HAIKU dan TEATER NOH


WawasanHaiku

Menangkap momen haiku, si AKU undur diri ke belakang, biarkan objek berbicara sendiri langsung ke pembaca. Haijin hanya bertindak selaku perantara yang menghubungkan objek dengan pembaca.  Teater NOH, teater tradisional Jepang, adalah contoh bagaimana prinsip-prinsip haiku diterapkan dalam seni drama. Posisi haijin menjalankan peran waki dalam seni drama Noh.  Kebanyakan drama noh dikategorikan sebagai mugenno , di mana karakter utama bukanlah manusia yang hidup tetapi sosok dunia lain yang menceritakan kisah dari masa lalu. Ini adalah bentuk mugenno yang memberi Noh kualitas khasnya.

Salah satu arti dari istilah waki adalah “peran pendukung,” dan orang pada umumnya menganggap itulah satu-satunya definisi. Tapi ada arti kata lain yang lebih tua: Ini adalah jahitan di sepanjang sisi kimono yang memisahkan bagian depan dan belakang pakaian. Bagian depan dan belakang itu dua bahan yang terpisah dan disatukan oleh jahitan di sepanjang sisi kimono.

Waki adalah seseorang yang berdiri di tepi dua dunia, mirip dengan jahitan sepanjang sisi kimono. Bagian depan kimono dapat disamakan dengan dunia manusia hidup, dan bagian belakang adalah tempat tinggal roh. Kedua dunia biasanya tidak berbaur, tetapi karena waki memiliki kakinya di keduanya, itu tidak biasa baginya untuk bertemu pengunjung dari dunia luar. Dalam permainan noh yang khas, seorang aktor waki muncul pertama di panggung, sering kali dalam peran seorang biarawan keliling dan sering ditemani oleh biksu lainnya. Datang pada pohon yang tidak biasa, bunga, atau batu, ia membacakan sebuah puisi, yang memicu fenomena alam yang tiba-tiba dan aneh, seperti hujan atau kegelapan langit.

Lalu, muncullah , cukup sering seorang wanita muda atau lelaki tua (Shite, tokoh utama, pemerannya menggunakan topeng). Ketika karakter berbicara, percakapan mereka berubah ke masa lalu — sebuah kisah dari sastra klasik atau legenda lokal. Waki mulai curiga bahwa dia tidak berbicara kepada manusia biasa. Dia bertanya mengapa shite begitu akrab dengan episode khusus ini dan memanggil shite untuk mengidentifikasi dirinya sendiri.

Peran waki adalah untuk membuat dunia yang tak terlihat dapat diakses oleh para penonton. Ini sangat mirip dengan pengalaman menulis haiku, karena alam merupakan komponen integral dari bentuk puitis. Melalui pepohonan, bunga, dan batu, penyair berkomunikasi dengan entitas yang tidak terlihat. Sebuah haiku adalah semacam ucapan, sebuah catatan pendek yang menanyakan apakah semuanya baik-baik saja.

Dan sama seperti waki , penyair haiku tidak memberikann interpretasi apa pun setelah subyek; haijin menunggu mereka untuk mendekat — keadaan pikiran yang mungkin disebut “menunggu secara proaktif.” Ayat lima, tujuh, dan lima suku kata per baris ditawarkan sebagai ucapan, dan haijin menunggu “balasan” dari subjek untuk menyelesaikan puisi (haiku).

Kualitas kunci yang memungkinkan karakter waki untuk berbaur dengan roh adalah sifat pasif dari orientasi psikis mereka. Mereka tidak pergi keluar untuk mencari-cari sesuatu di alam; sebenarnya, alam memanggil untuk merayu mereka.

Pertemuan dengan pohon, bunga, dan batu tidak mungkin dilakukan melalui prosa. Untuk berkomunikasi dengan dunia roh, seseorang harus menggunakan ayat, yang dalam bahasa Jepang secara tradisional berarti garis meteran yang terdiri dari lima dan tujuh suku kata. Puisi adalah apa yang diucapkan di dunia roh. Melalui bahasa tidak yang biasanya kita gunakan — melalui ayat — bahwa kita dapat berkomunikasi dengan roh-roh itu. . Untuk Basho, media komunikasi dengan roh seperti itu adalah haiku.

Puisi seharusnya mendorong kebebasan berekspresi. Apakah konvensi formal haiku (pola tuang 5-7-5) bentuk pengekangan kebebasan berekspresi?

Seperti halnya dalam Noh, bentuk formal itu memainkan peran penting. Pembatasan memaksa orang untuk menggunakan imajinasi mereka; banyak kesenian di Jepang, pada kenyataannya, bergantung pada imajinasi penonton untuk menghidupkan sebuah karya. Hal yang sama berlaku untuk haiku.

Haiku sangat pendek, tidak mungkin untuk mengungkapkan semuanya melalui kata-kata.  Keringkasan menciptakan “margin” atau “ruang kosong,” memberi ruang bagi pembaca untuk membayangkan sentimen di balik setiap frasa. Basho menggambarkan ini sebagai iiosete nanika aru (katakan sedikit, berarti banyak). Jika  kita mengungkapkan segalanya, tidak ada yang tersisa untuk dikatakan. Dengan menjadi selektif bahwa proses penyulingan dan pemurnian terjadi (omissions), mengubah haiku menjadi pengalaman yang dapat mengangkat semangat para penyair dan pembaca

Pentingnya kata jauh lebih jelas sekarang. Daripada menghalangi kebebasan berekspresi, kata memberi kita alat untuk memungkinkan kita mengekspresikan diri dengan bebas.  Banyak orang, ketika mereka mulai menulis haiku, merasa bahwa ada terlalu banyak batasan. Haiku sangat pendek, garis harus mengikuti pola lima-tujuh-lima metrik, dan kigo musiman harus disertakan. Tetapi jika haijin terus berusaha, setelah sepuluh atau dua puluh tahun, tiba-tiba menyadari betapa aturan-aturan semacam itu memberikan kita banyak kebebasan.

Alih-alih menjadi pemaksaan yang tidak wajar, bentuk formal bisa menjadi salah satu hasrat manusia yang paling alami. Kata adalah saluran yang kita gunakan untuk melampaui tampilan permukaan untuk mencapai inti, aspek batin dari sifat manusia.

Ini terkait dengan perbedaan makna dari dua kata Jepang: kokoro dan omoi .  Yang pertama mengacu pada perasaan atau emosi, dan juga kata untuk “hati.” Ini sangat berubah-ubah, berubah dari satu momen ke momen berikutnya.  Orang yang kita cintai tahun lalu, misalnya, mungkin tidak lagi menjadi orang yang kita sukai sekarang.  Sekarang jelas tentang apa artinya kokoro.

Kata untuk sesuatu yang lebih dalam dan tidak berubah, di sisi lain, adalah omoi . Objek hasrat asmara kita mungkin berubah, tetapi ada dorongan dalam diri kita yang memaksa kita untuk selalu jatuh cinta pada seseorang!  Omoi terletak di balik emosi sekilas kita. Dalam noh, tidak berurusan dengan kokoro ; tetapi dengan omoi . Jika kokoro adalah kepentingan utama, noh tidak akan bertahan selama 650 tahun. Suatu bentuk seni yang didedikasikan untuk sesuatu yang selalu berubah pasti sudah ketinggalan zaman sekarang.

Para aktor mengekspresikan omoi ini di atas panggung, meskipun, adalah manusia yang hidup. Diri kita penuh kokoro yang berubah-ubah . Dalam peran yang membutuhkan ekspresi cinta, misalnya, sangat mudah untuk jatuh ke dalam perangkap pengalaman dangkal yang menarik kita.

Biasanya, seorang aktor noh tidak berpikir tentang perasaan karakter yang dia gambarkan. Adalah tugas para aktor noh untuk “mengekstrak” omoi dan menghidupkannya kembali dengan setiap pertunjukan. Setelah itu memanifestasikan dirinya di atas panggung, omoi mungkin kemudian beresonansi dengan penonton – bersama dengan para aktor di panggung – terbangun untuk sesuatu yang biasanya tidak diperhatikan.  Jadi kata bukan hanya bentuk luar. Ini memiliki akarnya dalam emosi yang begitu dalam sehingga kita bahkan tidak menyadari mereka ada di sana.

