NANYIAN KEMBANG SERUNI


Karya Beni Y Guntarman

saat jiwaku tengah terlena

kau tebar jaring ke bola mataku

sehingga aku terjerat terperangkap

aku tak mampu berpaling

kau sosok yang sempurna

 

tapi itu dulu, sebelum sadar

bahwa kau sekedar ingin bersandar

sekedar mencari dermaga sesaat

untuk melabuhkan hatimu yang lelah

dari amukan badai laut selatan

 

pergilah, jangan sebut lagi namaku

usah kau ungkit lagi kisah lama kita

jangan kau bayangkan lagi masa lalu

telah tertutup semua pintu bagimu

duhai petualang dari lembah tak bernama

 

@byg_2019,

Iklan

KISAH PERJALANAN ANGIN


Sebuah Prosa Liris (Haiku, Prosa, dan Tanka)

Karya Beni Yasin Guntarman

1

Win, dulu sekali ketika awal kau mengikuti perjalananku, bukankah pernah kukatakan kepadamu bahwa setiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan? Semula kau bersedih, namun seiring waktu terlupakan.  Sepanjang jalan yang pernah kita tempuh, suka duka selalu mengikuti bagai roda pedati mengikuti langkah kuda.

Kadang kita tertawa lepas, penuh semangat, merasakan kebahagian dalam kedamaian menyatu dengan bentangan bukit dan lembah yang kita lalui.  Seindah apa pun pemandangan alam yang kita saksikan – sama kita ketahui –bahwa sumber keindahan itu sesungguhnya ada di dalam diri kita.

Di ujung sebuah suka akan bertemu duka, di ujung sebuah duka akan bertemu suka. Suka duka selalu datang silih berganti. Telah kita selidiki bersama bahwa itu semua cuma permainan pikiran.  Tidak perlu ada kemarahan, tidak perlu ada dendam atau benci ketika bertemu dengan duka akibat perpisahan.  Semakin erat ia digenggam oleh pikiran, akan membawamu semakin jauh tenggelam dalam ilusi.  Semua bisa menjadi sebab munculnya suka maupun duka. Kita harus menunggu air kolam menjadi tenang untuk bisa melihat isinya. Esok atau lusa akan kau lihat hikmahnya bagi kehidupanmu. Bila itu telah menjadi nyata bagimu, datang dan temui aku di Bukit Batu. Ada satu tanka untukmu di atas batu nisanku.

  • jauh di sana
  • namun jelas bergema
  • suara elang
  • bagai jerit hatiku
  • memanggil satu nama

Batam 27 Maret 2019.

 

2

Menyendiri di semenanjung sunyi. Suara debur ombak bersahutan-sahutan. Kerlap-kerlip lampu sampan nelayan di kejauhan sana. Angin kencang berhembus dari celah pulau-pulau. Kurasakan dingin di sekujur tubuhku. Rasa sunyi menyergap mengepung dari segala sudut. Hanya satu kata yang bergema di hati dan pikiran: “rindu”.  Entah pada apa atau siapa rasa ini tertuju. Mungkin pada ombak, pada laut dan kebiruannya. Mungkin juga pada angin yang datang membawa berita dari kejauhan. Mungkin pada ubur-ubur yang kini menghilang.

  • terabaikan
  • terdampar tersisihkan
  • bebuih putih
  • namun sebagai garam
  • mengalir di nadiku

Mentarau, 31 Maret 2019.

 

3

  • suara jangkrik
  • jalan remang berliku
  • menuju pantai

Ombak menepi, datang bergelombang memukul tiang kayu pelantar tua. Kurasakan getarnya menjalar ke sekujur tubuhku. Bayangan gelap pulau-pulau  kecil di depanku. Hening, sunyi begitu terasa. Coba mengurai satu per satu setiap pikiran yang datang.  Dunia hening, hanya aku dan bayanganku saling menatap.

  • Dunia fana
  • semakin dikejar semakin kian menjauh
  • semakin diminum semakin terasa haus
  • semakin digenggam malah semakin lepas.

Sebuah perahu dengan lentera kecil datang bersandar.  Dengan  tubuh bungkuknya nelayan tua itu memanggul jaring di punggungnya. Hidup adalah keseharian yang harus dijalani, sesulit apa pun. Mereka yang kehidupannya di laut, di darat, atau di gunung semua punya tantangan kehidupannya sendiri-sendiri.

Semua berubah, tidak ada cerita kisah lama terulang kembali. Semuanya mengalir dalam waktu. Bagaikan ombak ini, mereka yang berawal “dari” akan kembali “ke”. Setiap yang datang pasti kan pergi. Setiap yang bertemu pasti berpisah. Setiap duka pasti akan berakhir dengan  suka. Semua berada dalam siklus kehidupan. Hidup di dunia fana, harus berdamai dengan perubahan.

