DI SUATU TITIK PERJALANANKU


Karya Beni Guntarman

Aku tak sempat menata kata dan lidahku

ketika ia lepas tercerai-berai bagai butiran tasbih

terlepas dari ikatan yang mempersatukannya

mungkin beberapa diantaranya melukai hatimu

sehingga menjadi duri dalam perjalanan hidupku

 

Aku juga tak sempat lagi menata hatiku sendiri

ketika batas akhir senja menghentikan langkahku

kegelapan malam mengepungku dari segala sudut

sehingga tak kulihat lagi wajah diri di cerminmu

tak kukenali lagi siapa sosok diri ini sejatinya

 

Mungkin aku lupa sejatinya diri adalah tanah lait

bukan cahaya yang menerangi gelapnya dunia

namun kuingat hakikat dari lumpur hitam yang hina

di atasnya berkembang biak berjuta kehidupan

bersamanya kau menghirup udara bebas sepuasmu

 

Aku manusia, baik-buruk di dalam diri yang fana ini

bagai dua sisi selembar kertas yang tak terpisahkan

tak mungkin menerima – menolak salah satu sisinya

karena itu pahami aku dengan kaca mata cintamu

di dalam diriku ada hakikat lumpur hitam yang hina

 

Batam, 13 Januari 2019.

 

Iklan

HAIKU MUSIM PENGHUJAN


(Karya Beni Guntarman)

#1
saku mantelku
sepotong roti kering
ikan di kolam

#2
kini berbunga
semarak randu tua
bertemu Basho

#3
jas hujan tua
bergema di telinga
suara kakek

#4
oh burung-burung
menyentuh kepalaku
gerimis panjang

#5
daun jendela
tiga burung bertengger
suara hujan

#6
irama malam
di bawah atap bocor
suara panci

#7
semua sama
genjer pun beraroma
sungai meluap

#8
sepanjang malam
bergema di telinga
hujan gerimis

#9

suara hujan
lewat celah jendela
gorden melambai

#10

dengan gayanya
katak renang di awan
rawa yang hening

#11
rumah berhantu
gema di malam jum’at
suara hujan

#12
dekat jendela
bunyi langkah sepatu
gerimis malam

#13
bahkan kerbau pun
ikutan masuk sungai
bocah terkekeh

#14
deras dan rintik
silih berganti jatuh
suara hujan

#15
gerimis panjang
dalam tatapan monyet
penjual pisang

#16
malam berlalu
bulan masih tertinggal
dalam pot bunga

#17
bertopang tangkai
menahan berat kumbang
kelopak bakung

#18
aneka warna
dalam genangan sawah
cahaya lampu

#19
memudar layu
bakung di simpang jalan
suara azan

#20
bayangan awan
sepotong ranting jatuh
riak di sawah

#21
kicauan burung
dalam gelapnya fajar
hujan gerimis

#22
suara elang
akhir ribuan jejak
terhapus hujan

#23
seluas langit
dalam genangan hujan
suara murai

#24
o katak hijau
apa yang ditunggunya
teratai mekar

#25
seraut wajah
bocah di balik kaca
tempias hujan

#26
hujan pertama
bangkit dari tempatnya
dedaun mati

#27
gelombang hijau
menuju arah timur
bunga ilalang

#28

dengan ekornya
capung menyentuh sawah
gelombang kecil

#29

bungur berbunga
gadis mungil di taman
mengejar capung

#30

gerimis senja
merapat bersentuhan
sepasang payung

 

@BeniGuntarman2018.