Orang mungkin mengatakan bahwa aspek perubahan dan bertahan hidup afektif kita, sebagaimana diwakili oleh kokoro dan omoi , memiliki eksistensi paralel. Omoi terletak lebih dalam, sementara kokoro ada di permukaan. Haiku, juga, adalah alat untuk menghubungkan dengan sifat terdalam kita, daripada penggambaran keinginan kita yang sekilas.

Omoi sering tidak bisa dimasukkan ke dalam kata-kata, haiku menggunakan adegan alam untuk mewakilinya. Pesan yang sebenarnya harus ditemukan bukan dalam kata-kata tetapi dalam kelalaian (omissions), margin kosong di antaranya. Alam adalah medium yang kita gunakan untuk tiba di omoi kita .

Omoi bukan masalah pribadi, jadi tidak perlu subjek — tidak ada orang pertama (Saya/Aku). Jika saya berkata, “Saya jatuh cinta dengan Rita,” misalnya, “Saya” ada di sana. Orang lain mungkin mengatakan mereka tidak menyukai Rita. Tetapi “saya/aku” itu masih ada di sana.

Namun, dalam noh, cinta kita untuk pasangan kita, anak-anak, kekasih, atau bahkan makanan semuanya berubah menjadi omoi . Sementara kita menggambarkan karakter tertentu, pada saat yang sama kita juga mengungkapkan omoi semua orang , termasuk orang-orang di antara penonton. Maka “AKU” secara alami menghilang. Demikian juga haiku, tidak memiliki orang pertama juga.

Pribadi kita dalam hal ini diwakili momen, ketika kita melampaui diri dan mencapai tingkat kesadaran yang baru (objek dan subjek menjadi satu). Secara fisik, ini adalah saat ketika energi kita menjadi fokus di sini, di daerah perut bagian bawah. Kokoro adalah sesuatu yang kita rasakan di dada kita.  Omoi sedikit lebih rendah, daerah yang disebut tanden dalam bahasa Jepang, di bawah pusar. Itu adalah tempat di mana kita memfokuskan nafas ketika melakukan yoga atau zazen.  Haijin membutuhkan banyak waktu berlatih haiku untuk mengaktifkan tandennya. Karena itu sering diajarkan untuk tidak menulis haiku dengan kepala kita. Inspirasi harus datang dari bawah, dari sekitar area tanden kita .

Ada kekayaan yang tak terlukiskan dengan interval kosong, yang disebut Ma. Kire  dalam haiku adalah dasar-dasar estetis dari “margin” spasial dan temporal,  memiliki kesamaan denga estetika Noh, bahkan dengan Ikebana.

Dalam noh, ada interval yang dipahami setiap orang.  Dalam haiku, kita dapat mendengar itu pada jeda antar elemen penjajaran (toriawase).  Tidak ada suara yang dihasilkan selama jeda, tetapi dalam banyak hal, keheningan berbicara lebih keras daripada nada. Mereka adalah momen yang sangat kaya dan kental.  Panjang ma diukur dengan jumlah nafas. Menyinkronkan nafas kita dengan pikiran pembaca berarti bahwa para pembaca juga menghirup dan menghembuskan nafas sebagai satu.  Jadi tidak ada “aku” dalam omoi dan bahwa ini merupakan fitur penting dari haiku. Menulis haiku seperti menggambarkan adegan tanpa menyuntikkan perasaan subjektif kita.

Basho (1644–1694) menciptakan bentuk puisi baru yang disebut haiku dengan mengambil tiga baris pertama dari genre puisi kolaboratif yang lebih panjang yang disebut haikai no renga dan mengubahnya menjadi karya yang berdiri sendiri. Sangat menarik bagaimana interpretasi haiku Basho dari sudut pandang berpikir aktor Noh:

furuike ya / kawazu tobikomu / mizu no oto 

kolam tua/ katak melompat masuk/ suara air

Mereka berpendapat bahwa Basho tidak melihat langsung katak melompat ke kolam.  Tidak ada “aku” yang menyaksikan peristiwa ini.  Haiku  ini memiliki tiga komponen dasar, yaitu, kolam, katak melompat ke dalamnya, dan suara air. Siapa pun yang menulis haiku atau puisi apa pun akan segera mengidentifikasi “suara air” sebagai inti dari “pengalaman” Basho. Dia mungkin menyusun ayat ini ketika dia sedang berjalan, setelah mendengar sesuatu jatuh ke kolam pinggir jalan. Tapi setelah mendengar celoteh, katak itu tidak terlihat. Jadi sejauh yang dia tahu, itu bisa jadi batu atau ikan mas, daripada seekor katak. Satu-satunya cara dia bisa yakin bahwa itu adalah “katak” adalah jika dia adalah “kolam” itu sendiri.

******

Referensi Tulisan:

Disarikan dari tulisan Madoka Mayuzumi, “Haiku and Noh: Journeys to the Spirit World”.

Iklan

MENGENAL HAIKU DUA BARIS


Haiku dua baris (Two Lines Haiku) adalah “Haiku”, di dalamnya tetap berlaku esensi dan cara-cara penulisan haiku tradisional Jepang. Haiku dua baris adalah haiku yang ditulis sesuai dengan teknik toriawase. Namun tidak semua haiku toriawase dapat dituangkan menjadi dua baris.

Toriawase secara harfiah artinya “kombinasi”, dan pada kenyataannya kombinasi dua gambar, item, atau konsep. Yamashita Kazumi mengatakan: “toriawase adalah kombinasi dari dua elemen, di mana ada rasa kesatuan tanpa koneksi logis”. Toriawase terjadi dalam satu ayat haiku sebagai konsekwensi adanya kire sintaksis di tengah ayat. Bentuk haiku non Jepang pada umumnya adalah 17 suku kata di tulis dalam tiga baris. Karena “terpenggal oleh kire sintaksis” maka yang 17 suku kata itu jadi terbagi menjadi dua elemen: Pertama, elemen dengan jumlah 12 suku kata. Kedua, elemen dengan jumlah 5 suku kata. Jadi meski pun ditulis dalam format tiga baris, secara substantif haiku terbelah menjadi dua elemen.

Ada dua jenis kire yang berkerja dalam toriawase, yakni: kire semantik, dan kire sintaksis. Kire “semantik” sifatnya “tidak memenggal” ayat haiku menjadi dua segmen. Kire semantik dapat kita gambarkan seperti sebatang ranting yang melintang di tengah arus sungai dangkal, air sungai terus mengalir (tidak berhenti), air hanya terlihat jadi bergelombang; alur pikiran tetap berlanjut dan baru akan terhenti ketika bertemu kire sintaksis. Kire sintaksis dapat kita bayangkan seperti sebuah bendungan yang menahan laju air, aliran sungai atau alur pikiran jadi terhenti karena adanya sekat yang memotong alurnya. Kire sintaksis, ketika teks haiku kita baca maka pembacaan berhenti sejenak pada titik kire sintaksis di tempatkan. Sehingga terjadi kekosongan sesaat yang sarat makna. Seperti interval dua nada dalam musik, ada keheningan sesaat yang menambah penghayatan pendengar terhadap musik.

Tidak semua jenis toriawase dapat dituangkan menjadi haiku dua baris. Sebuah haiku yang ditulis sesuai dengan teknik toriawase dapat dipotong secara sintaksis (secara tatabahasa) atau secara semantik (secara makna). Toriawase yang dipotong oleh kire semantik, tidak membuat kalimat 17 suku kata itu terpenggal menjadi dua segmen (tidak menciptakan rongga atau ruang kosong di tengah ayat). Terpenggal hanya untuk menghadirkan ketegangan dua kutub di antara gambar, dan keterpenggalan ini disebut sebagai “Torihayasi”, ketegangan di antara dua kutub yang menciptakan “harmoni”! Toriawase jenis ini tidak bisa dituangkan menjadi haiku dua baris.

Jenis ketegangan lainnya adalah disebut “Nibutsushougeki”. Ketegangan ini terjadi karena ayat terpotong oleh kire sintaksis, terpotong secara tatabahasa, sehingga ayat haiku yang 17 suku kata itu jadi terbelah menjadi dua elemen. Kedua elemen itu dapat kita tuangkan dalam format dua baris, dan kita sebut L1 untuk elemen yang mendahului kire sintaksis, L2 untuk elemen setelah kire sintaksis. Jadi haiku dua baris adalah toriawase jenis “Nibutsushougeki”, ketegangan dua elemen (kita sebut itu L1 dan L2) yang bila kite benturkan antar keduanya, seperti kita menbeturkan dua logam, akan menciptakan suara atau resonansi atau gema atau pesan yang tak terucapkan (pesan tersirat). Haiku toriawase jenis “nibutsushougeki” adalah jenis haiku yang paling memiliki kedalaman makna dari semua jenis haiku yang ada.