  • lembut bersinar
  • di sela-sela ombak
  • oh ubur-ubur
  • mari datang mendekat
  • kudengarkan kisahmu

Dangsa Beach, 2 April 2019.

 

4

  • tatapan pungguk
  • suara ketawanya
  • dalam telponku

Ini kegelapan bukit masih sama gelapnya dengan kemarin. Bahkan rembulan pun tengah pada posisi di atas pohon yang sama.  Kesiur angin teluk tak mampu mengusir berbagai kenangan yang melintas.  Masih terngiang suara tawa, tangis, dan candamu dalam percakapan kita yang panjang. Kau ternyata bukan sekedar waktu yang mengalir. Tetapi juga ruang tempat berbagai kenangan tercipta.

Masih terngiang perkataanmu: “merasakanmu hadir, itu sudah cukup bagiku.” Kesederhaan, kepolosan, dan ketulusanmu kini bagaikan kaktus di sisi jalanku. Indah sedap dipandang mata namun durinya terasa menusuk-nusuk kala rembulan memanggilku tuk datang lagi ke bukit ini.

Ini bukit tempat penuh kenangan.  Di sini suara tawa, tangis, dan candamu masih terus bergema di telingaku. Mengisi relung-relung rindu, bagai ombak lautan yang tak pernah mati.  Coba tafakur diri, merenungkan apa yang sesungguhnya telah terjadi antara kita. Ini bukan sekedar cinta, ini bukan permainan nafsu.  Ini adalah pertemuan dua gelombang yang sama tingginya, bertemu untuk saling memusnahkan. Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Bertemu hanya untuk memenuhi takdir yang tak terhindarkan. Berpisah untuk menjadi sungai. Entah pada laut mana kita akan bersua, menjadi  bagian laut yang tak pernah kehilangan ombaknya.

  • telah terhapus
  • tersapu pasang senja
  • sepasang jejak
  • namun sebagai kisah
  • mewarnai hdupku

Tebing Langit, April 2019.

 

5

Win, dulu pernah kutanyakan kepadamu: “ketika kita berjalan di pegunungan, menerobos hutan rimba yang jarang dijamah manusia. Kita belum tahu, apakah harus merintis jalan sendiri atau mengikuti jejak kabur yang telah ada. Apa yang harus kita lakukan?” Kau bilang: “kita harus mencari jalan arah ke barat, tempat segala perjalanan hidup akan berakhir.”

Namun kukatakan kepadamu, bahwa kita harus menunggu malam untuk memastikan arah.  Lihatlah bintang utara, ia dengan setia memandu arah sepanjang berabad-abad waktu. Ia simbol kesetian, teguh pendirian untuk tetap pada porosnya, memandu setiap pengembara yang kehilangan arah. Begitu juga cinta yang terhalang oleh jarak ruang dan waktu.  Aku membutuhkan petunjuk agar tidak kehilangan arah menuju hatimu. Engkau butuh pegangan untuk tetap berdiri pada poros kesetiaan. Itu dulu, ketika awal kita mengikat pergelangan tangan dengan benang merah persahabatan.  Itu dulu, ketika masing-masing kita belum dilingkup kegelapan, tiada kabar berita. Malam ini rembulan memanggilku, mengingatkanku pada janji suci itu.

  • kembali muncul
  • meski terhalang kabut
  • bulan di gunung
  • andai kau pun hadir
  • mungkin satu pikiran

Waktu bergulir begitu cepatnya.  Satu dasa warsa telah berlalu. Malam ini kukumpulkan lagi puing reruntuhan masa silam.  Coba kurangkai lagi cerita lama yang telah memudar di dinding waktu. Meski tanpa menyebut nama dan tidak pula mereka-reka bayangan wajahmu, coba kuselami lagi makna cinta yang pernah menggetarkan seluruh sendi-sendi kehidupan kita. Inilah malam dimana mulai kuhidupkan lagi satu kata di hati: “rindu”.  Meski terasa perih,namun kuyakin bahwa engkau pun tengah merasakan hal yang sama. Bila cinta memanggilmu maka biarkan ia mengalir mengikuti alur-alurnya. Ikuti saja alurnya, segala keindahan akan hadir sendiri di depan mata.

  • sayap rapuhnya
  • tak menghalangnya terbang
  • seekor capung

Fajar menyingsing, lembayung merah mengisi langit.  Suara kokok ayam bergema dari arah lembah. Kurasakan denyut hari berdetak, memalu rindu yang beku di langit lamunan. Kau kembali mengalir di nadiku. Perjalanan bersama angin akan membawaku sampai ke tempat yang telah kau janjikan di dalam mimpi.

  • bahkan tonggeret
  • menunjukkan arahku
  • setiap langkah
  • menuju ke hatimu
  • disambut kicau burung

Batam, April 2019.