PUISI TANKA


Karya Beni Guntarman

#1

mengisi langit

sorot venus di ufuk

cahaya biru

segalanya tercermin

dalam bening matamu

#2

ditiup angin

lembut menyentuh batang

daun terakhir

bagaikan perpisahan

tanpa benci dan dendam

#3

terdengar riuh

lewat celah jendela

cericit burung

mengiringi cahaya

fajar di dalam hati

#4

teduh di mata

membasuh daun-daun

butiran hujan

sejuk resap di kalbu

bijak menyubur jiwa

#5

satu per satu

menuju ujung senja

o kuntul putih

mengepakan sayapnya

pulang ke rawa asal

#6

gelap berarak

menutup matahari

gumpalan awan

bagaikan suka duka

silih berganti datang

#7

tetaplah biru

meski sedikit redup

bintang utara

tunggu aku di sana

gerbang barat kotamu

#8

terlihat anggun

dalam kejelasannya

bulan purnama

tinggi martabat diri

dalam kesedihannya

#9

satu kelopak

terhempas kala senja

flamboyan kuning

kenangan pun memudar

sesunyi bangku kosong

#10

satu per satu

gugur di akhir senja

bunga flamboyan

meski tergilas waktu

menyisakan kenangan

#11

sahut menyahut

berkokok  sambut fajar

ayam di hutan

meski di kegelapan

merasakan cahaya

#12

sesaat hilang

tertutup awan singgah

lintang waluku

namun kini tersingkap

makna sorot matanya

#13

berputar arah

menyentuh bunga bakung

o kupu kupu

hendak ke mana terbang

taman ini rumahmu

#14

dengan senyapnya

terbang di langit senja

sekawan pipit

berapa jauh jarak

jalan menuju rumah

#15

kering di ranting

disapu angin timur

dedaun gugur

tiap helai yang jatuh

datang pada tempatnya

@BYG2018.

KETAPANG KENCANA


Puisi Karya Beni Guntarman

sepanjang jalan
hujan membasah payung
cinta bersemi

hingga pada akhirnya kita harus saling berpisah
sebelum muncul rasa benci dan saling menyakiti
dan mentari senja yang semakin miring ke barat
menjadi saksi sebuah kisah cinta berakhir duka

tak terasa, tahun demi tahun berlalu begitu saja
masih tersisa rasa, terselip di ketapang kencana
tempat dulu kita gantungkan tingginya cita-cita
masih terbayang senyummu kala saling menatap

sejatinya cinta memang tak harus saling memiliki
hanya menggenggam rasanya, tanpa meraihnya
tanpa menyentuhnya namun menikmati hadirnya
merasakan hadirnya tanpa mampu memeluknya

hingga ketika bersua kembali di awal Desember
tiada kata terucap, hanya tatapanmu penuh arti
meski berdenyut rasa, terharu, dan bahagia hati
namun kita tak mungkin lagi bersatu seperti dulu

******
BG2018.

TEKNIK KIRE HAIKU


(Wawasan Haiku Bagi Pemula)
Haiku adalah bentuk sastra berdasarkan pemotongan. Sedangkan istilah “kire” digunakan untuk merujuk pada “tindakan memotong kalimat secara tatabahasa dan makna” yang sengaja dilakukan oleh haijin. Pertanyaannya, apa tujuan tindakan memotong kalimat secara tatabahasa dan makna? Jawabnya: Teknik pemotongan tujuannya adalah untuk “memotong adegan, ide, atau alur pikiran untuk menciptakan jeda yang memunculkan makna, isi, atau irama sehingga membuat puisi tidak datar”.

Haiku adalah puisi yang terpotong secara tatabahasa dan makna, puisi yang berawal dari keheningan dan berakhir dengan keheningan. Artinya: setiap haiku telah memiliki potongan yang tidak terlihat di awal dan akhir. Tindakan memotong setelah 5 suku kata pertama (kire di akhir kalimat baris pertama) atau setelah 12 suku kata pertama (kire di akhir kalimat baris kedua) memberikan tambahan satu, sehingga ada tiga kire yang tidak terlihat dan yang terlihat dalam satu ayat haiku penjajaran atau haiku toriawase. Esensi terpotong di awal dan akhir, mengangkat kalimat prosa biasa keluar dari normal dan membawa haiku ke ranah puisi. Dengan demikian satu ayat haiku bersifat mandiri, tidak berangkai dengan apa pun yang mendahuluinya – karena itu haiku tidak berjudul – dan tidak pula berangkai dengan ayat haiku berikutnya. Karena itu pula secara prinsip bahwa penulisan haiku tidak perlu diawali dengan huruf besar dan tidak perlu ada tanda titik di akhir ayat.