Sekarang sudah jelas bagaimana ceritanya kenapa ada haiku dua baris. Seperti haiku yang ditulis dalam tiga baris, ada 7 prinsip haiku toriawase yang harus dipahami oleh haijin. Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut:

  1. PENJAJARAN
    Haiku toriawase adalah kombinasi dua gambar atau tema yang disejajarkan secara internal. Penjajaran itu dapat ditunjukkan dalam dua baris, yang mana tiap baris itu merupakan gambar atau tema atau tiang yang berdiri sama tegak (toriawase nibutsushougeki). L1 dan L2 masing-masing bisa bersifat mandiri bila dipisahkan, penggabungan keduanya dimaksudkan untuk memunculkan efek/pesan tertentu atau tak terduga.
  2. SATU KIRE
    Hanya ada satu kire dalam haiku, kire didahului oleh kalimat L1. Artinya, ada kire di akhir kalimat L1. Satu tema atau satu gambar terbentuk, terjadi kekosongan sesaat yang bermakna, lalu lanjut ke L2.

Agar tidak meraba-raba, ada tiga fungsi kire yang harus betul-betul dipahami oleh haijin:

(a) MEMOTONG/MEMENGGAL aliran pikiran atau alur cerita. Tujuannya adalah menempatkan objek L1 di tempat baru, agar lebih segar dan lebih hidup.

(b) MENEKANKAN kalimat sebelumnya, sehingga L1 kita sebut sebagai “titik tumpu semantik” haiku. L1 sifatnya “masih dalam hati”. Kita mengatakannya dengan menunjukkan gambar yang jernih yang mengandung benda konkrit yang penuh makna. Kita dapat mengidentifikasinya sebagai hasil sensor indera manusia.

(c) MENCIPTAKAN RONGGA antara L1 dan L2. Ruang kosong (Ma) adalah vakum sesaat yang penuh makna. Ada pesan tak terucapkan yang terkandung di dalamnya.

  1. KIGO
    Kigo adalah sumsum haiku, hal yang memberikan rasa pada tulang dan daging. Dengannya kita seakan-akan berkata: “simaklah apa yang kukatakan lewat isyarat atau pertanda atau lewat kata musim ini”. Agar kigo berfungsi secara maksimal sebaiknya guna satu kigo dalam haiku. Bila L1 kigo maka L2 merupakan gambar atau tema lain yang tidak ada kata musim di dalamnya. Demikian juga sebaliknya.

Dua fungsi penting kigo dalam haiku: (a)Kigo sebagai isyarat waktu, sebagai pertanda musim yang tengah berlaku saat momen haiku terjadi. (b) Untuk “membawa suasana revolusi bumi mengelilingi matahari jadi berdenyut dalam puisi”. 7 macam unsur kigo: Season, Celestial phenomena, Terrestrial phenomena, Life/Humanity, Animal, Plants, atau Events semuanya mengandung dua fungsi kigo. Selanjutnya adalah bagaimana keterampilan haijin untuk menghidupkan dua fungsi kigo ini dalam satu ayat haiku yang ditulisnya.

  1. MENANGKAP MOMEN, CERITANYA “SEKARANG, SAAT INI”.
    Haiku adalah potret suatu momen dalam setitik ruang dan waktu. Ini adalah cerita tentang momen sesaat yang membuat kita terkejut, tersenyum, terpesona, termenung, atau terkagum-kagum. Kita ceritakan itu dalam adegan “saat ini”, saat momen haiku berlangsung. Karena itu tidak ada kata “telah” atau “akan” untuk momen yang kita tunjukkan.
  2. GUNAKAN OBJEK KONKRET
    Momen haiku adalah suatu adegan nyata, karena itu bahasa yang kita gunakan sifatnya “menunjukkan” kejadian konkret yang merupakan hasil serapan indera manusia. Kita hanya menceritakan atau menunjukkan sesuatu yang kita dengar, lihat, cium, raba, atau sesuatu yang kita kecap dengan lidah kita.
  3. OMISSIONS DAN PESAN TERSIRAT HAIKU

Omissions (kelalaian) adalah jiwa dari haiku, keberadaannya penting bagi struktur fisik dan struktur batin haiku. Omissions berarti melepaskan kata-kata, menyingkat dan meninggalkan beberapa bagian untuk kepentingan keringkasan. Apa yang harus disingkat dan apa yang harus ditinggalkan membutuhkan pertimbangan yang paling hati-hati. Omissions dan pesan-pesan yang tidak diucapkan tidak dapat dipisahkan. Omissions yang dihitung dengan baik menghasilkan pesan yang tidak diucapkan.

Haijin perlu belajar cara melepaskan kata-kata sehingga haiku hanya dapat membawa kata-kata yang tidak dapat dihindarkan, dan menyisakan ruang imajinasi bagi pembaca untuk memahami pesan yang tidak diucapkan (pesan tersirat). Pesan tersirat yang lahir dari kelalaian adalah apa yang pembaca bisa simpulkan dari apa yang diungkapkan dalam kata-kata. Pesan yang tak terucapkan atau pesan tersirat adalah dunia imajinasi tanpa batas yang tersentuh oleh setiap kata yang diucapkan. .

Tidak mungkin menceritkan segalanya dengan kata-kata yang singkat. Karena itu harus menghilangkan bagian tertentu untuk keringkasan cerita. Tindakan menghilangkan bagian tertentu yang dihitung dengan baik akan menghasilkan “pesan tersirat”. Dalam memutuskan baris pendek atau baris panjang yang mendahului kire, kita juga harus memperhitungkan apa yang akan tersirat dalam kekosongan sesaat antara L1 dan L2. Ma (ruang kosong yang tercipta karena jeda nafas atau karena teks terpenggal secara tata bahasa/jeda sintaksis) merupakan ruang tempat kita menyampaikan perasaan kita yang sesunguhnya (suara hati). Omissions, pesan tersirat, dan Ma bila dilakukan dengan baik akan membuat haiku jadi bergema di pikiran pembaca.

  1. MEMILIKI RONGGA (MA)

Haiku toriawase jenis nibutsushougeki harus memiliki rongga di tengah ayat. Rongga itu berada di anatara L1 dan L2. Rongga itu kita menyebutnya sebagai “Ma”. Tidak ada jenis haiku lain yang memiliki Ma kecuali haiku jenis ini. Kire sintaksis hadir dalam rangka untuk menciptakan Ma. Ini adalah teknik puisi timur yang umumnya memiliki budaya “berkesadaran ruang dan waktu”. Estetika timur yang ada di dalam seni lukis, seni musik, dan juga seni puisi.

Ma kadang disebut sebagai “ruang bermimpi” (dream space) karena di dalam kekosongan sesaat inilah pikiran pembaca dan penulis dapat bertemu. Ini adalah ruang imajinasi bagi pembaca, apa yang ada di pikiran pembaca belum tentu sama dengan yang ada di pikiran penulis (haijin). Pembaca berhak memberikan interpretasinya sendiri sesuai dengan latar belakang dan pengalamannya. Cara menguji apakah Ma bekerja dengan baik, maka genggamlah kalimat L2 lalu benturkan dengan L1. Harus ada getaran atau resonansi yang memancarkan pesan tersirat di dalamnya. Bila tidak ada pesan tersirat, maka periksa kembali haiku anda. Pasti ada kesalahan dalam penjajaran itu. Contoh haiku dua baris:

senja di pantai
kemilau cangkang siput kosong di pasir

dusk on quiet beach
shining the empty shell of snail in white sands

【晶子訳】
ひっそりとした海岸の夕暮れ
白砂の蛇の抜け殻を照らす

(Beni Guntarman)

bayangan awan
ikan menyergap capung di rawa tua

shadow of white clouds
fish grabbed the dragonfly in the old swamp

【晶子訳】
白雲の影
古い沼地でトンボを捕らえた魚

(Beni Guntarman)

*********

KAKEKOTOBA (PIVOT) TANKA


Tanka 短歌” artinya puisi pendek”, berkembang di Jepang sejak abad ketujuh, istilah ini digunakan untuk membedakannya dari Choka 長歌, “puisi-puisi panjang”. Tanka adalah puisi pendek (nyanyian pendek) tentang alam, musim, cinta, kesedihan, dan emosi yang kuat lainnya. Masaoka Shiki menghidupkan kembali istilah tanka pada awal abad kedua puluh dengan menyatakan bahwa waka (puisi Jepang) harus diperbaharui dan dimodernisasi.