 

6

  • surya terbenam
  • di cangkang siput kosong
  • pasir yang hangat

Kutatap laut. Kutatap ombak yang datang. Berabad-abad kisah tercatat di sini, pada gelora laut biru yang tak pernah padam.

  • ‘tuk terpinggirkan
  • dalam gejolak ombak
  • bebuih putih
  • namun sebagai garam
  • mengalir di nadiku

Siapakah aku? Hanya sebutir debu dalam tiupan angin. Orang-orang memanggilku “Sang Pengembara”, penyair yang tak tentu rimbanya. Tiada orang yang pernah datang bertandang ke pondok reyot ini. Orang yang pantas untuk dilupakan oleh siapa pun yang pernah singgah di hati. Demikian juga kau, tak perlu lagi mengingat diriku. Telah kukuburkan masa lalu itu di Bukit Batu.

Aku yakin kau pasti akan datang lagi untuk mencariku di Bukit Batu.  Andaikan itu betul-betul terjadi, akan kau dapati goresan tankaku untukmu di sebongkah batu karang, yang kuletakkan di kuburan tua tanpa nama.  Kulakukan itu agar kau mengira bahwa aku telah tiada. Tiada seorang pun yang tahu bahwa saat ini aku berada di tempat yang terasing ini, sebuah pulau kecil di Teluk Andaman. Seluas pandang mata, hanya laut dan ombak yang kulihat. Sepanjang siang ataupun malam hanya suara ombak yang kudengar.

Duhai anyelir, bunga kesayangan para raja. Tuntas sudah tugasku membimbingmu menuju suatu jalan.  Hidupkan jiwamu dalam setiap tanka yang kau tulis. Tataplah segala apa yang ada di sekelilingmu. Setiap keindahan itu harus dilihat dengan mata hati. Di balik sesuatu yang sederhana ada tersembunyi keindahan di dalamnya. Jadilah dirimu sendiri, jangan berada dalam bayang-bayangku.

  • dunia fana
  • taman indah  yang penuh jaring laba-laba
  • ketika kau coba petik bunganya
  • kau akan terjerat oleh cinta

Malam semakin larut, kini saatnya aku harus membuka pintu untuk semesta. Akan kuhabiskan malamku bersama deburan ombak.

  • datang berlari
  • bersama pasang malam
  • ombak utara
  • bahkan segenap rasa
  • lenyap dari hatiku

Dangasa Beach, April 2019.

 

7

  •  menguar harum
  • dalam sorot rembulan
  • o sedap malam

Win, bukankah dulu pernah kukatakan kepadamu  bahwa aku tidak pernah tahu kapan cinta ini datang dan entah kapan perginya. Entah untuk berapa lama ia akan tinggal di hati kita. Entah apakah ia akan menetap selamanya ataukah sekedar singgah. Ia seperti seorang pengembara yang melintasi luasnya bentangan negeri lamunan. Kadang ia bernyanyi sepanjang malam-malam panjang yang sepi. Kadang ia bernyanyi pada malam dingin di hadapan api unggun, bernyanyi  tentang kerinduan yang mendalam pada kota yang jauh. Kadang ia bersenandung tentang kesederhanaan hidup tanpa kemelekatan dan kadang ia merintih karena berangan-angan memetik bintang di langit.

Cinta adalah cinta. Ia seperti angin, air, api, cahaya, batu, tanah, gunung, segala macam nama bentuk dan rupa. Kadang ia tidak sempat mengetuk dulu ketika masuk ke hati. Kadang ia begitu lembut seperti angin yang dapat masuk melalui celah sekecil apa pun. Kadang ia seperti makhluk yang bercahaya sehingga sinarnya lebih dulu masuk ke hati sebelum fisiknya hadir.  Kadang ia seperti batu sebesar gunung yang sangat sulit untuk masuk ke hatimu.  Cinta, apa pun nama bentuk dan rupanya di hati kita , tidak akan pernah bercampur dengan benci.

  • tanpa suara
  • di sudut danau sepi
  • sepasang angsa
  • bahkan seekor katak
  • menikmati heningnya

Batam, April 2019.

 

8

Win, baru kusadari setelah merenungkannya sekian waktu. Baru kusadari makna diammu ketika itu. Pertengkaran demi pertengkaran sangat memukul hatimu. Aku yang seharusnya tempatmu bersandar dengan rasa nyaman dan damai ternyata menjadi bara dalam kehidupanmu. Betapa sakitnya hatimu, ucapan dan tindakanku mungkin telah membuatmu menjadi gamang. Antara menyerah dan terus berjuang, antara bertahan dan melepaskan. Belum lagi masalah-masalah lain yang tengah kau hadapi di depan mata.  Engkau benar bahwa aku tidak sepenuhnya mengerti dengan keadaanmu. Namun pahamilah bahwa aku sama sekali tidak pernah punya keinginan menyingkirkanmu dari kehidupanku. Dan engkau pun telah salah menilaiku. Andaikan engkau tahu betapa aku sangat mencintaimu dengan caraku sendiri.