Kire di tengah ayat (kire setelah baris pertama, setelah 5 suku kata) atau setelah baris kedua (setelah 12 suku kata dari awal) juga dimaksudkan untuk menambah kedalaman perasaan penulis dalam haiku atau berbicara untuk kata-kata yang dihilangkan. Sedangkan kire di akhir ayat (jeda setelah 17 suku kata) dimaksudkan untuk memberikan jeda berefek gema. Sifatnya bisa jadi memberikan jeda “reflektif” atau perenungan atau bersifat menghadirkan “kejutan” di akhir ayat.

Jadi kita bisa melakukan tindakan kire atau tindakan memotong kalimat secara tatabahasa dan makna setelah 5 atau 12 suku kata pertama atau sama sekali tidak melakukan tindakan memotong di tengah hingga selesai 17 suku kata. Bila kita melakukan tindak memotong kalimat secara tatabahasa dan makna setelah 5 atau 12 suku kata pertama maka haiku dengan gaya ini disebut sebagai “haiku toriawase nibutsu shoogeki” atau biasa disebut sebagai haiku penjajaran dua tema atau dua gambar yang sama tegak secara internal. Ini adalah tindakan haijin memotong kalimat secara tatabahasa dan makna untuk memunculkan adanya dua tema atau gambar atau elemen yang sejajar dan sama tegak dalam satu ayat haiku dalam rangka memunculkan Ma di tengah ayat. Kire untuk toriawase nibutsu shoogeki biasanya melayani tiga fungsi: penekanan, memotong, dan menciptakan Ma.

Tindakan memotong kalimat di tengah ayat dimaksudkan untuk menambah kedalaman perasaan penulis dalam haiku atau berbicara untuk kata-kata yang dihilangkan dalam rangka mengisi Ma atau mengisi kekosongan dengan cara mengeksplorasi hubungan dua elemen atau gambar yang sama tegak. Tindakan omissions yang diperhitungkan dengan  baik dalam konteks “menjaga jarak” hubungan “dua elemen atau gambar yang sejajar” bertujuan untuk memunculkan pesan-pesan tersirat (yo-in) atau berbicara untuk kata-kata yang dihilangkan itu . Isi Ma umumnya kokoro dan omoi’ Kokoro ekspresi sesaat yang dapat berubah sesuai dengan situasi, kondisi, dan suasana momen haiku yang dijumpai. Sedangkan omoi sifatnya stabil dan tidak berubah akibat pengaruh momen sesaat, mencerminkan tingkat kecerdasan emosional spiritual yang seorang haijin. Silakan simak contoh haiku berikut ini:

sungai meluap
kelapa tua hanyut
membawa semut

Haiku di atas terpenggal di akhir kalimat baris pertama. Kenapa demikian? Kalimat “sungai meluap”, secara tatabahasa kita harus berhenti sejenak ketika membacanya karena kalimat baris kedua bukan merupakan kelanjutan kalimat baris pertama. Secara semantik, kalimat sungai meluap memiliki makna: menunjuk pada fenomena air sungai jadi meluap karena menampung curah hujan yang besar. Kigo haiku berada dalam frasa kata ini, kalimat “sungai meluap” merujuk pada fenomena alam yang umumnya menggambarkan suasana musim penghujan. Keterpenggalan ini membuat haiku dapat kita sejajarkan dalam dua baris:

