang, senja, malam, musim penghujan, pancaroba, musim kemarau, musim dingin, musim semi, musim panas, dan juga musim gugur.  Perubahan-perubahan seperti ini terjadi sejak beribu-ribu abad waktu, dan musim tetaplah musim meski ia bergeser lebih cepat atau datang lebih lambat dari seharusnya.

Ada banyak macam perubahan: bersifat acak, teratur, bersiklus, ada yang bisa diramalkan, dan biasanya lebih banyak yang sulit untuk diramalkan oleh akal dan nalar manusia. Aneka ragam bentuk perubahan terjadi dalam skala mikro kosmos hingga makro kosmos. Suatu bintang yang kita lihat berkedip-kedip di malam hari, ada yang butuh ribuan tahun perjalanan  cahaya untuk sampai ke bumi, ketika kita melihatnya saat itu kita tidak pernah tahu apakah bintang itu masih ada di tempatnya ataukah ia telah lebur menjadi kepingan meteor yang tersebar ke dalam luasnya jagad raya.

Menghadirkan kontradiksi adalah salah satu tujuan haiku, melalui pemahaman atasnya maka alam pikiran bawah sadar dibangkitkan menuju suatu kesadaran. Singkat kata, kontradiksi dihadirkan dalam haiku dalam rangka untuk membangkitkan kesadaran pada nilai-nilai kehidupan. Satori atau pencerahan adalah efek dari kontemplasi. Ciri-ciri haiku yang bersifat kontemplatif maka ada terkandung kontradiksi di dalamnya. Dua hal yang saling bertolak belakang itu akan memancarkan kilas-kilas cahaya bila disejajarkan. Pada pengertian ini Ma atau ruang kosong harus dihadirkan dan pertimbangan di mana tanda kireji (cut marker) harus diletakan.  Keterpenggalan haiku sejatinya terjadi pada suatu titik di mana dua hal yang kontrakdiktif muncul dan di sejajarkan. Keterpenggalan itu menimbulkan luka atau celah, ruang jeda ini yang kita sebut sebagai Ma.

Ma adalah ruang yang sepenuhnya dalam pengaturan haijin, dengan menghadirkan satu gambar lalu menghadirkan satu gambar berikutnya, guna memunculkan sebuah kilas cahaya atau pengalaman baru bagi pembaca atau hal yang sering kita sebut sebagai pencerahan. Melalui itu haiku yang keluar dari spiritual haijin disampaikan kepada spiritual pembaca.  Haiku yang kontemplatif adalah haiku yang keluar dari spiritual haijin, menghadirkan kontradiksi lewat penggambaran suatu fenomena nyata yang terjadi di alam, suatu adegan yang disensor langsung oleh haijin di suatu tempat di suatu waktu, dan berefek memberikan pencerahan atau pengalaman baru bagi pembacanya.

Zanshin adalah konsep penting lainnya yang ditemukan dalam seni Zen: Budo (seni bela diri Jepang), terutama Kendo, dan di banyak seni Jepang lainnya, seperti Ikebana (rangkaian bunga), chado (upacara minum teh) dan sumi-e (lukisan tinta). Konsep Zanshin adalah bahwa seseorang harus hadir sepenuhnya dalam tindakan apa pun yang dilakukannya. Saat saya makan, saya makan. Pikiran saya sepenuhnya terlibat dalam aksi makan. Saat aku bertarung, aku bertarung. Pikiran saya sepenuhnya terlibat dalam aksi berkelahi. Saya berada di sini dan sekarang, tenggelam sepenuhnya dalam apa yang sedang saya kerjakan.

Dalam terminologi Buddhis, kekuatan haiku Zen terletak pada perwujudan bentuk (gambar yang disajikan oleh haijin) dan kekosongan dari subjektifitas penyair.  Konsep Zashin penting untuk diketahui oleh haijin, bahwa diri haijin  harus hadir sepenuhnya ketika menyusun komposisi haiku, tidak boleh membiarkan selembar rambutpun yang menghalangi pikirannya dari apa yang ditengah ditulisnya.

Dengan pemahaman atas konsep ini maka kekuatan haiku Zen dibangun, perwujudan bentuk dihadirkan tanpa melibatkan subjektifitas penyair. Segala ide, pikiran, pengetahuan, dogma, gagasan, dan subjektifitas harus disingkirkan jauh-jauh.  Konsep Zashin berbicara tentang bagaimana intuisi harus tampil dan membimbing haijin ketika menulis haiku. Intuisi adalah cermin kecerdasan emosional dan spiritual haijin.  Haiku harus keluar dari kehidupan spiritual penulis, dan haiku yang terbaik berbicara kepada kehidupan spiritual pembaca

Untuk bisa membuat haiku yang kontemplatif maka kita harus menyelidiki lebih jauh bagaimana prinsip-prinsip Zen berproses di dalam diri Grand Master Matsuo Basho ketika menulis Hokku (cikal bakal haiku). Dalam artikel yang berjudul “What is Zen?”, dijelaskan bahwa mendefinisikan Zen ibarat mencoba menggambarkan rasa madu kepada seseorang yang belum pernah mencicipinya.  “Anda bisa mencoba menjelaskan tekstur dan aroma madu, atau Anda bisa mencoba membandingkan dan mengkorelasikannya dengan makanan sejenis. Namun sayang madu! Selama Anda belum mencicipinya, Anda berada dalam ilusi tentang apa itu madu”.

Hal yang sama berlaku untuk Zen. Karena Zen adalah praktik yang perlu dialami, bukan konsep intelektualitas yang dapat dipahami dengan otak.  Zen adalah laku spiritual, pengertiannya dalam bahasa Jepang adalah meditasi. Tanpa meditasi maka Zen bukanlah Zen. Meditasi Zen adalah cara kewaspadaan dan penemuan jati diri dilakukan: duduk dengan tenang, berhenti bergerak, dan lepaskan pikiran. Fokus hanya pada pernapasan, biarkan ego dan akal bawah sadar mengalir, bergabung dengan alam semesta.

Meditasi Zen atau Zazen adalah salah satu bentuk kontemplasi diri. Intinya adalah kontemplasi, menyelidik ke dalam diri sendiri, dan ini bukan  merupakan suatu kepercayaan, dogma, agama, dan bukan pula teori, gagasan, atau pengetahuan. Ini adalah tentang pengalaman praktis kehidupan spiritual para penganut Zen dalam menemukan kesadaran atau pencerahan diri. Guna penerapannya dalam Haiku Indonesia,  maka kita tidak perlu menjadikan diri kita menjelma menjadi seperti seorang Matsuo Basho atau yang lainnya. Masing-masing orang dan masing-masing generasi akan menemukan jalannya sendiri.

Ini adalah soal bagaimana mengelola kecerdasan emosi dan spiritual diri (Emotional Spiritual Quotient atau ESQ) guna mendapatkan keseimbangan antara hubungan Horizontal (hubungan manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya) dan hubungan Vertikal ( hubungan manusia dengan Tuhan yang menciptakan dan mengendalikan segala sesuatu yang ada di alam semesta).

Pengertian Zen sendiri agak kenyal dan sulit untuk didefinisikan. Saat anda berfikir bahwa anda sudah berhasil mendefinisikannya maka bisa jadi itu bukan Zen lagi.  Haiku mengandung dua aspek yakni: seni dan spiritualisme. Ada puisi dalam konsep seni untuk seni, dan ada pula puisi yang berpegang pada konsep seni untuk spiritualisme. Hokku adalah sebutan untuk haiku tradisional Jepang, merupakan refleksi dari filosofi Zen, kental menerapkan prinsip: puisi sebagai seni untuk tujuan spiritual.

Zen tidak tertarik pada teori metafisik atau ritual. Zen fokus sepenuhnya pada praktik meditasi sadar, dilakukan dengan sangat sederhana, dan dalam kesederhanaan sikap di keseharian maka banyak keindahan memunculkan dirinya di depan mata kita, muncul dari fenomena nyata di keseharian, mungkin itu sesuatu yang luput dari perhatian kita yang selama ini dipenuhi oleh pikiran beragam persoalan hidup. Pencerahan jiwa itu bagaikan fenomena melihat bulan di dalam kolam: bulan tidak rusak di dalam air, dan air kolam tidak meluap karena ada bulan di sana. Tidak ada yang berubah, namun ada keindahan bathiniah yang terlihat dan kita nikmati, kita saksikan langsung di dalamnya.