  • jeritan rusa
  • aku merindukanmu
  • di kejauhan

Malam ini aku mulai merasa ragu bahwa engkau akan memaafkanku. Malam ini aku mulai melihat kemungkinan sangat buruk. Engkau, sang mutiara hitam yang tak ternilai harganya itu akan terlepas dari genggaman tanganku. Malam ini mulai kutata hatiku agar tidak terlalu larut dalam penyesalan dan kesedihan. Mungkin aku bisa melupakan banyak hal  tentangmu. Namun ada satu hal yang tak mungkin kulupakan: ketulusan hatimu ketika mencintaiku. Ini akan menjadi bara api yang tak akan kunjung padam sepanjang sisa hidupku. Ini akan menjadi duri yang tak tersingkirkan dari dalam hatiku. Ketulusanmu telah dan akan terus menghukumku hingga akhir hayat.

Hujan deras sekali malam ini. Angin kencang berhembus lewat terowongan angin di atas jendela. Hawa dingin terasa menusuk hingga tulang.  Namun aku tetap tak beranjak dari tempatku. Aku harus menuliskan sesuatu yang mungkin, entah kapan, akan sampai ke tanganmu untuk kau ketahui suara hatiku.

Bila suatu saat nanti, entah kapan dan di mana. Andaikan Tuhan mengizinkan kita untuk bertemu maka mohon izinkan aku untuk memeluk dan menciummu meski itu untuk kali pertama dan terakhir. Izinkan aku untuk mengucapkan sepatah kata maaf dan sekaligus mengungkapkan rasa penyesalanku karena telah menyakiti hatimu.

  • suara gema
  • mengisi malam hening
  • tetesan hujan
  • bagai jerit hatiku
  • memanggil satu nama

Batam, April 2019.

 

9

Kabut tipis di Puncak Pass, Bogor. Kita sama memandang ke arah Teluk Jakarta yang keperak-perakan. Ada rasa sunyi di hati meski kau berdiri di sampingku. Tanpa bicara, kau memandang lurus ke depan. Sementara hatiku meraba-raba apa yang tersembunyi dalam pikiranmu.

  • pucuk cemara
  • melambai dalam kabut
  • pagi yang hening

Memecah kesunyian, “Na, kau hendak bicara tentang apa?” tanyaku dengan nada datar. Hening sesaat. Tiba-tiba ia menatapku dengan air mata berlinang. “Aku harus pulang ke Ambon minggu depan,” ujarnya. Rasa kesedihannya yang teramat dalam dapat kurasakan dari nada bicaranya.  “Secepat itukah!? Ada apa sesungguhnya?” tanyaku bertubi-tubi, karena kaget campur penasaran. “Aku telah dilamar orang, dan orang tuaku telah menerimanya,” jawabnya.  Kami sama terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.

Di Taman Kencana kau menungguku, jumpa untuk kali terakhir di malam itu. “Aku tidak menuduhmu telah berbohong,” ujarku. “Hanya saja rasanya tidak mungkin orang tuamu mengambil keputusan begitu saja tanpa persetujuan darimu?”

“Tolong jangan kau ragukan kejujuran dan kesetiaanku. Bila perlu kau ambil kesucianku malam ini, agar kau tahu betapa aku sangat mencintaimu,” ujarnya, dengan air mata berlinang.  “Tidak! Kita sadari saja bahwa hakikat cinta tidak harus saling memiliki. Aku bahagia asalkan kau bahagia. Pulanglah ke Ambon. Tolong doakan  agar aku tetap kuat menanggung derita ini.”

  • Cendrawasih dari Timur
  • engkaulah edelweiss di puncak gunung.

Tanpa terasa, tiga dasawarsa telah berlalu. Masih terasa segar dalam ingatanku atas segala peristiwa itu.  Malam ini kita berdua duduk berhadap-hadapan. Tatap matamu, rasanya tidak ada yang hilang. Bening matamu, senyum manismu masih seperti yang dulu. Sesungguhnya kau tak perlu tahu derita seperti apa yang telah kujalani. Hanya saja perlu kukatakan kepadamu bahwa sepanjang hidupku pernah kugenggam tiga butir mutiara yang sangat tinggi nilainya. Satu dari tiga mutiara itu telah tenggelam di laut Ambon.

“Dua mutiara lainnya?” tanyanya, penasaran. “Satu telah tenggelam di laut Pasifik, dan yang satunya lagi telah tenggelam di Selat Sunda”. Hening sejenak, lalu katanya: “Tiga mutiara itu kah yang telah melahirkan banyak puisi bagimu?”