L1: sungai meluap
L2: kelapa tua hanyut membawa semut

Demikian pula bila kita ingin memenggal kalimat secara tatabahasa dan makna setelah 12 suku kata pertama. Bila kita ingin memenggal kalimat setelah baris pertama maka buatlah kalimat baris kedua lebih dekat atau terhubung langsung dengan kalimat baris ketiga (lihat contoh haiku di atas). Bila kita ingin memenggal kalimat secara tatabahasa dan makna setelah 12 suku kata pertama atau setelah kalimat baris kedua maka buatlah kalimat baris pertama dan baris kedua menjadi lebih dekat sehingga membuntuk formasi 12 dan 5 suku kata. Silakan simak contoh haikunya berikut ini:

seluas pandang
lalang terkulai layu
mencari air

Secara tatabahasa dan makna, haiku terpenggal di akhir kalimat baris kedua. Kita lihat penjajarannya dalam dua baris:

L1: seluas pandang lalang terkulai layu
L2: mencari air

Objek haiku, secara teoritis maksimal ada tiga objek dan minimal harus ada satu objek haiku. Setiap haiku yang memiliki dua atau tiga objek lalu membentuk dua tema atau gambar yang berbeda maka disebut haiku toriawase atau haiku penjajaran. Haiku toriawase ada dua macam yakni: 1) Terpenggal secara tatabahasa dan makna di tengah ayat (lihat dua contoh di atas) disebut sebagai “toriawase nibutsu shoogeki” 2) Meskipun memiliki dua atau tiga objek di dalamnya namun tidak terpenggal secara tatabahasa di tengah ayat maka disebut sebagai “toriawase torihayashi”. Lihat contoh haikunya berikut ini:

satu melayang
terbawa hujan angin
kamboja merah

Ada dua jenis kire yang perlu diketahui, yakni kire semantik (memotong secara makna), dan kire sintaksis (memotong secara tatabahasa).  Kire semantik muncul sebagai konsekwensi adanya dua atau tiga objek dalam satu ayat haiku. Sifat kire semantik “tidak memotong” tetapi memunculkan gambar, suasana, atau citraan baru di tengah ayat yang menambah keluasan imajinasi ayat haiku. Sedangkan kire sintaksis sifatnya “memenggal kalimat” secara tatabahasa sehingga menciptakan luka atau rongga atau kekosongan sesaat atau Ma dengan tujuan untuk memunculkan jeda yang diikuti perenungan sesaat atas frasa kata sebelum kire. Setiap kire sintaksis harus diikuti oleh kire semantik karena setiap kalimat yang terpenggal secara tatabahasa haruslah bermakna.

Kita simak contoh haiku torihayashi di atas bahwa ada penjajaran internal antara dua objek yakni: objek “hujan angin” dan objek “kamboja merah”.  Keberadaan objek “hujan angin” di baris kedua membuat teks terpenggal secara semantik (makna) namun tidak terpenggal secara tatabahasa hingga 17 suku kata. Artinya bahwa kire haiku di atas berada di akhir kalimat baris ketiga. Tetap ada Ma dalam haiku tipe seperti ini, tindakan kire di akhir ayat tujuannya untuk menciptakan jeda bergema yang memiliki efek reflektif bagi pembaca atau memberikan semacam kejutan yang tak terduga dengan kalimat baris ketiga. Membawa pembaca untuk tetap menghubungkan kembali kalimat baris ketiga dengan baris pertama dan kedua sehingga haiku membentuk pola melingkar (enso). Secara teknis haijin harus teliti dalam milih kata dan membuat kalimat baris ketiga tetap terhubung secara tatabahasa dengan kalimat baris pertama dan kedua, dan demikian juga kalimat baris pertama tetap terhubung dengan baris kedua, dan baris kedua tetap terhubung secara tatabahasa dengan baris ketiga . Haiku harus bulat untuk tipe haiku yang memiliki kire di akhir kalimat baris ketiga.

