TEKNIK KIRE HAIKU


(Wawasan Haiku Bagi Pemula)
Haiku adalah bentuk sastra berdasarkan pemotongan. Sedangkan istilah “kire” digunakan untuk merujuk pada “tindakan memotong kalimat secara tatabahasa dan makna” yang sengaja dilakukan oleh haijin. Pertanyaannya, apa tujuan tindakan memotong kalimat secara tatabahasa dan makna? Jawabnya: Teknik pemotongan tujuannya adalah untuk “memotong adegan, ide, atau alur pikiran untuk menciptakan jeda yang memunculkan makna, isi, atau irama sehingga membuat puisi tidak datar”.

Haiku adalah puisi yang terpotong secara tatabahasa dan makna, puisi yang berawal dari keheningan dan berakhir dengan keheningan. Artinya: setiap haiku telah memiliki potongan yang tidak terlihat di awal dan akhir. Tindakan memotong setelah 5 suku kata pertama (kire di akhir kalimat baris pertama) atau setelah 12 suku kata pertama (kire di akhir kalimat baris kedua) memberikan tambahan satu, sehingga ada tiga kire yang tidak terlihat dan yang terlihat dalam satu ayat haiku penjajaran atau haiku toriawase. Esensi terpotong di awal dan akhir, mengangkat kalimat prosa biasa keluar dari normal dan membawa haiku ke ranah puisi. Dengan demikian satu ayat haiku bersifat mandiri, tidak berangkai dengan apa pun yang mendahuluinya – karena itu haiku tidak berjudul – dan tidak pula berangkai dengan ayat haiku berikutnya. Karena itu pula secara prinsip bahwa penulisan haiku tidak perlu diawali dengan huruf besar dan tidak perlu ada tanda titik di akhir ayat.

Kire di tengah ayat (kire setelah baris pertama, setelah 5 suku kata) atau setelah baris kedua (setelah 12 suku kata dari awal) juga dimaksudkan untuk menambah kedalaman perasaan penulis dalam haiku atau berbicara untuk kata-kata yang dihilangkan. Sedangkan kire di akhir ayat (jeda setelah 17 suku kata) dimaksudkan untuk memberikan jeda berefek gema. Sifatnya bisa jadi memberikan jeda “reflektif” atau perenungan atau bersifat menghadirkan “kejutan” di akhir ayat.

Jadi kita bisa melakukan tindakan kire atau tindakan memotong kalimat secara tatabahasa dan makna setelah 5 atau 12 suku kata pertama atau sama sekali tidak melakukan tindakan memotong di tengah hingga selesai 17 suku kata. Bila kita melakukan tindak memotong kalimat secara tatabahasa dan makna setelah 5 atau 12 suku kata pertama maka haiku dengan gaya ini disebut sebagai “haiku toriawase nibutsu shoogeki” atau biasa disebut sebagai haiku penjajaran dua tema atau dua gambar yang sama tegak secara internal. Ini adalah tindakan haijin memotong kalimat secara tatabahasa dan makna untuk memunculkan adanya dua tema atau gambar atau elemen yang sejajar dan sama tegak dalam satu ayat haiku dalam rangka memunculkan Ma di tengah ayat. Kire untuk toriawase nibutsu shoogeki biasanya melayani tiga fungsi: penekanan, memotong, dan menciptakan Ma.

Tindakan memotong kalimat di tengah ayat dimaksudkan untuk menambah kedalaman perasaan penulis dalam haiku atau berbicara untuk kata-kata yang dihilangkan dalam rangka mengisi Ma atau mengisi kekosongan dengan cara mengeksplorasi hubungan dua elemen atau gambar yang sama tegak. Tindakan omissions yang diperhitungkan dengan  baik dalam konteks “menjaga jarak” hubungan “dua elemen atau gambar yang sejajar” bertujuan untuk memunculkan pesan-pesan tersirat (yo-in) atau berbicara untuk kata-kata yang dihilangkan itu . Isi Ma umumnya kokoro dan omoi’ Kokoro ekspresi sesaat yang dapat berubah sesuai dengan situasi, kondisi, dan suasana momen haiku yang dijumpai. Sedangkan omoi sifatnya stabil dan tidak berubah akibat pengaruh momen sesaat, mencerminkan tingkat kecerdasan emosional spiritual yang seorang haijin. Silakan simak contoh haiku berikut ini:

sungai meluap
kelapa tua hanyut
membawa semut

Haiku di atas terpenggal di akhir kalimat baris pertama. Kenapa demikian? Kalimat “sungai meluap”, secara tatabahasa kita harus berhenti sejenak ketika membacanya karena kalimat baris kedua bukan merupakan kelanjutan kalimat baris pertama. Secara semantik, kalimat sungai meluap memiliki makna: menunjuk pada fenomena air sungai jadi meluap karena menampung curah hujan yang besar. Kigo haiku berada dalam frasa kata ini, kalimat “sungai meluap” merujuk pada fenomena alam yang umumnya menggambarkan suasana musim penghujan. Keterpenggalan ini membuat haiku dapat kita sejajarkan dalam dua baris:

L1: sungai meluap
L2: kelapa tua hanyut membawa semut

Demikian pula bila kita ingin memenggal kalimat secara tatabahasa dan makna setelah 12 suku kata pertama. Bila kita ingin memenggal kalimat setelah baris pertama maka buatlah kalimat baris kedua lebih dekat atau terhubung langsung dengan kalimat baris ketiga (lihat contoh haiku di atas). Bila kita ingin memenggal kalimat secara tatabahasa dan makna setelah 12 suku kata pertama atau setelah kalimat baris kedua maka buatlah kalimat baris pertama dan baris kedua menjadi lebih dekat sehingga membuntuk formasi 12 dan 5 suku kata. Silakan simak contoh haikunya berikut ini:

seluas pandang
lalang terkulai layu
mencari air

Secara tatabahasa dan makna, haiku terpenggal di akhir kalimat baris kedua. Kita lihat penjajarannya dalam dua baris:

L1: seluas pandang lalang terkulai layu
L2: mencari air

Objek haiku, secara teoritis maksimal ada tiga objek dan minimal harus ada satu objek haiku. Setiap haiku yang memiliki dua atau tiga objek lalu membentuk dua tema atau gambar yang berbeda maka disebut haiku toriawase atau haiku penjajaran. Haiku toriawase ada dua macam yakni: 1) Terpenggal secara tatabahasa dan makna di tengah ayat (lihat dua contoh di atas) disebut sebagai “toriawase nibutsu shoogeki” 2) Meskipun memiliki dua atau tiga objek di dalamnya namun tidak terpenggal secara tatabahasa di tengah ayat maka disebut sebagai “toriawase torihayashi”. Lihat contoh haikunya berikut ini:

satu melayang
terbawa hujan angin
kamboja merah

Ada dua jenis kire yang perlu diketahui, yakni kire semantik (memotong secara makna), dan kire sintaksis (memotong secara tatabahasa).  Kire semantik muncul sebagai konsekwensi adanya dua atau tiga objek dalam satu ayat haiku. Sifat kire semantik “tidak memotong” tetapi memunculkan gambar, suasana, atau citraan baru di tengah ayat yang menambah keluasan imajinasi ayat haiku. Sedangkan kire sintaksis sifatnya “memenggal kalimat” secara tatabahasa sehingga menciptakan luka atau rongga atau kekosongan sesaat atau Ma dengan tujuan untuk memunculkan jeda yang diikuti perenungan sesaat atas frasa kata sebelum kire. Setiap kire sintaksis harus diikuti oleh kire semantik karena setiap kalimat yang terpenggal secara tatabahasa haruslah bermakna.

Kita simak contoh haiku torihayashi di atas bahwa ada penjajaran internal antara dua objek yakni: objek “hujan angin” dan objek “kamboja merah”.  Keberadaan objek “hujan angin” di baris kedua membuat teks terpenggal secara semantik (makna) namun tidak terpenggal secara tatabahasa hingga 17 suku kata. Artinya bahwa kire haiku di atas berada di akhir kalimat baris ketiga. Tetap ada Ma dalam haiku tipe seperti ini, tindakan kire di akhir ayat tujuannya untuk menciptakan jeda bergema yang memiliki efek reflektif bagi pembaca atau memberikan semacam kejutan yang tak terduga dengan kalimat baris ketiga. Membawa pembaca untuk tetap menghubungkan kembali kalimat baris ketiga dengan baris pertama dan kedua sehingga haiku membentuk pola melingkar (enso). Secara teknis haijin harus teliti dalam milih kata dan membuat kalimat baris ketiga tetap terhubung secara tatabahasa dengan kalimat baris pertama dan kedua, dan demikian juga kalimat baris pertama tetap terhubung dengan baris kedua, dan baris kedua tetap terhubung secara tatabahasa dengan baris ketiga . Haiku harus bulat untuk tipe haiku yang memiliki kire di akhir kalimat baris ketiga.

Haiku yang hanya memiliki satu objek atau satu tema maka disebut sebagai haiku ichibutsu jitate. Tipe haiku ini teknis penulisannya sama dengan teknis penulisan haiku toriawase torihayashi. Pembeda keduanya adalah bahwa kalau torihayashi objeknya lebih dari satu sedangkan haiku ichibutsu jitate objeknya hanya satu. Konsekweinsi objek lebih dari satu, haiku torihayashi terpenggal secara makna namun tidak terpenggal secara tatabahasa di tengah ayat, sedangkan ichibutsu jitate tidak terpenggal secara tatabahasa dan makna di tengah ayat. Silakan simak haiku ichibutsu jitate berikut ini:

dari selatan
sepanjang hari ombak
mengalun lembut

Objek haiku di atas hanya satu, yakni: “ombak”. Kire di akhir kalimat ketiga bertujuan memberikan jeda reflektif disebabkan “perenungan” ombak. Kire di akhir kalimat baris ketiga juga bisa dimaksudkan untuk menghadirkan “kejutan atau memunculkan hal yang tak terduga”. Contohnya seperti ini:

mengalun lembut
teratur tak terputus
ombak selatan

Frasa kata “ombak selatan” adalah kigo haiku, merujuk suasana musim kemarau, suasana dimana para nelayan merasa aman dari ombak besar untuk mencari ikan di laut.

Kesimpulan:

Kalau dalam haiku ichibutsujitate atau toriawase torihayashi kita harus menempatkan kalimat terpenting di baris ketiga (karena adanya kire setelah kalimat baris ketiga)..maka dalam haiku toriawase nibutsushoogeki kalimat terpenting itu kita letakkan di L1 (karena adanya kire setelah 5 atau 12 suku kata). Kenapa? Karena makna kalimat penting itu harus bergema di Ma!

Penjajaran L1 dan L2, biasanya satu bagian didasarkan pada pengalaman aktual yang dimiliki pada momen spesial dan yang kedua adalah ide atau pemikiran yang terinspirasi oleh pengalaman ini. L1 yang baik sifatnya “objek atau sesuatu yang masih atau tengah ada di hati dan pikiran penyair, sedangkan bagian lain dari penjajaran yang membuat dia sepenuhnya sadar bahwa ini terjadi SEKARANG”. Dua elemen penjajaran (L1 dan L2) yang baik mungkin tampak tidak berhubungan pada pandangan pertama, tetapi jika pembaca cukup jeli, dia mungkin akan melihat gema.

@WawasanHaikuByBeniGuntarman

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s