  • semakin gelap
  • malam di gelas kopi
  • namun di sana
  • dalam bola matamu
  • berkilau mutiara

Batam, April 2019.

 

MISTERI TANKA


(Misteri Puisi Pola Irama 575, 77 Ketukan)

Semua jenis puisi asli Jepang menggunakan kombinasi pola 5 dan 7 ketukan. Tanka 57577 Sedoka 577 Haiku 575, dan seterusnya. Kenapa mereka menggunakan angka 5 dan 7, angka keramat kah?

Sejauh ini dikatakan bahwa pola 5 dan 7 ketukan itu adalah spirit “menghargai alam”. Suara alam, seperti: deru angin, suara burung Hong yang dianggap keramat,  dan seterusnya membentuk kombinasi pola 5 dan 7 ketukan. Intinya bahwa 575 haiku, 57577 tanka adalah ketukan yang berirama meniru suara-suara alam.

Tanka disebut juga sebagai “nyanyian pendek”. Tercatat bahwa tanka tertua di Jepang adalah sebagai nyanyian atau puji-pujian untuk para dewa. Sejak awal kelahirannya genre ini puisi memang sangat dekat dengan dunia spiritual. Sebagai nyanyian tanka memiliki keteraturan. Bahwa puisi ini memiliki pola ketukan yang teratur, yang dihitung sebagai ketukan panjang-pendek : 5 ketukan (pendek), 7 ketukan (panjang), 5 ketukan (pendek), 7 ketukan (panjang), 7 ketukan (panjang). Totalnya 31 ketukan, isinya harus mengeluarkan dua suara atau ide atau gambar atau makna atau dua alur pikiran yang berbeda dalam satu ayat. Dua alur pikiran yang berbeda ketika disatukan menjadi “harmoni”. Jadi prinsip utama puisi tanka adalah: “dua alur pikiran yang berbeda ketika dibaca memunculkan dua suara yang harmonis”.

Dalam rangka memunculkan dua alur pikiran yang berbeda itu maka total 31 ketukan harus ada jeda nafas yang menandakan satu alur pikiran telah terbentuk dan memunculkan alur pikiran berikutnya. Sehingga tanka dibagi menjadi dua frase yakni: frase atas (frase kami no ku), dan frase bawah (frase shimo no ku). Dikatakan ada 2 macam ketukan yakni: ketukan pendek (5 ketukan) dan ketukan panjang (7 ketukan). Maka jeda nafas yang menandakan satu alur pikiran harus terjadi pada akhir ketukan 5 atau 7. Kita lihat pola-pola dua frase yang sering muncul:

  1. Jeda nafas terjadi setelah ketukan 7 (ketukan panjang):

frase 57 dan frase 577 atau frase 5757 dan frase 7…..57, 577 atau 5757, 7 ketukan

  1. Jeda nafas terjadi setelah ketukan 5 (ketukan pendek):

frase 5 dan frase 7577 atau frase 575 dan frase 77…..5, 7577 atau 575, 77 ketukan.                                                                                          

Jadi berdasarkan letak jeda yang menciptakan dua alur pikiran maka ada 4 pola dasar tanka yakni: 5, 7577 atau 575, 77 atau 57, 577 atau 5757, 7 ketukan. Kali ini berbicara tentang pola irama 575, 77 ketukan.

Pola irama 575 dikatakan sebagai frase atas (kami no ku) dan 77 dikatakan sebagai frase bawah (shimo no ku). Kire (pemotongan alur pikiran) untuk tanka tipe ini terjadi setelah ketukan 5 di baris ketiga. Untuk menciptakan harmoni antar frase atas dan frase bawah maka baris ketiga bertindak sebagai poros pergeseran suara atau alur pikiran. Maka fokus atau objek utama tanka tipe ini terletak di baris ketiga.

Pola irama tanka 575, 77 adalah hal yang membedakan tanka abad 8 dengan tanka abad 11 M. Pola jeda setelah ketukan 7 (57, 577 atau 5757, 7 ketukan) dianggap sebagai pengaruh puisi Cina, zaman kejayaan Dinasti Tang. Menjelang berakhirnya abad 11 arus utama tanka lebih memilih jeda setelah ketukan 5 (5, 7577 atau 575, 77). Munculnya puisi kolaboratif Renga, Haikai, dan kemudian Renku……konsisten menggunakan pola 575, 77 ketukan.

Saigyo Hoshi adalah Grandmaster Tanka Jepang yang sangat terkenal hingga hari ini. Dalam usia muda dia memutuskan menjadi pendeta Budha, meninggalkan dunia samurai yang penuh intrik dalam istana. Saigyo dibesarkan di lingkungan istana, karena itu dia sudah mengenal puisi tanka sebelum menjadi pendeta.