Haiku yang hanya memiliki satu objek atau satu tema maka disebut sebagai haiku ichibutsu jitate. Tipe haiku ini teknis penulisannya sama dengan teknis penulisan haiku toriawase torihayashi. Pembeda keduanya adalah bahwa kalau torihayashi objeknya lebih dari satu sedangkan haiku ichibutsu jitate objeknya hanya satu. Konsekweinsi objek lebih dari satu, haiku torihayashi terpenggal secara makna namun tidak terpenggal secara tatabahasa di tengah ayat, sedangkan ichibutsu jitate tidak terpenggal secara tatabahasa dan makna di tengah ayat. Silakan simak haiku ichibutsu jitate berikut ini:

dari selatan
sepanjang hari ombak
mengalun lembut

Objek haiku di atas hanya satu, yakni: “ombak”. Kire di akhir kalimat ketiga bertujuan memberikan jeda reflektif disebabkan “perenungan” ombak. Kire di akhir kalimat baris ketiga juga bisa dimaksudkan untuk menghadirkan “kejutan atau memunculkan hal yang tak terduga”. Contohnya seperti ini:

mengalun lembut
teratur tak terputus
ombak selatan

Frasa kata “ombak selatan” adalah kigo haiku, merujuk suasana musim kemarau, suasana dimana para nelayan merasa aman dari ombak besar untuk mencari ikan di laut.

Kesimpulan:

Kalau dalam haiku ichibutsujitate atau toriawase torihayashi kita harus menempatkan kalimat terpenting di baris ketiga (karena adanya kire setelah kalimat baris ketiga)..maka dalam haiku toriawase nibutsushoogeki kalimat terpenting itu kita letakkan di L1 (karena adanya kire setelah 5 atau 12 suku kata). Kenapa? Karena makna kalimat penting itu harus bergema di Ma!

Penjajaran L1 dan L2, biasanya satu bagian didasarkan pada pengalaman aktual yang dimiliki pada momen spesial dan yang kedua adalah ide atau pemikiran yang terinspirasi oleh pengalaman ini. L1 yang baik sifatnya “objek atau sesuatu yang masih atau tengah ada di hati dan pikiran penyair, sedangkan bagian lain dari penjajaran yang membuat dia sepenuhnya sadar bahwa ini terjadi SEKARANG”. Dua elemen penjajaran (L1 dan L2) yang baik mungkin tampak tidak berhubungan pada pandangan pertama, tetapi jika pembaca cukup jeli, dia mungkin akan melihat gema.

@WawasanHaikuByBeniGuntarman

 

ESENSI TANKA


Tanka 短歌 ” artinya puisi pendek”, berkembang di Jepang sejak abad ketujuh, istilah ini digunakan untuk membedakannya dari Choka 長歌, “puisi-puisi panjang”. Tanka adalah puisi pendek (nyanyian pendek) tentang alam, musim, cinta, kesedihan, dan emosi yang kuat lainnya.

Hampir tidak ada yang berubah dari tanka sepanjang 1300 tahun usianya, bentuknya tetap lima baris 5-7-5-7-7 total 31 onji (suku kata), kecuali di mana letak harus terjadi jeda (kire). Pada abad 12 Tanka Jepang menemukan bentuknya sebagai “puisi dua frase” berdasarkan kecenderungan terkuat tanka Jepang sejak abad ketujuh hingga abad dua belas.