Terampil menghadirkan kontemplasi dalam haiku dapat  membebaskan diri haijin dari belenggu-belenggu yang mengganggu dan menghambat pengembangan potensi diri sendiri, seperti belenggu prasangka negatif, belenggu kepentingan dan prioritas yang egois, belenggu sudut pandang yang sempit, belenggu pembanding-pembanding yang bersifat subyektif dan menyesatkan.  Haijin akan menjadi orang yang merdeka dalam arti sesungguhnya.  Haiku akan mampu meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual (ESQ) bagi yang tekun mendalaminya, yaitu: kecakapan mengendalikan emosi dan mengasah kedalaman spiritual, berupa konsistensi, kerendahan hati , berusaha dan berserah diri, ketulusan atau keikhlasan, totalitas, keseimbangan, integritas, dan ihsan.

Karena itu betapa pentingnya untuk selalu menghadirkan kontemplasi dan objektifitas (kecerdasan emosi dan spiritual) dalam haiku. Memperhatikan makna dari setiap kata yang kita tulis sebagai teks haiku. Pembaca akan menyimaknya, lalu akan membangun imajinasi dan mencari makna kata-kata haiku itu berlandaskan pengalamannya dari beraktivitas dan berinteraksi dengan alam dan orang-orang di sekitarnya, mencernanya berdasarkan rasa dari pengalaman hidup yang menempa dirinya. Haiku harus keluar dari kehidupan spiritual penulis, dan haiku yang terbaik berbicara kepada kehidupan spiritual pembaca.

@CopyRightBeniGuntarman

********

DASAR-DASAR HAIKU (Belajar Menulis Haiku)


I. PENGERTIAN DAN ESENSI HAIKU

Apa itu haiku? Haiku adalah puisi singkat yang terdiri dari 17 suku kata. Ditulis dalam tiga baris dengan pola 5-7-5 suku kata, dan haruslah mengandung dua hal ini: Kigo, dan Kireji. Meski ditulis dalam 3 baris namun haiku pada prinsipnya terdiri dari 2 bagian yang disejajarkan. Bagian terpanjang disebut Frase (12 suku kata) dan bagian terpendeknya disebut fragmen (5 suku kata). Keterpotongan 17 suku kata suara itu menjadi dua bagian yang mana masing-masing bagian adalah membentuk satu gambar dinamakan sebagai “Fungsi Kireji”. Kireji dalam haiku Jepang berupa huruf-huruf tertentu, yang dalam tradisi sastra Jepang mengandung makna tersendiri.

Kireji tidak ada terjemahannya dalam bahasa lain di luar bahasa Jepang. Namun kireji dicari setaranya dalam tradisi haiku berbahasa Inggris…maka digunakanlah tanda baca yang tidak menimbulkan suara agar tidak terhitung sebagai suku kata. Tanda baca bisa berupa: titik, titik koma, titik dua, koma, tanda seru, dan seterusnya. Namun Asosiasi Haiku Amerika membenci adanya tanda baca itu, mereka lebih suka polos tanpa tanda baca sama sekali. Mereka berpendapat ada jeda sintaksis yang terjadi secara alami ketika haiku dibaca, dan saat terjadi jeda itu haiku terpenggal dan ruang kosong sesaat terjadi. Ruang kosong ini disebut Ma.

Frase dan fragmen dihubungkan oleh sebuah ruang kosong (Ma) yang tercipta karena adanya jeda sintaksis. Kombinasi antara terisi dan hampa dalam haiku, inilah yang bisa menciptakan pengalaman estetis. Jeda sintaksis atau Ma atau ruang kosong adalah kehampaan atau kekosongan dianggap bisa ‘menampilkan’ sesuatu, oleh sebab itu kehampaan bersifat selalu dinamis.

Haiku adalah puisi tentang alam, tentang keterkaitan manusia dengan alam dan lingkungan di sekitarnya. Objeknya adalah tentang segala sesuatu yang ada di alam. Bisa itu tentang hewan, tumbuhan, sungai, laut, danau, rawa, gunung, bukit, hutan, bintang, bulan, matahari, dan juga tentang aktifitas manusia yang terkait dengan alam atau terkait pula dengan suatu perayaan keagamaan, peringatan tentang suatu hari yang penting dan bersejarah bagi suatu bangsa, perayaan ulang tahun, peringatan haul tokoh terkenal, atau berbagai festifal yang sifatnya tahunan.

Manusia sebagai subjek dan sekaligus objek dalam haiku. Manusia pada satu sisi, dan alam pada sisi lainnya. Manusia tak dapat dilepaskan dari alam, manusia menikmati alam baik itu dari sisi keindahannya maupun dari sisi manfaatnya bagi pemenuhan kebutuhan atau dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Sikap haiku, ketika berinteraksi dengan alam maka haijin harus menghargai alam tanpa bermaksud mengatur dan mencampuri proses-proses yang terjadi di dalamnya. Haijin harus belajar dari alam, mencermati segala perubahan di alam: perubahan bentuk, warna, kualitas, maupun kuantitasnya. Sejarah interaksi manusia dengan alam, dalam sepanjang peradabannya, dalam kearifan lokal dan tradisionalnya manusia menandai perubahan-perubahan itu sebagai pertanda waktu. Pada prinsipnya waktu itu disekat-sekat dalam musim, atau dengan kata lain: musim adalah representasi waktu dalam haiku.

Di dalam setiap musim ada banyak hal yang berubah: ada keindahan bunga yang bersinar dan ada yang memudar, ada yang bangkit dan ada yang tertidur, ada yang muncul dan ada pula yang menghilang. Kigo adalah referensi waktu atau musim dalam haiku. Kigo juga merupakan representasi dari kekuatan objek alam yang diwakilinya. Jadi yang terkandung dalam suatu objek kigo itu adalah: 1) Ada isyarat musim, siang, atau malam sebagai referensi waktu 2) Ada Zoka atau watak alam yang konsisten berubah dan mengubah banyak hal, watak alam yang sukar diatur dan diukur batas-batas kekuatannya sebagai representasi objek alam dan tanda-tanda perubahan atau gerak gerik semesta yang tercermin pada tanaman, hewan, benda-benda astronomi, sungai, danau, hutan, dan seterusnya 3) Ada dimensi ruang (tempat) sebagai konsekwensi keterkaitan ruang dan waktu yang tak terpisahkan.

Bumi ini sangat luas, berbentuk bulat dan bergerak mengelilingi matahari dan juga berputar pada porosnya. Pada tanggal dan jam yang sama, di bumi Amerika, Jepang, Eropa, Indonesia, Afrika Selatan, atau Mesir jatuh pada suasana siang atau malam atau musim yang belum tentu sama. Bulat bola bumi terdiri dari beberapa zona iklim. Setiap perbedaan satu derajat tempat di muka bumi ini memiliki perbedaan waktu sekitar satu jam. Musim di negara tropis seperti Indonesia hanya terdiri dari dua jenis musim: penghujan dan kemarau; tidak sama dengan musim di negara-negara di wilayah zona subtropis seperti Jepang atau negara-negara di Eropa sana yang memiliki empat jenis musim: dingin, semi, panas, dan musim gugur.

Kigo adalah referensi musim di tempat mana haijin berada ketika saat haiku terjadi. Anda mengalami saat haiku di Indonesia maka gunakanlah kigo musim di Indonesia, bila anda tengah berada di Paris sana gunakanlah kigo musim yang tengah berlaku di sana. Aspek kejujuran dalam mengungkapkan realitas tertinggi yang ada di depan mata harus anda jaga sebagai konsekwensi menghargai alam, dan juga agar haiku bisa memberikan nilai positif bagi diri haijin sendiri.