Ketika telah menjadi pendeta Budha, kebiasaan Saigyo menulis tanka dianggap kebiasaan yang tidak pantas untuk seorang pendeta. Berkat kegigihannya akhirnya tanka justru menjadi bagian penting dari seni Zen yang dikembangkan di kuil-kuil.

Matsuo Basho, lahir 500 tahun setelah kematian Saigyo, adalah seorang master pusi kolaboratif “haikai”. Matsuo Basho mengatakan secara tegas bahwa ia berguru pada Saigyo. Bagimana mungkin itu terjadi? Ada yang mengatakan bahwa itu bagian dari misteri pola irama 575, 77 ketukan.

Basho mereformasi haikai, terutama hubungan pola 575 dengan 77.  Sebuah perjalanan panjang sebagamana yang tercatat dalam beberapa jurnal perjalanannya, berbagai tempat bersejarah terkait Saigyo dikunjunginya dalam rangka menemukan “puisinya”. Basho sangat terinspirasi dengan Saigyo, tanpa malu-malu menyatakan bahwa ia  berguru puisi kepada Saigyo.

Terkait sentuhan pembaharuannya terhadap haikai, Basho berkata: “Hokku telah berubah berulang kali sejak masa lalu yang jauh, tetapi hanya ada tiga perubahan dalam sifat tautan haikai. Di masa lalu, penyair menghargai tautan kata (kotoba-zuke). Di masa lalu yang lebih baru, penyair menekankan tautan konten (kokoro-zuke). Saat ini, yang terbaik adalah menautkan dengan transferensi (usuri), gema (hibiki), aroma (nioi), atau status (kurai).”

Tidak seperti, buku pegangan renga dan haikai sebelumnya, yang membahas pertanyaan kata atau suku kata tertentu yang dapat digunakan sebagai karakter pemotong (kireji).  Basho membahas kireji dalam hal fungsi dan efek. Dalam Kyoyaisho, Basho mencatat: “Karakter pemotongan dimasudkan untuk memotong ayat. Jika ayat tersebut sudah dipotong, tidak perlu menggunakan kireji untuk memotongnya. Bagi para penyair yang tidak dapat membedakan antara puisi yang terpotong dan yang tidak dipotong, penyair sebelumnya menetapkan kireji (karakter huruf pemotong).”  Berkat perubahan penting ini maka ayat pembuka haikai (hokku) yang memiliki pola 575 bisa berdiri sendiri di luar rangkaian 575, 77. Hokku yang telah dibenahi oleh Matsuo Basho ini adalah cikal bakal haiku.

Saigyo dan Basho sama-sama pendeta Zen. Bagaimana sesungguhnya pola irama 575, 77 bila ditinjau dari sudut pandang Zen? Zen adalah konsentrat dari nilai-nilai spiritual ajaran Budha, Kong Hu Cu, Tao, dan Shinto. Inti Zen adalah “proses mencari kebenaran hakiki ke dalam diri”. Diri yang “kosong”  – karena tidak menggenggam apa pun lima agregat kehidupan: bentuk, persepsi, sensasi, formasi mental, dan kesadaran – adalah diri yang “bebas” dalam pengertian sebebas-bebasnya. Dalam kondisi “kosong” inilah dikatakan “diri yang menyatu dengan semesta”.  Diri yang “kosong” menyebabkan pikiran menjadi jernih dan “terbuka” terhadap berbagai perubahan sekecil apa pun yang terjadi di alam sekitar.

Diri yang kosong dan terbuka, melihat segala peristiwa yang terjadi di sekitarnya berdasarkan apa yang tercermin di pikirannya. Pikiran  adalah cermin, ini merupakan salah satu konsep penting dalam seni Zen.  Pola 575 itu dalam prinsip dasarnya merupakan “kondisi diri yang kontak dan terhubung ke alam”.  Saat menangkap momen, si AKU undur diri ke belakang, biarkan subjek berbicara sendiri langsung ke pembaca. Penyair hanya bertindak selaku perantara yang menghubungkan subjek dengan pembaca.

Teater NOH, teater tradisional Jepang, adalah contoh bagaimana prinsip-prinsip 575 diterapkan dalam seni drama. Posisi penyair menjalankan peran waki dalam seni drama Noh.  Kebanyakan drama noh dikategorikan sebagai mugenno , di mana karakter utama bukanlah manusia yang hidup tetapi sosok dunia lain yang menceritakan kisah dari masa lalu. Ini adalah bentuk mugenno yang memberi Noh kualitas khasnya.

Salah satu arti dari istilah waki adalah “peran pendukung,” dan orang pada umumnya menganggap itulah satu-satunya definisi. Tapi ada arti kata lain yang lebih tua: Ini adalah jahitan di sepanjang sisi kimono yang memisahkan bagian depan dan belakang pakaian. Bagian depan dan belakang itu dua bahan yang terpisah dan disatukan oleh jahitan di sepanjang sisi kimono.