Tanka telah berubah dan berkembang selama berabad-abad, tetapi bentuk lima baris yang mengandung 31 suku kata tetap sama kecuali di mana letak harus terjadi jeda. Tanka dua frase memiliki jeda sintaksis dan semantik secara bersamaan di akhir kalimat baris ketiga (pivot). Sama halnya dengan haiku, tanka adalah seni verbal yang mengedepankan gambar (visual). Dalam bentuk tradisionalnya tanka tidak memiliki rima, setiap baris terdiri dari satu gambar atau ide; dalam tanka yang baik, lima baris itu sering mengalir mulus ke satu pikiran.

Tiga baris pertama Tanka (5-7-5) disebut “frase Kami no ku atau frase atas” ( 上の句) dan dua baris berikutnya (7-7) disebut frase Shimo no ku atau frase bawah (下の句). Frase atas biasanya menyajikan gambar, hasil sensor indera terhadap alam sekitar. Sisa dua baris berikutnya bergeser fokus ke ide terkait, memberikan lebih banyak ruang untuk membangun citraan yang kuat, luas, dan dalam dengan 31 suku kata.

Kakekotoba (   ) atau pivot atau kata jembatan atau kata poros adalah alat retoris (cara ekspresi) yang digunakan dalam tanka (waka) tradisional Jepang. Ini digunakan ketika kita ingin mengatakan dua hal berbeda dalam satu kata, mengaitkan dua konteks yang berbeda dengan korespondensi satu arti untuk setiap konteks.  Fungsi dari kata pivot adalah untuk mengikat dua gambar berbeda yang memungkinkan sistem puitis melompat dari satu makna ke makna lain. Tujuannya untuk membangun hubungan dua frase dan menjaga kontinuitas tanka dari baris pertama hingga baris kelima. Kita dapat menunjukkan gambar atau objek yang berbeda antara frase Kami no ku (5-7-5) dan frase Shimo no ku (7-7).  Namun kontinuitas tanka tetap terjaga dengan adanya kata poros (pivot).

 Kata Pivot pertama kali ditemukan di naskah paling awal yang masih ada di mana puisi puitis disimpan dalam bentuk tertulis. Contoh paling awal adalah dari periode Nara. Asalnya dari teknik ini tidak jelas, namun kemungkinan itu sudah umum digunakan dalam periode sebelum menulis diperkenalkan, sebagai bagian dari tradisi puisi tanka. Ini adalah teknik yang dirancang untuk memperkaya cara menyampaikan puisi dalam ruang terbatas. Pola umumnya adalah sebagai berikut:  “Menggunakan konteks kalimat sebelum kakekotoba dan setelah itu menciptakan makna baru”.

Kakekotoba bersifat ambigu (memiliki makna ganda), diterjemahkan menjadi dua makna yang berbeda dengan sendirinya. Karena itu dapat diterjemahkan dengan arti yang berbeda, terjemahan kakekotoba terkadang dapat menjadi tidak bermakna oleh mereka sendiri, dan membutuhkan konteks untuk memunculkan maknanya, yang tidak dianggap sebagai masalah dalam periode Heian. Bila dikaitkan dengan dua baris yang mendahuluinya kakekotoba memiliki satu makna dan bila dikaitkan dengan dua baris bawah (baris keempat dan kelima) yang mengikutinya maka kakekotoba memiliki makna berbeda. Secara singkatnya, kakekotoba atau pivot adalah penggunaan kata-kata yang memiliki makna ganda.  Kita simak contoh berikut ini:

 

sekawan pipit

mengais  sana-sini

butiran padi…………………………kakekotoba/pivot/poros

amal dan kebaikan

satu jadi setangkai

 

Kalimat “butiran padi” bila dikaitkan dengan kalimat dua baris di atasnya adalah butir-butir padi yang tercecer di sana-sini, mungkin itu di rumput atau tanah sehingga sekawan pipit harus mengkais-kaiskan kakinya untuk mendapatkan butir-butir padi itu.

Kalimat “butiran padi” bila dikaitkan dengan dua baris di bawahnya maka memilikji makna lain, “serupa atau seperti atau bagaikan amal dan kebaikan, menanam satu butir padi (amal dan kebaikan) hasil akan jadi setangkai (jadi berlipat-lipat ganda).

Langkah pertama sebelum menulis tanka: “Tetapkan terlebih dahulu pivot untuk tanka yang akan ditulis, berikut makna baru seperti apa yang akan dimunculkan darinya”. Periksa kembali setiap kata dari pertama hingga baris kelima, pastikan bahwa tidak ada kata yang memberikan citraan yang saling bertentangan dengan makna baru yang kita inginkan.

*********

GADIS SUNYI ASYIK SENDIRI DI PANTAI


gadis sunyi yang asyik dengan dirinya sendiri

disela-sela  derai tawa dan deras air matamu

kulihat kesunyian hatimu menggenang hening

bagaikan rawa-rawa luas liar tak berpenghuni

 

gadis sunyi yang asyik dengan dirinya sendiri

kutatap lamat bening di kedua bola matamu

di dalamnya kulihat Selat Malaka berombak

kapal-kapal asing berlayar mencari dermaga

 

gadis sunyi yang asyik dengan dirinya sendiri

lihatlah di sana pada daratan yang terbentang

dalam kebiruan yang kian jauh semakin pekat

tingginya gunung-gunung hanyalah bayangan

 

gadis sunyi yang asyik dengan dirinya sendiri

dengarkanlah suara ombak memukul karang

tenggelamkan dirimu ke dalam kebisingannya

kedamaian yang engkau cari ada di dalamnya

 

*******

Batam, Mei 2018.

puisi by Beni Guntarman

MENULIS TANKA DUA FRASE


Tanka dua frase adalah puisi 31 suku kata dalam pola tuang 5-7-5-7-7 suku kata itu terbagi dalam dua frase, yakni: frase Kami no ku (5-7-5) dan frase Shimo no ku (7-7).  Tiap frase itu adalah suara sehingga tanka dua frase disebut sebagai tanka yang memiliki dua suara. Kalimat baris ketiga tanka berfungsi sebagai pivot atau jembatan atau sebagai poros pergeseran dari frase atas (Kami no ku) menuju ke frase bawah (Shimo no ku).  Sehingga kalimat baris ketiga tanka jadi bersifat ambigu (memiliki makna ganda).  Bila ia dikaitkan dengan pola 5-7-5 maka arti kalimat baris ketiga memiliki makna sesungguhnya. Misalkan kalimatnya berbunyi “setangkai mawar” maka maknanya adalah mawar dalam arti sesungguhnya. Bila dikaitkan dengan pola 7-7 suku kata maka kalimat “setangkai mawar” di baris ketiga itu menjadi sebuah metafora.

Tanka dua frase yang baik memiliki fokus cerita dan mengalir seperti butir embun mengalir di lima tingkat daun. Untuk memberikan impresi yang kuat tanka harus memiliki “objek utama” sebagai titik fokus. Baris per barisnya mengalir lancar dan penyair tetap menggenggam erat objek utamanya. Genggam erat objek utama itu dan munculkan di baris ketiga. Baris keempat dan kelima sifatnya meminjam rasa, aroma, makna, atau menjadikan objek utama itu sebagai sebuah metafora. Contoh:

bunyi gemuruh
dari tingginya gunung
sungai mengalir
betapa singkat mimpi
hanyut dalam alurnya

Objek utama tanka adalah “sungai mengalir”. Sekarang kita lihat kedudukkannya dalam dua frase: Kami no ku dan Shimo no ku:

Frase Kami no ku atau frase atas. Baris pertama, kedua, dan ketiga membentuk satu pengertian atau suara:

bunyi gemuruh
dari tingginya gunung
sungai mengalir

Kalimat “sungai mengalir” dalam frase ini memiliki arti sesungguhnya yakni, “sebuah sungai yang airnya mengalir”. Umumnya apa yang dituangkan dalam frase 5-7-5 adalah sebuah gambar hasil pencermatan terhadap alam sekitar. Gunakan kalimat “objektif” untuk frase Kami no ku agar menghasil sebuah gambar jernih sarat makna yang mencerminkan intuisi.