Haiku umumnya menghadirkan 2 objek yang ada di alam, maksimal 3 objek, dan sangat jarang hanya satu objek. Namun harus ada adegan tunggal tercermin dalam cerita, hanya ada satu objek utama di dalamnya. Haiku dilihat sebagai adegan karena secara filosofi yang bernilai adalah prosesnya. Objek utama adalah objek yang tampil layaknya seorang hero, ia mewarnai keseluruhan isi cerita, dan haiku adalah sepenggal cerita atau adegan tentang si hero. Tidak sekedar menyajikan cerita atau adegan, harus ada makna dan pesan dari adegan yang disampaikan. Harus ada ketegangan dalam cerita agar haiku tidak hambar atau datar. Harus ada filosofi agar terasa menggigit dan bermakna. Persoalan terbesarnya adalah bagaimana membangun hal puitis itu agar mudah diingat dengan sekali baca karena singkatnya (hanya 17 suku kata), dan juga persoalan bagaimana pesan dan makna itu bisa sampai dan dipahami oleh pembaca, menampilkan sesuatu yang indah dan berkesan serta bermanfaat bagi penulis dan pembacanya.

Prinsip-prinsip penting yang harus diperhatikan dalam penulisan haiku,  hal ini terkait erat dengan filosofi yang melandasi estetika sabi, wabi, wabi-sabi, dan yugen yang terkandung dalam suatu ayat haiku selama berabad waktu:
1) Memperlakukan objek-objek haiku yang ada di alam dengan sikap kerendahan hati, tidak merasa lebih hebat atau merasa lebih tahu dengan apa yang terjadi di alam meski ketimbang seekor semut sekalipun…maka simpan segala ide, pikiran, emosi, komentar, atau persepsi

2) Menghargai alam sebagaimana bentuk, warna, dan kualitas aslinya di tengah semesta…maka tidak ada metafora atau sejenisnya

3) Coba memahami atau menggali atau menemukan sesuatu yang tersembunyi di dalam apa yang dilihat, didengar, dirasa, dicium, atau dikecap…maka penyair merekam objek berdasarkan suara, bau, rasa, gerak-gerik atau prosesnya, bukan pada hasil akhirnya

4) Selalu berpikiran positif atas ketidaksempurnaan bentuk, warna atau kualitasnya sebagai objek…membawa penyair menemukan keindahan (sesuatu yang terasa indah dan bermakna) di dalam sesuatu yang tidak sempurna, di dalam sesuatu yang bersifat fana atau di dalam sesuatu yang memudar atau di dalam sesuatu yang berubah seiring musim (waktu)

5) Sebuah haiku hanya menyajikan gambar atau menghadirkan objek yang sarat makna. Penyair yang membuat haiku itu menjadi hidup dan berbicara sendiri kepada pembacanya…maka tuliskan haiku dengan bahasa yang sederhana agar adegan itu tergambarkan dengan jernih, mudah dicerna, mudah dipahami oleh pembaca.

6) Penyair harus menikmati terlebih dahulu keindahan dan rasa berdasarkan pada apa yang ia lihat, apa yang ia dengar, apa yang ia rasakan, apa yang ia cium, dan atau apa yang ia kecap sebelum ia berpikir bagaimana cara menyampaikan hal itu kepada pembaca. Karena bagaimana mungkin bisa berkata bahwa hal ini indah atau bermakna bila ia sendiri tidak melihat, tidak mendengar, atau tidak merasakannya sendiri ….sediakan waktu untuk sejenak merenung guna menyimpulkan pengalaman seperti apa yang ditemui saat itu. Pengalaman yang sifatnya membuat penulis seakan ingin berkata “lihatlah ini…di sini, saat ini!”.

7) Untuk menulis sebuah ayat haiku kita harus menemukan jawaban atas tiga pertanyaan: apa, kapan, dan di mana…..apa adalah objek utamanya apa dan adegannya seperti apa….kapan adalah waktu…ada isyarat kapan itu terjadi…di mana—adalah tempat di mana hal itu terjadi….tempat bisa disebutkan atau tidak perlu disebut asalkan bisa dicerna oleh pembaca lebih kurang di mana adegan itu terjadi.

Contoh-contoh haiku karya 4 Grand Master Haiku:

Di kolam tua_
katak melompat masuk
suara air
(Basho)

Putih plum mekar
di kedai teh Kitano
pegulat sumo
(Buson)

Bahkan di Kyoto
mendengar cuckoo itu
kurindu Kyoto
(Issa)

Gigit kesemek
terdengar bunyi lonceng
Kuil Horyu-ji
(Shiki)

II. CARA MENEMPATKAN KIGO DAN KIREJI DALAM HAIKU

KIGO

  1. Tentukan saat yang anda ceritakan dalam haiku itu apakah terjadinya di pagi hari, siang, senja, atau malam hari. Bila mengenali musim yang sedang terjadi, maka sebut isyarat musimnya misalkan kata: katak, laron, bunga bakung, rumput memanjang, randu berbunga untuk mengisyaratkan musim penghujan. Atau sebutkan: jati meranggas, randu meranggas, lalang terkulai, sungai atau danau menyusut untuk mengisyaratkan muisim kemarau. Bisa juga menyebutkan langsung kata pagi, senja, siang, malam, penghujan, kemarau sebagai kigo haiku.
  2. Kigo yang mengisyaratkan waktu siang, malam, pagi, atau senja atau misalkan kata yang menyebutkan: capung, kupu, jangkrik, ngengat, babi, rusa, burung yang terbang, dan seterusnya maka itu disebut sebagai KIGO KECIL. Menyebutkan kata musim atau isyarat musim maka disebut KIGO BESAR. Bila dalam satu ayat haiku ada kigo kecil dan kigo besar maka kigo yang berlaku untuk ayat haiku itu adalah kigo besar. Ada dua kigo dalam satu ayat haiku harus hati-hati digunakan agar keduanya tidak saling membunuh satu sama lain.
  3. Tidak ada ketentuan kigo harus diletakan di baris berapa. Bila KIGO diletakan di baris pertama, maka dua baris berikutnya haijin harus menyebutkan APA yang terjadi saat itu dan lebih kurang hal itu terjadi DI MANA atau langsung menyebutkan nama tempatnya,
  4. Bila KIGO diletakan di baris ketiga maka pada baris pertama dan kedua bersifat menjelaskan APA yang terjadi atau yang menarik perhatian atau yang mengesankan diri anda, dan ada gambaran DI MANA hal itu terjadi.
  5. Haiku harus memiliki objek utama. Bila objek utama itu dikenali sebagai objek yang memiliki isyarat musim misalkan kata “katak berdengkung atau laron bertamu” maka anda punya lebih banyak ruang untuk mengeksplorasi rasa dalam haiku dengan memperkuat citraan tempat atau citraan objek utama itu sendiri.
  6. Catat baik-baik nama-nama hewan, tumbuhan, atau teknik diksi yang biasa digunakan dalam mengisyaratkan atau berfungsi sebagai referensi waktu atau musim. Susunlah daftar kigo anda sendiri agar memudahkan dalam menulis haiku.

KIREJI

  1. Gunakan tanda baca titik, koma, titik dua, titik koma, tanda seru, atau tanda tanya sebagai tanda kireji saat anda mulai menulis haiku di word atau di kertas sebelum diposting. Hal ini perlu dilakukan dalam rangka memastikan bahwa haiku anda ada Kirejinya.
  2. Bila setelah kalimat baris pertama anda berikan tanda koma atau tanda seru, maka berarti haiku terpenggal di akhir baris pertama. Misalkan anda menuliskan kalimat “Di kolam tua,” maka dua baris berikutnya anda harus menyebutkan APA yang mengesankan hati anda dengan tempat itu lalu rangkaikan dengan KIGO yang merujuk waktu atau musim saat hal itu terjadi.
  3. Atau misalkan anda menyebutkan kalimat KIGO “Hujan berderai!” maka dua baris selanjutnya anda harus menyebutkan APA yang mengesankan hati anda dengan suasana atau saat itu dan dirangkai dengan kalimat yang mengisyaratkan atau menyebutkan secara langsung DI MANA hal itu terjadi.
  4. Bila di baris pertama anda menyebutkan APA yang mengesankan anda lalu diberi tanda jeda koma, titik, dan seterusnya; misalkan kalimat “suara ombak, angin menderu, atau menyulut sepi, dan seterusnya”…selanjutnya harus dijelaskan KAPAN (KIGO) hal itu terjadi dan lebih kurang DI MANA tempat kejadiannya.
  5. Demikian hal yang serupa harus anda lakukan bila membubuhkan tanda Kireji di akhir kalimat baris kedua.
  6. Kenali karakter dan persepsi umum untuk kata sifat, kata kerja, atau kata bendanya yang terkandung dalam setiap objek yang anda sebutkan di dalam haiku yang ditulis. Untuk setiap tanda kireji yang anda letakan di akhir kalimat baris ketiga maka harus DIDAHULUI oleh kalimat kata sifat atau kata benda sebelum meletakan tanda kireji di ujungnya

III. WORK SHEET SKETSA HAIKU

Sebelum menuangkan apa yang anda alami ke dalam haiku maka bagi pemula diupayakan untuk terlebih dahulu belajar membuat Kertas Kerja Haijin (Work Sheet) guna merancang semuanya agar bisa membuat haiku yang baik. Tuangkan terlebih dahulu hasil observasi ke dalamnya agar dapat memilih dan memilah mana yang penting untuk ditonjolkan atau untuk pemaknaan suasana.