Waki (penyair) adalah seseorang yang berdiri di tepi dua dunia, mirip dengan jahitan sepanjang sisi kimono. Bagian depan kimono dapat disamakan dengan dunia manusia hidup, dan bagian belakang adalah tempat tinggal roh. Kedua dunia biasanya tidak berbaur, tetapi karena waki memiliki kakinya di keduanya, itu tidak biasa baginya untuk bertemu pengunjung dari dunia luar. Dalam permainan noh yang khas, seorang aktor waki muncul pertama di panggung, sering kali dalam peran seorang biarawan keliling dan sering ditemani oleh biksu lainnya. Datang pada pohon yang tidak biasa, bunga, atau batu, ia membacakan sebuah puisi, yang memicu fenomena alam yang tiba-tiba dan aneh, seperti hujan atau kegelapan langit.

Lalu, muncullah , cukup sering seorang wanita muda atau lelaki tua (Shite, tokoh utama, pemerannya menggunakan topeng). Ketika karakter berbicara, percakapan mereka berubah ke masa lalu — sebuah kisah dari sastra klasik atau legenda lokal. Waki mulai curiga bahwa dia tidak berbicara kepada manusia biasa. Dia bertanya mengapa shite begitu akrab dengan episode khusus ini dan memanggil shite untuk mengidentifikasi dirinya sendiri.

Peran waki adalah untuk membuat dunia yang tak terlihat dapat diakses oleh para penonton. Ini sangat mirip dengan pengalaman menulis pola 575, karena alam merupakan komponen integral dari bentuk puitis. Melalui pepohonan, bunga, dan batu, penyair berkomunikasi dengan entitas yang tidak terlihat. Sebuah pola 575 adalah semacam ucapan, sebuah catatan pendek yang menanyakan apakah semuanya baik-baik saja.

Dan sama seperti waki , penyair tidak memberikan interpretasi apa pun setelah subyek; penyair menunggu mereka untuk mendekat — keadaan pikiran yang mungkin disebut “menunggu secara proaktif.” Ayat lima, tujuh, dan lima suku kata per baris ditawarkan sebagai ucapan, dan penyair menunggu “balasan” dari subjek untuk menyelesaikan puisi (tanka).

Kualitas kunci yang memungkinkan karakter waki untuk berbaur dengan roh adalah sifat pasif dari orientasi psikis mereka. Mereka tidak pergi keluar untuk mencari-cari sesuatu di alam; sebenarnya alam yang memanggil untuk merayu mereka. Fenoma “alam memanggil” itu dalam haiku sering dikatakan sebagai “momen haiku”, dan semuanmya tercermin di pikiran yang jernih.

Pertemuan dengan pohon, bunga, dan batu tidak mungkin dilakukan melalui prosa. Untuk berkomunikasi dengan dunia roh, seseorang harus menggunakan ayat, yang dalam bahasa Jepang secara tradisional berarti garis meteran yang terdiri dari lima dan tujuh suku kata. Puisi adalah apa yang diucapkan di dunia roh. Melalui bahasa yang tidak biasanya kita gunakan — melalui ayat — bahwa kita dapat berkomunikasi dengan roh-roh itu.  Dalam pikiran Zen Shinto (agama asli Jepang), semua benda-benda di alam ini memiliki roh. Untuk Basho, media komunikasi dengan roh seperti itu adalah ayat 575.

@BeniYasinGuntarman2019.

MEMBACA SENJA DI MATAMU


Puisi Karya: Beni Guntarman

 

kehilangan kata tuk mengungkapkannya

namun aku belum kehilangan nurani

membaca makna kerut-kerut di wajahmu

resah bunga diambang mekar dan layu

 

kehilangan kata tuk mengungkapkannya

namun aku belum kehilangan nurani

membaca apa yang tersirat di matamu

keluh kesah laut dalam ratap seribu sungai

 

semua memilki batas waktunya sendiri

ombak pergi memunculkan ombak baru

dua musim berganti datang dan berlalu

bersyukur berjumpa penghujan tahun ini

 

Batam, 2018.