Frase Shimo no ku atau frase bawah. Baris keempat dan kelima meminjam rasa, aroma, makna, atau menjadikan objek utama di baris ketiga sebagai metafora sesuatu sehingga membentuk pengertian baru atau memunculkan suara kedua. Gunakan kalimat yang sifatnya “pikiran subjektif” untuk pola 7-7 suku kata.  Silakan simak pergeseran makna kalimat “sungai mengalir” pada frase ini:

sungai mengalir
betapa singkat mimpi
hanyut dalam alurnya

Kalimat “sungai mengalir” dalam konteks ini, dikaitkan dengan dengan dua baris kalimat di bawahnya, memiliki makna lain. Menjadi sebuah perumpamaan (metafora) bahwa “hidup ini seperti sungai mengalir”. Bila anda menulis tanka dua frase harus selalu dipastikan bahwa kalimat baris ketiga tanka yang anda tulis bersifat ambigu atau memiliki makna ganda. Selamat mencoba!

******

 

HAIKU PENJAJARAN (JUXTAPOSITION)


Haiku adalah puisi pendek asal Jepang yang saat ini telah merupakan bagian dari sastra dunia. Perkembangan haiku yang sangat pesat di seluruh dunia telah menghasilkan banyak kajian dan pendapat dari kalangan ahlinya. Sangat beragam penjelasan yang mereka berikan. Namun kita harus memilih haiku tradisonal Jepang sebagai model bahasan karena kita harus mengenal haiku bagaimana awalnya di Jepang agar kita dapat mengambil inti sarinya guna dikembangkan lebih jauh di Indonesia, sesuai dengan sistim tata bahasa yang berlaku untuk Bahasa Indonesia.

Ada dua tipe haiku yakni: toriawase dan ichibutsujitate. Haiku toriawase adalah haiku yang mengkombinasikan dua gambar atau tema atau citraan dalam satu ayat. Kedua gambar atau tema atau citraan itu kedudukannnya sejajar sehingga disebut sebagai haiku penjajaran. Untuk itu maka dalam haiku toriawase minimal harus ada dua dan maksimal tiga objek hasil pencermatan indera manusia. Letak kire(ji) haiku tipe ini bisa berada di akhir kalimat baris pertama atau di akhir kalimat baris kedua. Kalimat yang 17 suku kata itu jadi terbagi atau terfragmentasi menjadi dua bagian karena letak kire(ji) berada di tengah ayat. Setiap bagian atau fragmen yang terbentuk sifatnya menyajikan gambar atau tema atau citraan tersendiri sehingga muncullah dua gambar atau tema yang sejajar.

Haiku ichibutsujitate adalah haiku yang hanya memiliki satu objek sehingga hanya satu tema atau satu citraan yang dibentuk olehnya. Haiku ichibutsujitate memiliki ciri khas yakni selalu memberikan flash atau kejutan melalui kalimat baris ketiga. Tidak ada penjajaran internal di dalamnya sehingga tidak ada jeda ketika membaca 17 suku kata itu. Letak kire(ji) haiku ichibutsujitate di akhir kalimat baris ketiga, dengan demikian memaksa pembaca/pendengar untuk menghubungkannya kembali dengan kalimat baris pertama, kedua, dan kembali lagi ke baris ketiga. Sehingga haiku menjadi bulat atau membentuk pola melingkar. Haiku satu tema ini relatif mudah untuk ditulis dan yang penting agar haijin tidak lupa untuk menyisipkan kigo di dalamnya. Selanjutnya saya akan lebih banyak membahas haiku toriawase karena haiku tipe ini memiliki seperangkat aturan yang sangat penting untuk dipahami.

Haiku Toriawase adalah haiku yang 17 suku kata itu terbagi atau terfragmentasi menjadi dua segmen. Kire sintaksis dan semantik secara bersamaan akan membuat fragmentasi itu menjadi begitu kuat sehingga setiap bagian membentuk gambar atau tema atau citraan tersendiri yang sejajar secara internal.

Ada dua macam kire dalam haiku yakni: kire sintaksis dan kire semantik. Kire sintaksis adalah jeda nafas yang sengaja diatur atau dipaksa harus terjadi ketika bagian atau fragmen itu dibaca dengan suara keras. Kalau haiku dalam bahasa Jepang pengaturan itu mengunakan huruf-huruf Iroha sehingga disebut sebagai “Kireji”. Kire semantik adalah bahwa fargmen atau bagian itu memilik makna, gambar, citraan, atau tema tersendiri ketika jeda sintaksis terjadi. Syarat terjadinya kire semantiik adalah bahwa kalimat itu harus mengandung objek atau benda yang dapat dicermati dengan panca indera manusia. Karena itu dalam haiku toriawase harus ada minimal dua (maksimal tiga) objek atau benda sebagai hasil penglihatan, pendengaran, penciuman, kecapan dengan lidah, atau sesuatu yang dapat dirasakan melalui kulit kita ketika kontak dengannya. Setiap kalimat yang tertulis sebagai teks harus turut serta berfungsi atau berperan menghasilkan sebuah gambar atau citraan atau tema untuk setiap segmen.

Kemunculan kire sintaksis dan semantik harus diatur oleh haijin. Pengaturan kemunculan kedua kire itu secara bersamaan bertujuan untuk menciptakan jeda sesaat yang bermakna. Kire sintaksis ada untuk menciptakan Ma atau ruang kosong yang tercipta karena adanya jeda nafas ketika teks dibaca. Jadi ketika terjadi jeda nafas (kire sintaksis) maka muncul sebuah gambar atau tema (kire semantik). Setelah jeda sesaat lalu dimunculkan segmen berikutnya yang juga bersifat menyajikan gambar yang sarat makna. Dengan demikian penjajaran internal terjadi.

Di mana kigo haiku sebaiknya diletakkan? Objek Kigo harus ada di dalam salah satu dari dua segmen yang ada. Haiku toriawase adalah penjajaran dua segmen dalam satu ayat haiku yakni segmen yang mengandung kigo musiman dan lawan penjajarannya. Bila haiku menggunakan kigo musiman (kigo besar) maka keberadaan kigo kecil (kigo waktu atau siang, malam, senja, dst) yang berada dalam lawan segmen dapat diabaikan, kigo musim dianggap sebagai kigo haiku. Bila tidak ada kigo besar maka sebaiknya jangan memunculkan dua kigo kecil agar keduanya tidak saling memusnahkan. Jadi untuk selalu diingat bahwa haiku toriawase adalah kombinasi dua segmen yakni, kigo dan lawan penjajarannya.

Tidak mungkin semuanya diungkapkan lewat 17 suku kata. Karena itu setiap kata yang dipilih dan ditulis harus selektif. Setiap kata harus menunjang terbentuknya gambar atau tema atau citraan salah satu segmen yang ada. Haiku harus menyajikan gambar yang jernih karena itu setiap kata yang dipilih harus menunjang terbentuknya sebuah gambar yang jernih. Haiku yang baik adalah haiku yang memiliki resonansi atau gema di pikiran pembaca/pendengar. Resonasi hanya akan muncul bila teks memunculkan pesan tersirat lewat apa yang tersurat. Jeda sintaksis dan makna memiliki efek memperkuat resonansi. Ada sesuatu yang tertangkap oleh pikiran pembaca baik itu ketika terjadi jeda sesaat maupun ketika haiku selesai dibaca. Keberadaan jeda sesaat (Ma) mencuatkan sesuatu ke benak pembaca sehingga memunculkan sesuatu yang tersembunyi dibalik penjajaran dua segmen atau gambar. Seperti kita menunjukkan kepada pembaca gambar “kancil” dan “timun”, pembaca menafsirkan sendiri hubungan kedua gambar itu berdasarkan apa yang tersurat lewat kata-kata. Dengan demikian sebuah ayat haiku dikatakan melampaui kata-kata. Kita simak contoh haiku beriku ini:

pesawat kertas
hilang di rimbun daun
genangan hujan

Haiku di atas mengatakan bahwa ada pesawat kertas meluncur dan hilang di rimbun daun, lalu muncul kalimat yang sifatnya memotong alur cerita yakni, kalimat “genangan hujan”. Bila kire(ji) terletak di akhir kalimat baris kedua maka kalimat baris ketiga sifatnya adalah “memotong alur cerita”. Kalimat yang bersifat memotong alur cerita haruslah sebuah kalimat yang memiliki objek yang merupakan hasil sensor indera haijin. Kalimat yang memiliki objek membentuk gambar atau tema atau citraan suasana sehingga ia merupakan salah satu segmen dari dua segmen yang harus ada dalam haiku toriawase. Kalimat 17 suku kata itu terpenggal di tengah sehingga membentuk dua segmen yang sejajar. Fragmentasi terjadi karena adanya kire(ji) dan letak kire(ji) diatur dalam rangka menciptakan Ma untuk memunculkan sesuatu yang tersembunyi dalam 17 suku kata yang kita tulis. Kedua segmen haiku di atas bila kita tulis dalam 2 line penjajarannya menjadi sebagai berikut:

pesawat kertas hilang di rimbun daun
genangan hujan

Satu segmen atau gambar menunjukkan adanya momen “pesawat kertas hilang di rimbun daun” dan segmen berikutnya yang merupakan lawan penjajaran menunjukkan gambar “genangan hujan”. Lantas apa yang muncul di benak kita dalam rangka memaknai keterhubungan kedua gambar sejajar di atas? Masing-masing pembaca dapat memaknainya sesuai dengan latar belakang dan pengalamanannya.