OBSERVASI: Terdengar suara tonggeret di pohon-pohon besar yang hijau di sudut tikungan jalan saat aku hendak pergi berenang ke pantai. Saat itu ada terlihat sehelai daun kuning melayang jatuh

THEMA : Suasana menjelang musim kemarau tiba

OBJEK-OBJEK:

Terlihat: pohon-pohon besar, tikungan jalan, daun kuning melayang jatuh

Terdengar: suara tonggeret

Terasa : nuansa sedih pada suara tonggeret terdengar, dan begitu juga saat kulihat daun kuning jatuh melayangt

KATA KUNCI:

Kigo: suara tonggeret

Tempat: di sudut tikungan jalan

Adegan: terdengar suara tonggeret, daun melayang jatuh

KELOMPOK KATA

5 Suku Kata: bunyi tonggeret, tikungan jalan, di simpang jalan……(Silakan dilanjutkan)

7 Suku Kata: daun melayang jatuh,…….(Silakan dilanjutkan)

Alternatif Haiku:

#1

Bunyi tonggeret

Daun melayang jatuh;

Di simpang jalan
#2

Terjatuh daun

Dalam lengking tonggeret;

Di simpang jalan

#3

Silakan lanjutkan sendiri

 

IV. PROSES KREATIF MENULIS HAIKU (KOMPOSISI)

Setelah membuat Work Sheet atau Kertas Kerja maka selanjutnya haijin pemula mulai menulis haiku. Dalam Work Sheet haijin telah memilih dan memilah-milah objek apa yang didengar, dilihat, dirasa, dicium, atau diraba saat momen haiku terjadi. Kigo pun telah ditetapkan, sementara cara pengungkapannya mungkin harus disesuaikan dengan pertimbangan komposisi dan juga pemaknaan isi keseluruhan haiku yang ditulis.

Haijin selalu dianjurkan agar mulai menuangkan rasanya dengan menuliskan terlebih dahulu ke dalam kalimat yang terdiri dari dua kelompok suku kata suara yakni, 5 dan 7 suku kata. Misalkan dituliskan begini:

bunyi tonggeret
daun melayang jatuh
………………..

Sampai di sini maka haijin harus mulai berpikir “DI MANA TANDA KIREJI (CUT MARKER) HARUS DITEMPATKAN”!? Di akhir kalimat baris pertamakah atau di akhir kalimat baris kedua atau ketiga? Mari kita simak fungsi Kireji.

Ada tiga fungsi kireji yakni : Fungsi pertama sebagai penekanan makna. Fungsi kedua sebagai tanda penggal (cut marker) yang menandakan bahwa satu bagian telah selesai dan membentuk gambarnya sendiri, artinya ia telah memotong alur cerita, Fungsi ketiga sebagai ancang-ancang utuk melakukan lompatan atau lari atau memberikan kejutan dengan memunculkan gambar baru yang dapat memberikan wawasan baru bagi pembaca.

Satu gambar telah selesai, lalu teks terpenggal atau terjadi jeda sesaat ketika haiku dibacakan, selanjutnya haijin harus menyampaikan gambar berikutnya untuk diperbandingkan. Dalam jeda sesaat itu ada ruang kosong yang disebut sebagai Ma. Sebagaimana telah dijelaskan di bagian pertama tulisan ini, bahwa kombinasi antara terisi dan hampa dalam haiku adalah hal yang bisa menciptakan pengalaman estetis. Jeda sintaksis atau Ma atau ruang kosong adalah kehampaan atau kekosongan dianggap bisa ‘menampilkan’ sesuatu, oleh sebab itu kehampaan harus bersifat dinamis.

Untuk menetukan di mana kireji harus diletakan, setelah menulis dua belas suku kata, maka selanjutnya harus menimbang-menimbang: apakah tanda kireji akan diletakan di akhir kalimat baris pertama, atau diletakan di akhir kalimat baris kedua, atau diletakan di akhir kalimat baris ketiga ( untuk tanda kireji di akhir kalimat baris ketiga biasanya berupa tanda seru atau tanda tanya). Apakah yang menjadi pedoman bagi seorang haijin dalam menimbang-nimbang tempat di mana tanda kireji harus diletakan? Itulah yang namanya estetika haiku! Untuk estetika haiku, ada yang namanya Sabi, Wabi, Wabi-Sabi, Yugen, dan Mono No Aware. Kireji pada dasarnya adalah estetika, bagian penting dari seni visual Jepang. Seni merangkai bunga, seni lukisan, bahkan seni beladiri Jepang pun menerapkan prinsip-prinsip ini.

Kita kembali ke contoh di atas. Maka kita kembali melihat pada apa yang tercatat di Work Sheet….

OBSERVASI: Terdengar suara tonggeret di pohon-pohon besar yang hijau di di sudut tikungan jalan saat aku hendak pergi berenang ke pantai. Saat itu ada terlihat sehelai daun kuning melayang jatuh
THEMA: Suasana menjelang musim kemarau tiba

OBJEK-OBJEK:
Terlihat: pohon-pohon besar, tikungan jalan, daun kuning melayang jatuh
Terdengar: suara tonggeret
Terasa : nuansa sedih pada suara tonggeret terdengar, dan begitu juga saat kulihat daun kuning jatuh melayang.

KATA KUNCI:
Kigo: suara tonggeret
Tempat: di sudut tikungan jalan
Adegan: terdengar suara tonggeret, daun melayang jatuh

Lalu kita simak apa yang telah kita tuliskan:

bunyi tonggeret
daun melayang jatuh
……………………
Sekarang kita baca pelan-pelan (berulang-ulang kali). KAPAN (Kigo) sudah ada. APA sudah ada banyangan, meski belum begitu sempurna. Selanjutnya DI MANA, apakah keberadaan tempat sudah bisa dicerna atau dibayangkan di mana kiranya adegan ini terjadi?

Dalam persepsi umum, bunyi tonggeret dan daun melayang jatuh dapat dibayangkan bahwa keduanya berada di sekitar tempat sama yang ada pohonnya. Bisa jadi di hutan, di kebun, di pinggir jalan, di taman, dan seterusnya. Maka haijin sudah boleh mengabaikan “DI MANA” bila ingin diabaikan, atau sengaja menyebutkan tempatnya dengan maksud tertentu yang tak terlepas dari pertimbangan letak tanda kireji dan estetika yang harus dimunculkan.

Satu hal yang harus selalu diingat ketika mempertimbangkan letak tanda kireji dan mempertimbangkan gambar selanjutnya yang harus dimunculkan, yakni: “KETIKA APA YANG TERTULIS DI BARIS PERTAMA DAN BARIS KETIGA MEMILIKI HUBUNGAN KUAT BAIK ITU BERUPA ADEGAN, SUASANA, RASA , NUANSA, GAMBAR, IMAJINASI, HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT DAN SETERUSNYA; MAKA HAIKU BIASANYA LENGKAP ATAU BULAT”!!!!!

Seperti halnya kita menangkap ular yang sangat berbahaya maka kita harus mampu memegang ekornya (kalimat haiku baris ketiga) dan juga memegang kepalanya (kalimat haiku baris pertama) agar tidak lolos dan membahayakan diri kita. Kita harus menangkap ekor dan kepalanya, biarkan badan ular (kalimat haiku baris kedua) memilih apakah mengikuti gerakan kepala atau gerakan ekornya. Sekarang kepala ular dan badannya telah terlihat, saatnya kita bertindak cepat untuk menangkap ekornya agar ular dapat kita kuasai.