DI SUATU TITIK PERJALANANKU


Karya Beni Guntarman

Aku tak sempat menata kata dan lidahku

ketika ia lepas tercerai-berai bagai butiran tasbih

terlepas dari ikatan yang mempersatukannya

mungkin beberapa diantaranya melukai hatimu

sehingga menjadi duri dalam perjalanan hidupku

 

Aku juga tak sempat lagi menata hatiku sendiri

ketika batas akhir senja menghentikan langkahku

kegelapan malam mengepungku dari segala sudut

sehingga tak kulihat lagi wajah diri di cerminmu

tak kukenali lagi siapa sosok diri ini sejatinya

 

Mungkin aku lupa sejatinya diri adalah tanah lait

bukan cahaya yang menerangi gelapnya dunia

namun kuingat hakikat dari lumpur hitam yang hina

di atasnya berkembang biak berjuta kehidupan

bersamanya kau menghirup udara bebas sepuasmu

 

Aku manusia, baik-buruk di dalam diri yang fana ini

bagai dua sisi selembar kertas yang tak terpisahkan

tak mungkin menerima – menolak salah satu sisinya

karena itu pahami aku dengan kaca mata cintamu

di dalam diriku ada hakikat lumpur hitam yang hina

 

Batam, 13 Januari 2019.

 

HAIKU MUSIM PENGHUJAN


(Karya Beni Guntarman)

#1
saku mantelku
sepotong roti kering
ikan di kolam

#2
kini berbunga
semarak randu tua
bertemu Basho

#3
jas hujan tua
bergema di telinga
suara kakek

#4
oh burung-burung
menyentuh kepalaku
gerimis panjang

#5
daun jendela
tiga burung bertengger
suara hujan

#6
irama malam
di bawah atap bocor
suara panci

#7
semua sama
genjer pun beraroma
sungai meluap

#8
sepanjang malam
bergema di telinga
hujan gerimis

#9

suara hujan
lewat celah jendela
gorden melambai

#10

dengan gayanya
katak renang di awan
rawa yang hening

#11
rumah berhantu
gema di malam jum’at
suara hujan

#12
dekat jendela
bunyi langkah sepatu
gerimis malam

#13
bahkan kerbau pun
ikutan masuk sungai
bocah terkekeh

#14
deras dan rintik
silih berganti jatuh
suara hujan

#15
gerimis panjang
dalam tatapan monyet
penjual pisang

#16
malam berlalu
bulan masih tertinggal
dalam pot bunga

#17
bertopang tangkai
menahan berat kumbang
kelopak bakung

#18
aneka warna
dalam genangan sawah
cahaya lampu

#19
memudar layu
bakung di simpang jalan
suara azan

#20
bayangan awan
sepotong ranting jatuh
riak di sawah

#21
kicauan burung
dalam gelapnya fajar
hujan gerimis

#22
suara elang
akhir ribuan jejak
terhapus hujan

#23
seluas langit
dalam genangan hujan
suara murai

#24
o katak hijau
apa yang ditunggunya
teratai mekar

#25
seraut wajah
bocah di balik kaca
tempias hujan

#26
hujan pertama
bangkit dari tempatnya
dedaun mati

#27
gelombang hijau
menuju arah timur
bunga ilalang

#28

dengan ekornya
capung menyentuh sawah
gelombang kecil

#29

bungur berbunga
gadis mungil di taman
mengejar capung

#30

gerimis senja
merapat bersentuhan
sepasang payung

 

@BeniGuntarman2018.

PUISI TANKA


Karya Beni Guntarman

#1

mengisi langit

sorot venus di ufuk

cahaya biru

segalanya tercermin

dalam bening matamu

#2

ditiup angin

lembut menyentuh batang

daun terakhir

bagaikan perpisahan

tanpa benci dan dendam

#3

terdengar riuh

lewat celah jendela

cericit burung

mengiringi cahaya

fajar di dalam hati

#4

teduh di mata

membasuh daun-daun

butiran hujan

sejuk resap di kalbu

bijak menyubur jiwa

#5

satu per satu

menuju ujung senja

o kuntul putih

mengepakan sayapnya

pulang ke rawa asal

#6

gelap berarak

menutup matahari

gumpalan awan

bagaikan suka duka

silih berganti datang

#7

tetaplah biru

meski sedikit redup

bintang utara

tunggu aku di sana

gerbang barat kotamu

#8

terlihat anggun

dalam kejelasannya

bulan purnama

tinggi martabat diri

dalam kesedihannya

#9

satu kelopak

terhempas kala senja

flamboyan kuning

kenangan pun memudar

sesunyi bangku kosong

#10

satu per satu

gugur di akhir senja

bunga flamboyan

meski tergilas waktu

menyisakan kenangan

#11

sahut menyahut

berkokok  sambut fajar

ayam di hutan

meski di kegelapan

merasakan cahaya

#12

sesaat hilang

tertutup awan singgah

lintang waluku

namun kini tersingkap

makna sorot matanya

#13

berputar arah

menyentuh bunga bakung

o kupu kupu

hendak ke mana terbang

taman ini rumahmu

#14

dengan senyapnya

terbang di langit senja

sekawan pipit

berapa jauh jarak

jalan menuju rumah

#15

kering di ranting

disapu angin timur

dedaun gugur

tiap helai yang jatuh

datang pada tempatnya

@BYG2018.