Haiku toriawase yang baik adalah penjajaran segmen statis dan dinamis atau merupakan penjajaran beton dan gerak. Kita simak kalimat “pesawat kertas hilang di rimbun daun”. Ini sesuatu yang dinamis, haijin tidak mengatakan dalam teks kata “meluncur”, namun pengertian itu dapat kita pahami karena yang namanya momen haiku adalah suatu fenomena nyata terjadi di depan mata. Haiku sifatnya merekam momen kehidupan yang terjadi dalam setitik ruangdan waktu. Yang namanya hidup itu cirinya bergerak atau berubah. Dengan puisi haiku kita merekam suatu peristiwa atau kejadian yang bermakna, dan coba merenungkannya dalam persepsi filosofi ruang dan waktu.

Kita mencatat sesuatu yang berubah di dalam waktu. Apakah itu sebuah keindahan atau sesuatu yang bermakna bagi diri kita, dan kita mencatatnya dalam format 5-7-5 suku kata. Memaknainya dengan penekanan melalui letak kire(ji) dan memberinya kigo dalam rangka membuka perenungan atau ruang kesadaran kita seluas-luasnya bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal. Revolusi bumi mengelilingi matahari menciptakan musim, rotasi bumi pada porosnya menciptakan pergantiang siang dan malam. Semua itu terkait dengan ruang dan waktu karena pada kenyataannya tidak ada musim atau waktu yang terjadi secara bersamaan di muka bumi ini. Kigo adalah isyarat kuat adanya kesadaran dalam diri haijin bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal, tidak ada yang sempurna, dan tidak ada yang selesai.

Kalimat “pesawat kertas hilang di rimbun daun” maknanya bahwa ada sesuatu yang muncul dan menghilang. Bisa jadi “pesawat kertas” itu mewakili harapan atau keceriaan atau cita-cita atau sesuatu yang sukar diungkapkan dengan kata-kata karena berada di alam bawah sadar kita. Kalimat “genangan hujan” adalah gambar tentang air hujan yang tergenang. Kalimat ini mengandung isyarat waktu/musim. Ini adalah representasi waktu/musim yang berubah, sesuatu yang tiba-tiba berdenyut dalam hati kita seakan-akan kita berkata: “aku bercermin pada genangan air yang jernih dan tenang ini”. Lalu apa makna atau pesan yang tersembunyi lewat penjajaran kedua segmen atau gambar di atas? Silakan cermati sesuai dengan latar belakang dan pengalaman masing-masing.

Awalilah teks haiku anda dengan apa yang sifatnya “tengah ada di hati”.  Dalam haiku Toriawase, apa saja yang diungkapkan sebelum bertemu kire(ji)…sifatnya ada/masih ada/ tengah berada di hati atau tengah memenuhi perasaan haijin……ini adalah segmen frase (12 suku kata) atau segmen klausa (5 suku kata) yang menjadi titik tumpu semantik (makna) haiku. Segmen frase dan klausa dihubungkan oleh Ma. Apa pun lawan penjajarannya yang dimunculkan kemudian (haiku toriawase)….harus dilihat keterhubungannya atau keterkaitannya atau relasinya dan dipahami maknanya berdasarkan hunungan titik tumpu semantik haiku yang merupakan  kalimat sebelum kire terjadi dengan lawan penjajarannya.

Kalau misalkan gambar pertama teks haiku menunjukkan “kolam yang tua”…maka kita harus dicermati gambar atau citraan suasana sepeti apa yang tersembunyi di balik kalimat itu. Haiku sifatnya menyajikan gambar yang sarat makna untuk dicermati. Kalau gambar pertama itu merupakan ekspresi rasa yang menunjukkan citraan ruang (temaram fajar, lembayung senja, terang purnama, dst) atau biasa dikatakan sebagai “memberikan rasa Wabi”…maka gambar yang menjadi lawan penjajarannya adalah citraan yang memberikan cita rasa Sabi.  Citraan rasa Sabi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: objek yang bergerak (datang dan menghilang), berubah warna bentuk atau kualitasnya dalam irama waktu/musim, dan objek yang mancermin ketidakkekalan hidup seperti daun gugur, kayu lapuk, bunga layu, dan seterusnya

Haiku toriawase umumnya menggunakan teknik “sebab-akibat”…..titik tumpu semantik haiku adalah “akibat”…sedangkan lawan penjajarannya adalah “sebab”, merupakan “kesadaran sekarang, saat ini”….”tersebab saya melihat ini atau bertemu atau merasakan atau mendengar ini akibatnya…..” dan akibat ini biasanya berupa agregat “bentuk, sensasi (perasaan), persepsi, formasi mental, dan kesadaran” yang mengisi pikiran kita selaku penulis haiku. Sedangkan “sebab” juga merupakan objek nyata di alam….objek yang paling berdenyut, yang paling menginspirasi kita, yang menyentuh rasa kita……dan itu umumnya objek kigo yang membawa suasana musim/waktu jadi berdenyut dalam puisi (namun tidak harus kigo, karena kigo bisa berada di mana saja).

Ketika kita mampu menjernihkan pikiran dari segala agregat pikiran “sebelum momen haiku terjadi “ dan kita sepenuhnya berada dalam “kesadaran sekarang” maka itulah yang dinamakan dengan “kekosongan” atau Wu yang menunjuk pada realisasi batin atau keadaan diri yang mencerminkan “kesederhanaan”, “ketenangan”, dan “kedamaian”.  Dalam kekosongan pikiran adalah cermin, bukan lensa. Menjernihkan pikiran bukan memoles cermin tapi menjadikan ketenangan pikiran sebagai cermin alami yang tidak terikat oleh gambar yang dipantulkan. Melihat gambar di cermin pikiran seperti melihat bulan di dalam air yang tenang dan jernih. Bulan tidak basah dan air kolam tidak meluap, tidak ada yang berubah hilang atau rusak setelah objek dan subjek menjadi satu, semuanya masih “sebagaimana adanya”.

Haiku dapat kita analogikan sebuah gunung es mengambang di laut yang dingin. Tujuh belas suku kata yang tertulis sebagai teks haiku adalah bagian puncak gunung es yang terlihat di permukaan laut. Ini hanya menunjukkan bagian yang sangat kecil. Sementara perasaan penyair (kokoro dan omoi) serta pesan tak terucap yang mana itu merupakan bagian terbesar dari gunung es tersembunyi di bawah permukaan air laut. Dengan menggunakan analogi sebuah gunung es, “omissions (kelalaian)” dan “pesan tersembunyi” tidak dapat dipisahkan. Kelalaian yang dihitung dengan baik menghasilkan pesan tak terucapkan yang melampaui kata-kata.

Kamus Kojien mendefinisikan bahwa ‘omissions’ atau kelalaian berarti menyingkat dan meninggalkan beberapa bagian untuk kepentingan singkatnya. Dengan definisi, apa yang harus disingkat dan apa yang harus ditinggalkan memerlukan pertimbangan yang paling hati-hati. Haiku akan menjadi hidup bila kita berhasil menentukan kata kunci untuk ekspresi dalam 17 suku kata. Kata-kata yang selamat dari penyaringan harus dapat menyampaikan pesan tersirat. Bila kita memiliki banyak hal untuk dikatakan, akan terasa sangat sulit untuk mengatakannya dan gambar yang jernih sangat sulit untuk dihasilkan.

Haijin harus belajar bagaimana memilih kata-kata agar haiku memiliki resonansi . Sebuah haiku harus irit kata-kata untuk membuat pembaca terkesan. Omissions atau kelalaian adalah jiwa haiku. Ini berisi seluruh alam semesta dalam 17 suku kata.