Dalam Work Sheet ada dituliskan:
OBJEK-OBJEK:
Terlihat: pohon-pohon besar, tikungan jalan, daun kuning melayang jatuh
Terdengar: suara tonggeret
Terasa : nuansa sedih pada suara tonggeret terdengar, dan begitu juga saat kulihat daun kuning jatuh melayang.

Haiku adalah puisi rasa, karena itu kita harus membangun rasa lewat diksi haiku. Kata “TERASA” itu harus menjadi fokus kita selanjutnya karena hal ini mencerminkan rasa yang dialami oleh haijin saat itu, inilah ekor ular yang sedang kita cari untuk segera ditangkap! “Nuansa sedih pada suara tonggeret terdengar, dan begitu juga saat kulihat daun kuning jatuh melayang”. Ini adalah dasar bagi haijin guna menentukan “ESTETIKA SEPERTI APA YANG HARUS DITONJOLKAN”!!!! Haiku adalah puisi yang kaya dengan estetika Wabi-Sabi. Penekanannya apakah pada estetika Sabi, Wabi, ataukah pada Wabi-Sabi? Basho menegaskan bahwa Sabi adalah warna hokku! KARENA ITU HAIJIN HARUS FOKUS PADA OBJEK YANG BERNILAI SABI!

Estetika WABI berasal dari kata “Wabu” yang artinya emosi yang lahir dari kukarangan harta dan keadaan yang tidak diinginkan. Wabishii: merujuk pada suasana psikologis kemelaratan dan kesengsaraan. ‘Wabi’ merupakan kesadaran untuk berusaha menemukan kelapangan dada dari keadaan miskin dan kekurangan. Contohnya, gagasan bahwa bulan sabit memiliki keindahan yang tak didapati dalam bulan purnama, namun tetap mengakui bahwa bulan purnama memang indah. Jadi, ‘wabi’ adalah dorongan dari hati dan keteguhan untuk berpikir secara realistis dalam keterpurukan (kondisi ‘sabi’) atau keadaan kotor, dan “WABI ADALAH JIWA YANG BERUSAHA MENEMUKAN KEINDAHAN DI DALAM SABI”.

Estetika SABI berasal dari kata “Sabu” yang artinya emosi yang lahir dari rasa tenang dan kesepian. Sabishi merujuk ke suasana psikologis seseorang yang dihinggapi perasaan kesepian. ‘Sabi’ berarti keindahan yang ditemukan haijin dalam hal-hal yang sederhana, keindahan yang terasa dalam dan kaya dari kemunduran nan senyap, seperti: kolam tua, dinding kusam, batu berlumut, bunga yang layu, daun-daun yang gugur, dan lain sebagainya. Berarti keindahan yang kaya dan beragam dari perubahan yang ditemukan pada sesuatu yang menjadi retak, kotor, atau cacat, atau dari sesuatu yang berubah karena datang dan perginya suatu musim.  SABI MENUNJUKAN KEINDAHAN DALAM DIMENSI WAKTU.

Konsep Sabi adalah ketenangan dan keindahan yang ingin dicapai haijin sebagai buah kontemplasi, saat-saat objek dan subjek menjadi satu, saat diri haijin tenggelam ke dalam objek yang sedang diamatinya. Waktu adalah adegan yang diperlihatkan oleh objek alam terkait musim atau siang atau malam. Apa yang dipancarkan oleh objek kigo adalah magnit yang menarik diri haijin ke dalam laut perenungan. OBJEK YANG BERNILAI SABI HARUS DIKENALI TERLEBIH DAHULU OLEH HAIJIN. KIGO ADALAH SABI. Bila nilai-nilai sabi telah terpegang maka wabi pun akan muncul dengan sendirinya, dari dalam diri haijin yang fokus dan melibatkan intuIsi dalam karyanya.  MELODRAMA OBJEKTIF ADALAH CARA UNTUK MEMUNCULKAN NILAI-NILAI WABI DARI DALAM DIRI HAIJIN YANG BERUSAHA MENEMUKAN KEINDAHAN DI DALAM SABI.

Lalu kita simak lagi apa yang telah kita tuliskan:

bunyi tonggeret
daun melayang jatuh
……………………
Kalimat “Bunyi tonggeret” dan “Daun melayang jatuh”, kalimat mana yang bernilai sabi? Kigo harus dipilih guna mengungkapkan rasa sabi yang kuat!!!! Karena itu ia harus ditonjolkan untuk memunculkan efek kontemplasi. Sekarang kita mulai bermain-main dengan tanda kireji (cut marker). Kita coba bubuhkan tanda titik koma ( 😉 pada akhir kalimat baris pertama:

bunyi tonggeret;
daun melayang jatuh
……………………
Kalimat “bunyi tonggeret” telah membentuk satu segmen gambar sendiri. Selanjutnya kita harus memunculkan gambar kedua dengan mempertimbangkan Ma. Ingat imajinasi gambar kedua yang akan dimunculkan harus menimbulkan getaran rasa yang kuat dari haiku ketika ia diperbandingkan dengan gambar pertama (bunyi tonggeret), hal ini akan sangat ditentukan oleh kualitas kalimat baris ketiga!

Kalimat baris pertama adalah gerbang menuju ke dalam isi haiku secara keseluruhan. Ketika ia diberi tanda kireji di ujungnya…maka dua baris berikutnya haruslah bersifat menjelaskan apa hal yang menarik dari yang ditunjukan oleh kalimat baris pertama. Pembaca seakan-akan bertanya: “ada apa dengan bunyi tonggeret?”

Dalam hatinya haijin bisa bertanya ke dalam dirinya, kalau: ” bunyi tonggeret;  daun melayang jatuh / terbawa angin….rasa atau imajinasinya seperti apa ya?”

bunyi tonggeret;
daun melayang jatuh
terbawa angin

tangis tonggeret;
daun melayang jatuh
terbawa angin

lengking tonggeret;
daun melayang jatuh
terbawa angin

atau kalau misalkan: “bunyi tonggeret/ daun melayang jatuh; di simpang jalan…..rasa atau imajinasinya seperti apa ya?”

bunyi tonggeret
daun melayang jatuh;
di simpang jalan

tangis tonggeret
daun melayang jatuh;
di simpang jalan

lengking tonggeret
daun melayang jatuh;
di simpang jalan

Silakan dilihat kemungkinan-kemungkinan lainnya, dalam berbagai variable dan kemungkinan, namun harus tetap berpedoman pada realitas tertinggi apa yang disensor langsung oleh haijin melalui inderanya.

V. HAIKU DALAM PERSPEKTIF SENI UNTUK SPIRITUALISME

Sebagaimana halnya puisi Tanka, puisi pendek Haiku juga mengandung dua aspek yakni: seni dan spiritualisme. Ada puisi dalam konsep seni untuk seni, dan ada pula yang berpegang pada konsep seni untuk spiritualisme. Hokku adalah sebutan untuk haiku tradisional Jepang, merupakan refleksi dari filosofi Zen, kental menerapkan prinsip: puisi sebagai seni untuk tujuan spiritualisme.

Zen pada dasarnya adalah jalan spritual, tak ubahnya Sufisme dalam Islam. Untuk memahami Zen kita tidak harus terlebih dahulu menjadi penganut Buddhisme, Taoisme, atau Sintoisme. Ketika kita telah memahami bagaimana cara prinsip-prinsip filosofi dan estetika Zen bekerja dalam haiku maka pengembangan selanjutnya ada di tangan haijin sendiri, bisa dikembangkan sesuai dengan keyakinan dan agamanya masing-masing.

Semuanya terpusat pada “kesadaran”, mikrokosmis atau makrokosmis. Seni puisi zen berlandaskan pada kesadaran bahwa manusia dan alam sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Zen sebagai konsep seni sangat menekan pada sikap pemahaman terhadap: ketidak-bergantungan pada materi, ketidak-kekalan hidup, ketidak-sempurnaan makhluk, cara berdamai dengan dunia fana, dan pengertian fana itu sendiri. Sebutir embun mencerminkan langit dan bumi. Tanpa titik adalah kekosongan.