Suku kata baris tanka terdiri 5 atau 7 onji atau suku kata, setiap suku kata dihitung sebagai satu ketukan, sehingga ada istilah “setelah ketukan 5 atau setelah ketukan 7”. Tanka sebelum abad 12, sebagaimana yang terbaca di antologi kekaisaran Jepang “Manyoshu” yang terbit pada abad 9, letak kire tanka umumnya terjadi setelah ketukan 7 dan poros pergeseran frase (pivot) umumnya terjadi di baris kedua. Sehingga kemungkinan variasi pola jedanya adalah 5-7, 5-7-7 (satu kire) atau 5-7, 5-7, dan 7 suku kata (dua kire). Pada abad 12 letak kire tanka terjadi setelah ketukan 5 suku kata dan poros pergeseran frase (pivot) umumnya terjadi di baris ketiga, dan kemungkinan variasi pola jedanya adalah 5-7-5 dan 7-7 (satu kire) atau 5, 7-5, dan 7-7 (dua kire). Ketika Masaoka Shiki mereformasi waka (nama lain tanka) pada awal abad 19, terkait pula kemunculan genre Haiku, maka bentuk standar tanka Jepang adalah pola 5-7-5 dan 7-7 (satu kire) dengan poros pergeseran frase atau pivot terletak di baris ketiga.

Sama halnya dengan haiku, tanka adalah seni verbal yang mengedepankan gambar (visual). Dalam bentuk tradisionalnya tanka tidak memiliki rima; karena kekuatan puitis tanka bukan pada suara (rima) tapi pada gambar hasil tangkapan indera manusia (visual atau aural, dan seterusnya ) yang ditunjukkannya, sehingga puisi harus memiliki aspek konkret atau harus berdasarkan pengalaman. Hasil tangkapan kerja indera manusia harus berdasarkan pengalaman yang dilihat, didengar, dirasa, diraba, atau dikecap oleh manusia.

Tiga baris pertama Tanka (5-7-5) disebut “frase Kami no ku atau frase atas” ( 上の句) dan dua baris berikutnya (7-7) disebut frase Shimo no ku atau frase bawah (下の句). Frase atas biasanya menyajikan gambar, hasil sensor indera terhadap alam sekitar. Sisa dua baris berikutnya (frase shimo no ku) bergeser fokus ke ide terkait, memberikan lebih banyak ruang untuk membangun citraan yang kuat luas dan dalam dengan 31 suku kata. Namun bila kita mengikuti tanka abad 12 bahwa frase atas (kami no ku) tidak harus menyajikan gambar hasil sensor indera manusia yang disajikan dalam bahasa objektif. Sangat banyak ditemukan dalam antologi kokinshu bahwa pola 5-7-5 (frase kami no ku) justru merupan ekspresi subjektif dan frase 7-7 (frase shimo no ku) merupakan eskpresi objektif hasil sensor indera manusia. Hal ini pembeda tanka abad 12 dengan tanka abad 19 (setelah reformasi waka oleh Masaoka Shiki).

Baris ketiga tanka dua frase disebut sebagai kakekotoba atau pivot. Kakekotoba ( 掛 詞 ) atau pivot atau kata jembatan atau kata poros adalah alat retoris (cara ekspresi) yang digunakan dalam tanka (waka) tradisional Jepang. Ini digunakan ketika kita ingin mengatakan dua hal berbeda dalam satu kata, mengaitkan dua konteks yang berbeda dengan korespondensi satu arti untuk setiap konteks. Fungsi dari kata pivot adalah untuk mengikat dua gambar berbeda yang memungkinkan sistem puitis melompat dari satu makna ke makna lain. Tujuannya untuk membangun hubungan dua frase dan menjaga kontinuitas tanka dari baris pertama hingga baris kelima. Kita dapat menunjukkan gambar atau objek yang berbeda antara frase Kami no ku (5-7-5) dan frase Shimo no ku (7-7). Namun kontinuitas tanka tetap terjaga dengan adanya kata poros (pivot).  Bisa dilihat dari contoh Tanka Saigyo yang saya terjemahkan berikut ini:

atap pondokku
ini bobrok dan bolong
terlihat bulan
segalanya tercermin
air mata di lengan

Pada lobang di atapnya yang bolong “terlihat bulan” (makna sesungguhnya). Baris pivot “terlihat bulan” jadi memiliki makna baru ketika muncul kalimat “segalanya tercermin”. Dalam puisi Jepang klasik kalimat “terlihat bulan” makna kiasnya adalah “aib atau kekurangan diri yang tersingkap”. “Tiba-tiba terlihat aib diri, segalanya tercermin (terlihat jelas dengan mata batin)….air mata menetes jatuh di lenganku”!