Basho meninggalkan beberapa ucapan yang mengesankan tentang konsep Omissions: “Semuanya harus berkata, tidak ada yang tersisa,” Berarti bahwa jika kita tidak meninggalkan sesuatu yang tidak terkatakan, kita tidak memberi ruang bagi pembaca untuk memahami pesan yang tidak tertulis. Misalkan kita menulis kata “rumput hijau”….warna rumput adalah hijau, kecuali kalau ia layu (menguning). Maka kita hilangkan kata “hijau”….untuk meninggalkan sesuatu yang tak terkatakan. Misalkan haiku berikut ini:

capung berayun
mengikut arah angin
memetik jagung

Segmen frase “capung berayun/ mengikut arah angin”…kemudian kita sejajarkan dengan segmen klausa “memetik jagung”…di sini jelas bahwa capung hinggap di daun jagung yang dihembus oleh angin. Kita dapat bayangkan bagaimana suasana saat itu, suasana saat capung diayun-ayun oleh daun jagung yang dihembus oleh angin. Kelalaian umumnya terkait dengan menciptakan “sesuatu yang tidak kita nyatakan langsung dengan teks namun dapat disimak keberadaannya”.

Pesan tersirat yang lahir dari kelalaian sangat diperlukan untuk haiku. Pesan tersirat atau “yo-in” adalah apa yang bisa disimpulkan dari apa yang bisa dijangkau lewat kata-kata yang tersurat. Sebagai puisi, haiku hanya menggunakan sejumlah kecil kata, haiku ditakdirkan untuk memiliki serangkaian implikasi yang luas dan mendalam. “Yo-in” adalah dunia imajinasi tanpa batas yang disentuh oleh setiap kata yang diucapkan.

Haiku adalah jenis puisi yang sifatnya menyajikan gambar jernih yang sarat makna yang mencerminkan intuisi dalam rangka “menyampaikan sesuatu atau pesan” secara tersirat lewat kata-kata yang tersurat. Komposisi haiku ditata sedemikian rupa dalam rangka “untuk menyampaikan pesan tersirat lewat tujuh belas suku kata”. Tidak mungkin mengatakan semuanya lewat 17 suku kata. Karena itu haiku bersifat menyajikan gambar jernih yang sarat makna. Sebuah gambar tunggal atau sepasang gambar jernih yang sejajar dalam haiku mampu berbicara banyak hal, dapat melampaui apa yang tersurat dalam 17 suku kata. Setiap kata yang bersifat objektif akan membuat gambar semakin jernih sehingga pesan yang tersirat akan mudah ditangkap oleh pembaca. Kalimat subjektif justru membiaskan berbagai pesan yang tersirat.

Secara umum digambarkan bahwa segala macam genre puisi adalah ekspresi hati manusia. Haiku tradisional Jepang memiliki cara khas dalam menyampaikan ekspresi hati manusia yakni, menghadirkan gambar jernih yang sarat makna. Gambar yang sarat makna itu mencerminkan intuisi, hasil sensor berlapis indera manusia dalam suatu momen haiku. Kerja intuisi manusia kadang membuat suara hati itu seperti suara orang sedang bergumam atau sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

Haiku adalah puisi dengan 17 suku kata yang memiliki pesan atau kesan atau pandangan tertentu berkenaan dengan pengalaman “saat ini” yang kita sebut sebagai momen haiku. Artinya, bahwa 17 suku kata itu bukanlah kata-kata kosong atau sekedar letupan suara hati tanpa makna. Misalkan kita menuliskan kalimat “suara ombak”. Ini bukan sekedar mengatakan tentang ombak yang membentur batu karang atau bibir pantai. Ada pesan kuat yang tersirat dibalik kalimat yang terdiri dari 5 suku kata dan isinya secara keseluruhan tergantung dari konteks yang terkait dengan 12 suku kata lainnya. Kita ambil contoh haiku berikut ini:

sepanjang pantai
remang cahya rembulan
suara ombak

Meski tidak memiliki tanda kire apa pun namun kita dapat membaca bahwa secara sintaksis – semantik haiku di atas terpenggal di akhir kalimat baris kedua. Pola fragmentasinya adalah 12-5 suku kata, sehingga kita dapat melihat penjajarannya dalam dua baris (line):

sepanjang pantai remang cahya rembulan
suara ombak

Pesan apa yang tersirat lewat penjajaran ini? Sebelum menjawabnya kita bicarakan terlebih dahulu sedikit tentang Ma ( spacial space) dan hubungannya dengan kire(ji).

Haiku yang tujuh belas suku kata itu kita katakan sebagai pesan. Seumpama gunung es di atas laut maka 17 suku kata yang tersurat itu adalah bagian gunung es yang terlihat di atas permukaan laut. Bagian yang 17 suku kata itu hanyalah bagian kecil dari fenomena gunung es yang mengapung di permukaan laut. Bagian terbesar dari gunung es itu justru berada di bawah permukaan laut. Isi Ma adalah bagian terbesar dari pesan haiku. Kita umpamakan itu sebagai bagian gunung es yang berada di bawah permukaan laut. Jadi Ma adalah makna haiku yang tersembunyi. Bagian terbesar pesan haiku yang tersirat dan tersembunyi dalam Ma yang letaknya berada di antara dua segmen atau dua gambar. Ma adalah salah satu hal yang membuat haiku dapat melampaui kata-kata. Keberadaan atau kemunculan Ma di tata oleh haijin dan tujuan penataan ini untuk mengungkap bagian gunung es bawah laut atau bagian pesan haiku yang tak terkatakan lewat 17 suku kata.

Ma sangat penting dan merupakan kekuatan utama haiku toriawase atau haiku penjajaran. Merupakan ruang kosong sesaat yang tercipta karena jeda nafas ketika haiku dibaca dengan suara keras. Jeda sesaat menciptakan ruang kosong atau ruang bermimpi bagi pembaca. Jeda sesaat ini menyiratkan sesuatu, dan tugas berat haijin adalah untuk menyusun komposisi haiku sedemikian rupa agar Ma berfungsi dengan baik. Untuk fungsi Ma ini maka letak kire(ji) diputuskan dan pilihan objek penjajaran ditentukan secara tepat.

Berdasarkan efeknya terhadap pemaknaan haiku, ada tiga fungsi utama kireji (kire sintaksis): “memotong”, “menekankan”, dan “melompat”. Ketika kire(ji) terletak di akhir kalimat baris pertama maka fungsi utamanya adalah “menekankan kalimat yang mendahuluinya”. Ketika terletak di akhir kalimat baris kedua maka fungsinya utamanya adalah “memotong alur pemikiran dua baris kalimat yang mendahuluinya”.

Fungsi “menekankan” dan “memotong” atau “melompat” tujuannya adalah sebagai isyarat (bila memakai tanda) untuk mengatur di mana letak jeda nafas harus dilakukan. Terkait dengan Ma, pengaturan letak kire(ji) itu ditujukan untuk memunculkan pesan-pesan tersirat yang tersembunyi dalam teks 17 suku kata. Ma adalah hening sesaat yang menyiratkan banyak makna sehingga membuat haiku melampaui kata-kata. Tindakan haijin memutuskan letak kire(ji) adalah tindakan mengambil keputusan “menentukan timing yang tepat” untuk membawa pembaca masuk ke dalam Ma untuk menyimak “gambar” yang dibangun lewat kata-kata. Hanya kata-kata yang bersifat menunjukkan objek nyata hasil sensor indera yang dapat membentuk gambar. Karena itu minimal harus ada dua objek nyata (maksimal tiga) untuk haiku tipe toriawase atau hanya satu objek nyata untuk haiku ichibutsujitate.

Untuk haiku tipe toriawase atau haiku kombinasi atau juxtaposition, teknik apapun yang digunakan dalam menulis haiku pada akhirnya harus memunculkan dua gambar yang saling berinteraksi di dalam ruang kosong (Ma). Sebuah haiku yang baik, semakin disimak semakin banyak menunculkan kata atau kesan atau rasa atau pemikiran atau imajinasi yang tak termanifestasikan lewat kata-kata. Ma bersifat temporal, psikologis, dan komunikatif. Bagi penyair, Ma adalah ruang pencerahan, tempat ia melihat kilau-kilau cahaya yang muncul dari Zoka sebagai akibat objek dan subjek yang menyatu dan menjadi salah satu. Ma memberi ruang bagi pembaca untuk menyimpang dari pesan yang dimaksudkan, menafsirkan sendiri sesuai dengan latar belakang dan pengalamannya sebelum menemukan sesuatu yang bermakna di dalamnya.