Hanya satu titik

terciptalah ruang dan waktu

dalam lautan ini engkaulah gelombang

ombak yang timbul darinya

dan kembali ke sana

 

Dalam hakekat fana

tiada gelombang yang sempurna

bahkan ketika tiba pada puncaknya

setiap yang berawal dari….

akan kembali ke…

Haiku adalah potret suatu momen kehidupan dalam setitik waktu. Momen haiku adalah kilasan kecil dari realitas tertinggi yang ada di depan mata kita. Tentang hal-hal sederhana yang terkadang luput dari perhatian kita. Umumnya tentang pengalaman pribadi yang mencerminkan suatu musim. Objeknya tentang segala sesuatu yang ada di alam. Konsep ini dikembangkan dalam rangka mengungkapkan pemikiran bahwa jika kita sibuk mengkhawatirkan masalah atau memikirkan masa depan, kita mungkin tidak meluangkan waktu untuk memperhatikan hal-hal yang sedang terjadi sekarang.

Kepekaan terhadap apa yang terjadi di alam sekitar adalah sikap yang harus kita pegang dalam rangka “menemukan” momen haiku. Hal-hal yang begini tidak bisa dicari-cari, ketika kita sengaja mencarinya di sekitar kita malah kita tidak mendapatkan apa-apa. Tunggu bel berdering di hati, begitu terlihat maka tangkaplah apa adanya, dengan menyimpan segala pikiran, ide, konsepsi, dan pengetahuan ilmiah kita.

Kekosongan yang berisi adalah ketika kita mampu membaca esensi dari fenomana yang baru saja terjadi di depan mata kita. Bila ingin mengetahui esensi katak yang terdengar melompat di rawa-rawa maka “masuklah ke dalam katak” dan rasakan bagaimana suasananya saat itu. Tangkap semuanya dengan segenap indera, tanpa memberi komentar apa pun. Menyajikan gambar hidup adalah prinsip menulis haiku.

Bila dalam rangka penyajian haiku itu kita kotori dengan  ide-ide kita maka bukan saja dapat menghilangkan kejernihan gambar,  justru nilai kontemplasinya sama sekali tidak kita dapatkan. Energi alam yang terpancar lewat momen itu menjadi tawar karena intuisi tidak bekerja secara optimal, terkalahkan oleh “ketidak-tulusan pada alam” yang terwakili oleh logika dan nalar kita. Bagaimana mungkin kita bisa menyaksikan dengan keyakinan penuh lewat mata batin kita bahwa “tangan Tuhan tengah bekerja” bila segalanya diukur dengan logika.  Kilasan kecil dari realitas tertinggi yang ada di depan mata menjadi tak berimbas pada jiwa kita hanya karena menganggap sepele pentingnya “objektifitas” dalam merespon momen haiku, yang mana hal ini merupakan prinsip penting haiku dalam merekam gerak-gerik alam semesta! Ada baiknya kita menyimak haiku Issa (1763-1828) beriku ini:

Dunia embun,
Dan di dalam setiap gumpalan
Sebuah dunia perjuangan

Haiku ini mencerminkan perjuangan pribadi Issa dengan rasa sakit, dia menulisnya setelah kehilangan anak pertamanya yang baru lahir. Kita simak kata “Dunia embun”…dapat kita bayangkan bagaimana  perjuangan embun mengatasi rasa gelisahnya saat menanti datangnya matahari pagi yang menghantarkannya pada kematian (menguap). Lebih kurang, kira-kira begitulah perasaan Issa saat itu.

Pengertian Zen sendiri agak kenyal dan sulit untuk didefinisikan. Di dalamnya ada pengaruh ajaran Buddha, Tao, dan Sinto yang berproses selama berabad waktu. Zen sebagai jalan seni sulit untuk didefinisikan, saat anda berfikir bahwa anda sudah berhasil mendefinisikannya maka bisa jadi itu bukan Zen lagi. Kesadaran pada Zoka adalah bagian penting dari Zen. Zoka adalah watak kreatif alam yang konsisten berubah, sukar diduga, mengandung kekuatan natural yang sukar untuk dilawan.  Menyatu dengan alam membuat jiwa selalu mengalir, bagai air yang mengalir dari ketinggian pegunungan hingga ke lembah lalu bermuara ke laut, jiwa yang mengalir bagai angin berhembus ke segala arah ke segala tempat. Dimana ada dinamika alam maka di sana ada Zen. Gerak selaras hati dan pikiran dengan alam adalah salah satu prinsip penting dalam berjalan di jalan Haiku.

Zen tidak menilai baik atau buruk segala hal, tidak berusaha menjawab pertanyaan subjektif yang berkaitan dengan  Tuhan, akhirat, reinkarnasi, dan spiritualisme karena itu bukan isu penting bagi Zen. Saat sekarang, di sini, dan saat ini adalah hal yang penting bagi Zen. Zen dengan tegas percaya bahwa tidak ada yang tahu jawaban atas pertanyaan tersebut. Bahwa pertanyaan tersebut tidak mungkin dijawab karena kondisi kita terbatas, hakikat kita tidak sempurna. Bagaimana mungkin makhluk yang tidak sempurna ini mampu menilai dan menjelaskan tentang  sesuatu yang sempurna?

Zen dengan senang hati menerima gagasan bahwa pria hanyalah laki-laki, capung hanyalah capung, dan tidak lebih dari itu. Menyadari apa adanya, tidak ingin berspekulasi menjawab pertanyaan tentang hidup yang tidak mungkin dijawab tanpa jatuh ke dalam perangkap ilusi. Tidak ada yang tahu jawaban atas pertanyaan mendalam tentang kehidupan dan kematian. Agama memberikan jawaban atas segala sesuatu sebagai tanda “kebijakan agung”. Zen bukan agama, karena itu tidak memberikan jawaban sama sekali adalah hikmat agung.

Zen tidak menolak materialisme, namun menolak ketergantungan padanya. Dalam prinsip Zen: kita perlu merangkul sipritualisme dan materialisme, seperti halnya kita memahami eksistensi sisi depan dan belakang selembar kertas. Zen merangkul dua hal yang berlawanan dan mengintegrasikan keduanya  untuk menghasilkan suatu kondisi yang dapat membantu seseorang mencapai dimensi tertinggi, mushotoku.

Mushotoku adalah keadaan pikiran dimana seseorang bertindak tanpa menginginkan hasil, memberi tanpa menginginkan balasan.  Itu esensi sejati pengertian penyatuan diri dengan alam semesta. Konteksnya dalam haiku, ini tak ubahnya belatih Zazen (meditasi) untuk diri sendiri. Zazen tidak memiliki objek dan subjek; segalanya menyatu menjadi satu kesatuan, diri yang menyatu dengan kosmos. Menulislah haiku untuk haiku itu sendiri, berlatih meditasi untuk diri sendiri. Janganlah berlatih untuk ketenaran atau keuntungan lainnya.

Zanshin adalah konsep penting lainnya yang ditemukan di Zen, Budo (seni bela diri Jepang), terutama Kendo, dan di banyak seni Jepang, seperti Ikebana (rangkaian bunga), chado (upacara minum teh) dan sumi-e (lukisan tinta). Konsep Zanshin adalah bahwa seseorang harus hadir sepenuhnya dalam tindakan apa pun yang dilakukannya. Saat saya makan, saya makan. Pikiran saya sepenuhnya terlibat dalam aksi makan. Saat aku bertarung, aku bertarung. Pikiran saya sepenuhnya terlibat dalam aksi berkelahi. Saya berada di sini dan sekarang, benar-benar tenggelam dalam tugas yang sedang saya dihadapi, dan saya akan menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Konsep ini mungkin sebagai bagian penjelasan tentang makna nasehat Basho kepada murig-muridnya: “Saat membuat sebuah ayat jangan biarkan seutas rambutpun memisahkan pikiran dari apa yang ditulis; komposisi sebuah puisi harus dilakukan dalam sekejap, seperti penebang kayu yang menebang pohon besar atau seorang pendekar pedang yang melompat ke musuh yang berbahaya.”