Kata Pivot pertama kali ditemukan di naskah paling awal yang masih ada di mana puisi puitis disimpan dalam bentuk tertulis. Contoh paling awal adalah dari periode Nara (710 – 794 M). Asalnya dari teknik ini tidak jelas, namun kemungkinan itu sudah umum digunakan dalam periode sebelum menulis diperkenalkan, sebagai bagian dari tradisi puisi tanka. Ini adalah teknik yang dirancang untuk memperkaya cara menyampaikan puisi dalam ruang terbatas. Pola umumnya adalah sebagai berikut: “Menggunakan konteks kalimat sebelum kakekotoba dan setelah itu menciptakan makna baru”.

Kakekotoba bersifat ambigu (memiliki makna ganda), diterjemahkan menjadi dua makna yang berbeda dengan sendirinya. Karena itu dapat diterjemahkan dengan arti yang berbeda, terjemahan kakekotoba terkadang dapat menjadi tidak bermakna oleh mereka sendiri, dan membutuhkan konteks untuk memunculkan maknanya, yang tidak dianggap sebagai masalah dalam periode Heian. Bila dikaitkan dengan dua baris yang mendahuluinya kakekotoba memiliki satu makna dan bila dikaitkan dengan dua baris bawah (baris keempat dan kelima) yang mengikutinya maka kakekotoba memiliki makna berbeda. Secara singkatnya, kakekotoba atau pivot adalah penggunaan kata-kata yang memiliki makna ganda.

Hal yang paling umum, yang menghubungkan puisi Jepang abad 10 hingga abad 16 adalah ekspresi puitis dalam tema musim yang kemudian hari itu disebut kigo. Sehingga ketika Matsuo Basho (1644 -1694) mengatakan kigo sebagai “benang merah yang menghubungkan semangat puisi ratusan generasi penyair Jepang” maka pernyataan Basho itu menempatkan kigo sebagai esensi untuk puisi pendek dalam pola tuang 5-7-5. Pernyataan Basho itu lebih banyak didasarkan keterhubungannya dengan Saigyo Hoshi (1118 – 1190) salah satu dari empat Grandmaster Tanka Jepang, sebagai guru dan murid. Basho secara tegas menyatakan bahwa ia belajar puisi dari Saigyo. Kigo telah menjadi elemen penting tanka sejak abad 10, namun menjadi “esensi tanka” ketika Shiki mereformasi Waka Jepang pada awal abad 19.

Secara tegas bisa disimpulkan bahwa ada empat esensi tanka sejak abad 19 yakni: Pola tuang 5-7-5-7-7, Kire, Pivot, dan Kigo. Formulasi dengan empat esensi saat ini merupakan bentuk standar tanka yang berlaku secara internasional. Dengan empat esensi (pola tuang, kigo, kire, dan pivot) tanka non Jepang diharapkan dapat mendekati efek tanka Jepang klasik mau pun modern.

*******

 

AKU ADA KARENA ENGKAU ADA


tiada lelah bagiku, telah dan akan

terus kudengarkan keluh kesahmu

biarkan beban di hatimu tertumpah

biarkan cerita hidup mengalir deras

 

memang tidaklah mudah bagimu

menempuh jalan terjal kehidupan

namun coba tengoklah ke belakang

langkahmu semakin jauh ke puncak

 

aku ada untuk menguatkan hatimu

engkau pun ada untuk mendorongku

biarlah arus mengalir begini adanya

ikuti saja ke mana alur cinta mengalir

 

tiada lelah bagiku, telah dan akan

terus menyapamu dalam suka – duka

menatap wajahmu dari hari ke hari

memastikan matahari tetap bersinar

 

*****

Batam, 16 September 2018.