Dalam terminologi Buddhis, kekuatan haiku Zen terletak pada perwujudan bentuk dan kekosongan dari subjektifitas penyair. Haiku yang terbaik biasanya datang dari pandangan: sekarang, di sini, saat ini. Haiku yang terbaik adalah haiku yang dituliskan dengan benar, dituliskan secara objektif, tanpa metafora, tanpa campur tangan subjektifitas penyair, dan haiku yang memiliki penanda musim atau penanda waktu. Ketika alam berubah dramatis hanya penyair haiku terbaik yang bisa mengekspresikan drama dan mempertahankan semangat haiku tanpa memikirkan melodrama subjektif.

Mayoritas haiku mencapai efek utamanya melalui perangkat yang disebut Kireji, yang berfungsi membuat teks terpenggal menjadi dua bagian yang mana tiap-tiap bagian  mencitrakan sebuah gambar. Terkadang garis potong sepenuhnya muncul secara alami lewat penjajaran yang bersifat paradoks atau kontradiktif. Kireji memiliki efek: penekanan pada suatu objek, memotong alur cerita, dan akhirnya memunculkan suatu ending cerita yang membuat mata pembaca jadi terbuka karena menemukan suatu pengalaman yang baru.

Singkat kata, haiku adalah puisi cerminan filosofi Zen, seperti prinsip meditasi Zen yang menekankan pada “sekarang, saat ini, di sini”. Tidak seperti puisi lainnya, haiku umumnya tidak menggunakan metafora atau citra yang tidak jelas atau pikiran subjektif penyair. Haiku keluar dari kehidupan spiritual penulis, dan haiku yang terbaik berbicara kepada kehidupan spiritual pembaca. Lantas apa yang dimaksudkan dengan pengetian pencerahan dalam konsep haiku?

Kita simak kalimat berikut ini: “Sebelum pencerahan; Potong kayu, bawa air. Setelah pencerahan; Potong kayu, bawa air. ” (Buddha). Pencerahan adalah seperti melihat bulan di dalam air, keduanya sama-sama tidak ada yang berubah akibat munculnya bulan di dalam air. Pencerahan pada esensinya adalah menemukan suatu keindahan di hal-hal yang sederhana,  melankolis objektif yang muncul dari hasil mengamati siklus alam dan keadaan yang ada di sekeliling kita.

Tulisan ini hanyalah tulisan singkat tentang haiku dan Zen, belum menjelaskan  sepenuhnya tentang Zen itu sendiri mengingat pengertiannya yang sulit untuk didefinisikan. Hanya dengan pengalaman giat berlatih haiku, menghadirkan kontemplasi, sensitive terhadap gerak-gerik alam semesta yang akan  membawa kita sampai pada pemahaman Zen yang lebih luas dari apa yang telah dijelaskan dalam tulisan ini. Salam Haiku!

****

_@copyrightBeniGuntarman

*

SEMBURAT CAHAYA SENJA


Inilah lautmu, semburat cahaya senja

dalam dan luasnya sulit untuk diraba

namun aku melihatnya di matamu:

sampan rapuh melaju tanpa dayung

geliat ombak bagai ikal rambutmu

 

Di celah-celah ketegaran ranting pinus

mentari mengisyaratkan tiba di batas senja

segala rasa yang tertumpah

terukir pada rekah-rekah di kulit kayu

kita hanya membaca dan menyaksikannya

 

Dalam dunia yang fana

ke manapun arah kita berpaling muka

semuanya berawal dan berakhir

ketidak-kekalan ada di mana-mana

juga di balik indahnya semburat cahaya ini

 

Di ufuk senja

bintik hitam menjauh

bangau yang hijrah

 

 

Batam, 26 April 2017.

HAIKU DALAM PERSPEKTIF SENI UNTUK SPIRITUALISME


Sebagaimana halnya puisi Tanka, puisi pendek Haiku juga mengandung dua aspek yakni: seni dan spiritualisme. Ada puisi dalam konsep seni untuk seni, dan ada pula yang berpegang pada konsep seni untuk spiritualisme. Hokku adalah sebutan untuk haiku tradisional Jepang, merupakan refleksi dari filosofi Zen, kental menerapkan prinsip: puisi sebagai seni untuk tujuan spiritualisme.

Zen pada dasarnya adalah jalan spritual, tak ubahnya Sufisme dalam Islam. Untuk memahami Zen kita tidak harus terlebih dahulu menjadi penganut Buddhisme, Taoisme, atau Sintoisme. Ketika kita telah memahami bagaimana cara prinsip-prinsip filosofi dan estetika Zen bekerja dalam haiku maka pengembangan selanjutnya ada di tangan haijin sendiri, bisa dikembangkan sesuai dengan keyakinan dan agamanya masing-masing.

Semuanya terpusat pada “kesadaran”, mikrokosmis atau makrokosmis. Seni puisi zen berlandaskan pada kesadaran bahwa manusia dan alam sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Zen sebagai konsep seni sangat menekan pada sikap pemahaman terhadap: ketidak-bergantungan pada materi, ketidak-kekalan hidup, ketidak-sempurnaan makhluk, cara berdamai dengan dunia fana, dan pengertian fana itu sendiri. Sebutir embun mencerminkan langit dan bumi. Tanpa titik adalah kekosongan.

 

Hanya satu titik

terciptalah ruang dan waktu

dalam lautan ini engkaulah gelombang

ombak yang timbul darinya

dan kembali ke sana

 

Dalam hakekat fana

tiada gelombang yang sempurna

bahkan ketika tiba pada puncaknya

setiap yang berawal dari….

akan kembali ke…

 

Haiku adalah potret suatu momen kehidupan dalam setitik waktu. Momen haiku adalah kilasan kecil dari realitas tertinggi yang ada di depan mata kita. Tentang hal-hal sederhana yang terkadang luput dari perhatian kita. Umumnya tentang pengalaman pribadi yang mencerminkan suatu musim. Objeknya tentang segala sesuatu yang ada di alam. Konsep ini dikembangkan dalam rangka mengungkapkan pemikiran bahwa jika kita sibuk mengkhawatirkan masalah atau memikirkan masa depan, kita mungkin tidak meluangkan waktu untuk memperhatikan hal-hal yang sedang terjadi sekarang.

Kepekaan terhadap apa yang terjadi di alam sekitar adalah sikap yang harus kita pegang dalam rangka “menemukan” momen haiku. Hal-hal yang begini tidak bisa dicari-cari, ketika kita sengaja mencarinya di sekitar kita malah kita tidak mendapatkan apa-apa. Tunggu bel berdering di hati, begitu terlihat maka tangkaplah apa adanya, dengan menyimpan segala pikiran, ide, konsepsi, dan pengetahuan ilmiah kita.

Kekosongan yang berisi adalah ketika kita mampu membaca esensi dari fenomana yang baru saja terjadi di depan mata kita. Bila ingin mengetahui esensi katak yang terdengar melompat di rawa-rawa maka “masuklah ke dalam katak” dan rasakan bagaimana suasananya saat itu. Tangkap semuanya dengan segenap indera, tanpa memberi komentar apa pun. Menyajikan gambar hidup adalah prinsip menulis haiku.

Bila dalam rangka penyajian haiku itu kita kotori dengan  ide-ide kita maka bukan saja dapat menghilangkan kejernihan gambar,  justru nilai kontemplasinya sama sekali tidak kita dapatkan. Energi alam yang terpancar lewat momen itu menjadi tawar karena intuisi tidak bekerja secara optimal, terkalahkan oleh “ketidak-tulusan pada alam” yang terwakili oleh logika dan nalar kita. Bagaimana mungkin kita bisa menyaksikan dengan keyakinan penuh lewat mata batin kita bahwa “tangan Tuhan tengah bekerja” bila segalanya diukur dengan logika.  Kilasan kecil dari realitas tertinggi yang ada di depan mata menjadi tak berimbas pada jiwa kita hanya karena menganggap sepele pentingnya “objektifitas” dalam merespon momen haiku, yang mana hal ini merupakan prinsip penting haiku dalam merekam gerak-gerik alam semesta! Ada baiknya kita menyimak haiku Issa (1763-1828) beriku ini:

Dunia embun,
Dan di dalam setiap gumpalan
Sebuah dunia perjuangan

Haiku ini mencerminkan perjuangan pribadi Issa dengan rasa sakit, dia menulisnya setelah kehilangan anak pertamanya yang baru lahir. Kita simak kata “Dunia embun”…dapat kita bayangkan bagaimana  perjuangan embun mengatasi rasa gelisahnya saat menanti datangnya matahari pagi yang menghantarkannya pada kematian (menguap). Lebih kurang, kira-kira begitulah perasaan Issa saat itu.

Pengertian Zen sendiri agak kenyal dan sulit untuk didefinisikan. Di dalamnya ada pengaruh ajaran Buddha, Tao, dan Sinto yang berproses selama berabad waktu. Zen sebagai jalan seni sulit untuk didefinisikan, saat anda berfikir bahwa anda sudah berhasil mendefinisikannya maka bisa jadi itu bukan Zen lagi. Kesadaran pada Zoka adalah bagian penting dari Zen. Zoka adalah watak kreatif alam yang konsisten berubah, sukar diduga, mengandung kekuatan natural yang sukar untuk dilawan.  Menyatu dengan alam membuat jiwa selalu mengalir, bagai air yang mengalir dari ketinggian pegunungan hingga ke lembah lalu bermuara ke laut, jiwa yang mengalir bagai angin berhembus ke segala arah ke segala tempat. Dimana ada dinamika alam maka di sana ada Zen. Gerak selaras hati dan pikiran dengan alam adalah salah satu prinsip penting dalam berjalan di jalan Haiku.

Zen tidak menilai baik atau buruk segala hal, tidak berusaha menjawab pertanyaan subjektif yang berkaitan dengan  Tuhan, akhirat, reinkarnasi, dan spiritualisme karena itu bukan isu penting bagi Zen. Saat sekarang, di sini, dan saat ini adalah hal yang penting bagi Zen. Zen dengan tegas percaya bahwa tidak ada yang tahu jawaban atas pertanyaan tersebut. Bahwa pertanyaan tersebut tidak mungkin dijawab karena kondisi kita terbatas, hakikat kita tidak sempurna. Bagaimana mungkin makhluk yang tidak sempurna ini mampu menilai dan menjelaskan tentang  sesuatu yang sempurna?

Zen dengan senang hati menerima gagasan bahwa pria hanyalah laki-laki, capung hanyalah capung, dan tidak lebih dari itu. Menyadari apa adanya, tidak ingin berspekulasi menjawab pertanyaan tentang hidup yang tidak mungkin dijawab tanpa jatuh ke dalam perangkap ilusi. Tidak ada yang tahu jawaban atas pertanyaan mendalam tentang kehidupan dan kematian. Agama memberikan jawaban atas segala sesuatu sebagai tanda “kebijakan agung”. Zen bukan agama, karena itu tidak memberikan jawaban sama sekali adalah hikmat agung.

Zen tidak menolak materialisme, namun menolak ketergantungan padanya. Dalam prinsip Zen: kita perlu merangkul sipritualisme dan materialisme, seperti halnya kita memahami eksistensi sisi depan dan belakang selembar kertas. Zen merangkul dua hal yang berlawanan dan mengintegrasikan keduanya  untuk menghasilkan suatu kondisi yang dapat membantu seseorang mencapai dimensi tertinggi, mushotoku.

Mushotoku adalah keadaan pikiran dimana seseorang bertindak tanpa menginginkan hasil, memberi tanpa menginginkan balasan.  Itu esensi sejati pengertian penyatuan diri dengan alam semesta. Konteksnya dalam haiku, ini tak ubahnya belatih Zazen (meditasi) untuk diri sendiri. Zazen tidak memiliki objek dan subjek; segalanya menyatu menjadi satu kesatuan, diri yang menyatu dengan kosmos. Menulislah haiku untuk haiku itu sendiri, berlatih meditasi untuk diri sendiri. Janganlah berlatih untuk ketenaran atau keuntungan lainnya.

Zanshin adalah konsep penting lainnya yang ditemukan di Zen, Budo (seni bela diri Jepang), terutama Kendo, dan di banyak seni Jepang, seperti Ikebana (rangkaian bunga), chado (upacara minum teh) dan sumi-e (lukisan tinta). Konsep Zanshin adalah bahwa seseorang harus hadir sepenuhnya dalam tindakan apa pun yang dilakukannya. Saat saya makan, saya makan. Pikiran saya sepenuhnya terlibat dalam aksi makan. Saat aku bertarung, aku bertarung. Pikiran saya sepenuhnya terlibat dalam aksi berkelahi. Saya berada di sini dan sekarang, benar-benar tenggelam dalam tugas yang sedang saya dihadapi, dan saya akan menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Konsep ini mungkin sebagai bagian penjelasan tentang makna nasehat Basho kepada murig-muridnya: “Saat membuat sebuah ayat jangan biarkan seutas rambutpun memisahkan pikiran dari apa yang ditulis; komposisi sebuah puisi harus dilakukan dalam sekejap, seperti penebang kayu yang menebang pohon besar atau seorang pendekar pedang yang melompat ke musuh yang berbahaya.”

Dalam terminologi Buddhis, kekuatan haiku Zen terletak pada perwujudan bentuk dan kekosongan dari subjektifitas penyair. Haiku yang terbaik biasanya datang dari pandangan: sekarang, di sini, saat ini. Haiku yang terbaik adalah haiku yang dituliskan dengan benar, dituliskan secara objektif, tanpa metafora, tanpa campur tangan subjektifitas penyair, dan haiku yang memiliki penanda musim atau penanda waktu. Ketika alam berubah dramatis hanya penyair haiku terbaik yang bisa mengekspresikan drama dan mempertahankan semangat haiku tanpa memikirkan melodrama subjektif.

Mayoritas haiku mencapai efek utamanya melalui perangkat yang disebut Kireji, yang berfungsi membuat teks terpenggal menjadi dua bagian yang mana tiap-tiap bagian  mencitrakan sebuah gambar. Terkadang garis potong sepenuhnya muncul secara alami lewat penjajaran yang bersifat paradoks atau kontradiktif. Kireji memiliki efek: penekanan pada suatu objek, memotong alur cerita, dan akhirnya memunculkan suatu ending cerita yang membuat mata pembaca jadi terbuka karena menemukan suatu pengalaman yang baru.

Singkat kata, haiku adalah puisi cerminan filosofi Zen, seperti prinsip meditasi Zen yang menekankan pada “sekarang, saat ini, di sini”. Tidak seperti puisi lainnya, haiku umumnya tidak menggunakan metafora atau citra yang tidak jelas atau pikiran subjektif penyair. Haiku keluar dari kehidupan spiritual penulis, dan haiku yang terbaik berbicara kepada kehidupan spiritual pembaca. Lantas apa yang dimaksudkan dengan pengetian pencerahan dalam konsep haiku?

Kita simak kalimat berikut ini: “Sebelum pencerahan; Potong kayu, bawa air. Setelah pencerahan; Potong kayu, bawa air. ” (Buddha). Pencerahan adalah seperti melihat bulan di dalam air, keduanya sama-sama tidak ada yang berubah akibat munculnya bulan di dalam air. Pencerahan pada esensinya adalah menemukan suatu keindahan di hal-hal yang sederhana,  melankolis objektif yang muncul dari hasil mengamati siklus alam dan keadaan yang ada di sekeliling kita.

Tulisan ini hanyalah tulisan singkat tentang haiku dan Zen, belum menjelaskan  sepenuhnya tentang Zen itu sendiri mengingat pengertiannya yang sulit untuk didefinisikan. Hanya dengan pengalaman giat berlatih haiku, menghadirkan kontemplasi, sensitive terhadap gerak-gerik alam semesta yang akan  membawa kita sampai pada pemahaman Zen yang lebih luas dari apa yang telah dijelaskan dalam tulisan ini. Salam Haiku!

__@copyrightBeniGuntarman,2017.

SETELAH ENGKAU PERGI


Kini kusadari arti kepergianmu

sekarang, di sini, di bawah batu ini

dalam lengkingan suara jangkrik

yang menusuk kegelapan

 

Sendiri di semenanjung

bulan terkepung oleh kesunyian

ombak bernyanyi dalam kegelapan

untuk pulau-pulau yang jauh

 

Entahlah, sebegitu dalamnya rasa

kini terbuka sebuah kesadaran bagiku

rindu itu selalu ada di kejauhan

tak pernah di depan mata

 

Di keheningan malam

kembaraku menyusuri jejak hilang

bagai benih jamur yang terpendam

berharap bertemu musim penghujan

 

Batam, 27 April 2017.