Mengatur kemunculan Ma pada intinya seni menghadapi tantangan komunikasi non verbal. Seni ini memberikan kesempatan kepada pembaca untuk secara efektif menafsirkan dalam bahasa apapun untuk gambar yang disajikan. Karena pada akhirnya pengalaman subjektif yang meliputi perasaan pembaca yang akan mengapresiasi haiku yang dibacanya. Ma adalah keheningan yang kontradiktif dengan objek alam yang terlihat bergerak atau terdengar. Ma sifatnya memunculkan keheningan yang bernuansa statis dan seimbang, kontradiktif dengan sifat alam yang kreatif berubah dan cenderung membuat hal menjadi tak seimbang (asimetri).

Ma adalah sebuah kekosongan yang berisi dan dinamis, bila ditelusuri lebih jauh konsepnya bersumber pada ajaran Taoisme. Definisi dan fungsi Ma hampir selalu bersifat metafisik, oleh karena itu kenapa sangat sulit bagi penyair Barat untuk memahami konsepnya dalam haiku tradisional Jepang.

Kita kembali pada pokok bahasan, menyimak pesan-pesan dalam haiku penjajaran ini:

sepanjang pantai
remang cahya rembulan
suara ombak

Kalimat “suara ombak” bersifat memotong alur pemikiran dua baris kalimat yang mendahuluinya. Sehingga kita menemukan bentuk penjajaran haiku ini:

sepanjang pantai remang cahya rembulan
suara ombak

Kalimat “sepanjang pantai remang cahaya rembulan” adalah hasil sensor indera penglihatan. Sedangkan kalimat “suara ombak” adalah hasil sensor indera pendengaran. Lalu pesan-pesan apa yang tersirat dalam kalimat yang tersurat pada haiku ini?

Penjajaran dua gambar dalam haiku toriawase bisa jadi menjajarkan dua hal sehingga menghasilkan harmoni atau menghadirkan dua hal yang sama tegak karena kontras sehingga terjadi benturan dan memunculkan gema (resonansi). Resonansi adalah pesan-pesan haiku yang tersirat dan terasa bergema di pikiran pembaca, kemunculan hanya dapat ditangkap oleh intuisi. Sesuatu yang tertangkap oleh intuisi atau sesuatu yang dapat terasa atau dapat dipahami keberadaannya dalam dalam haiku namun sulit untuk diungkapkan lewat kata-kata adalah bagian dari pengertian “melampaui kata-kata”.

Seperti yang telah dikatakan bahwa tidak semuanya bisa disampaikan lewat 17 suku kata. Kita menggunakan analogi gunung es untuk menyinggung tentang kelalaian (omissions) dan pesan-pesan tersembunyi yang tidak dapat dipisahkan, pesan-pesan yang tersembunyi dalam Ma. Penghilangan yang dihitung dengan baik atau kelalaian (omissions) menghasilkan pesan yang tidak terungkapkan lewat kata-kata.

Pesan tersirat yang lahir dari kelalaian sangat penting untuk haiku. Pesan tersirat (yo-in) adalah apa yang anda simpulkan dari apa yang diungkapkan dalam kata-kata, Sebagai sebuah puisi yang hanya menggunakan sejumlah kecil kata, haiku ditakdirkan untuk memiliki serangkaian implikasi yang luas dan mendalam. “Yo-in” adalah dunia imajinasi tanpa batas yang tersentuh oleh setiap kata yang tersurat dalam teks.

Tidak ada kata yang menyebutkan “sunyi” dalam teks di atas. Namun secara tersirat nuansa sunyi itu terbaca. Kalimat “sepanjang pantai remang cahya rembulan” mengisyaratkan sebuah suasana romantis yang penuh kelembutan, suasana sunyi dan tenang yang menggugah intuisi si haijin untuk menuangkannya dalam haiku. Kalimat “suara ombak” bersifat kontras dengan suasana gambar pertama. Objek dan subjek menyatu dan menjadi salah satu. Haijin menjadi “suara ombak” (menyatu dengan suara ombak) yang bergema di sepanjang pantai yang remang oleh cahaya rembulan. Ini tak lain merupakan sebuah bentuk pengakuan diri bahwa betapa kecilnya “aku” dihadapan kekuatan alam, dihadapan ombak lautan yang terus mengalun dan bergema sepanjang masa. Mata hati yang melihat kebesaran Tuhan pencipta alam semesta meski si haijin tidak menyebutkan kata “Tuhan” dalam teks yang ditulisnya.

Kita simak lagi haiku berikut ini:

embun menghilang  (L1)
kumbang di balik putik (L2)
meniti waktu (L3)

Kalimat L1 : embun menghilang …..dikatakan sebagai kalimat yang kuat karena ia bersifat memberikan citraan gambar suasana di suatu tempat dan di suatu waktu. Secara semantik kalimat L1 ini memiliki makna tersendiri, secara sintaksis ia bersifat terpisah dari kalimat L2 dan L3……artinya secara semantik (makna) dan sintaksis terjadi jeda di akhir kalimat baris pertama. Jadi dari aspek kire(ji) haiku ini terpenggal di akhir kalimat baris pertama.  Bila kire(ji) terletak di akhir kalimat baris pertama maka haiku ini bersifat menekankan kalimat “embun menghilang”.  Ada apa dengan ungkapan “embun menghilang”? Jawabnya adalah kalimat L2 dan L3…dalam teks aslinya “kumbang di balik putik meniti waktu”…..kita lihat penjajaran kedua segmennya:

embun menghilang

kumbang di balik putik meniti waktu

Simak baik-baik kalimat “kumbang di balik putik meniti waktu”…..kalimat ini tidak mencerminkan pengalaman konkret. Artinya secara keseluruhan lebih bersifat “subjektif” dan kalimat “meniti waktu” sama sekali tidak mencermin hasil sensor indera manusia, atau lebih tepat kalau dikatakan merupakan sebuah pikiran yang menilai berdasarkan kesadaran  “aku”.  Sama sekali tidak mencermin prinsip Wu Wei  atau bukan merupakan kekosongan (Wu) yang menunjuk pada realisasi batin atau keadaan diri yang mencerminkan “kesederhanaan”, “ketenangan”, dan “kedamaian” (prinsip Wabi).

Haiku adalah jenis puisi yang sifatnya menyajikan gambar konkret yang dapat dikenali sebagai hasil sensor salah satu dari panca indera manusia. Kita simak kalimat L3 “meniti waktu”….kalau kalimat “embun menghilang” dan “kumbang di balik putik” adalah citraan hasil sensor indera penglihatan, lalu kalimat “miniti waktu” hasil sensor indera apa? Misalkan haiku di atas dirubah seperti berikut:

embun menghilang
kumbang menanjak pelan
menjangkau putik

Penjajarannya dalam dua segmen/gambar adalah sbb:

embun menghilang
kumbang menanjak pelan menjangkau putik

Pesan apa yang tersirat dari apa yang tersurat dalam haiku ini? Haiku harus memiliki pesan tersirat dari apa yang tersurat lewat kata-kata agar dikatakan memiliki “resonansi” atau agar mampu melampaui kata-kata. Silakan dicermati pesan apa yang tersirat dibalik penjajaran dua segmen di atas.

Kalimat “embun menghilang” adalah segmen pertama, merupakan titik tumpu semantik haiku.  Titik tumpu semantik, artinya bahwa pemaknaan haiku secara keseluruhan bertumpu pada kalimat “embun menghilang”. Kalimat ini merujuk pada suasana ruang dimana sorot cahaya matahari menguapkan embun yang ada. Sebetulnya kalimat ini memiliki kigo karena ada isyarat yang merujuk “saat” momen haiku terjadi.  Namun ini adalah kigo kecil dan harus diabaikan karena kalimat “kumbang menanjak pelan menjangkau putik” murujuk pada kigo besar, merujuk suasana musim penghujan.  Kumbang atau kepik atau kuro-kuro mas  atau belalang dan sejenisnya yang berlindung atau berkerumun di bawah daun, sekitar pucuk/tunas atau putik bunga umumnya mengisyaratkan  suasana musim penghujan di negeri tropis.

Kalimat segmen pertama adalah “akibat”, letaknya “sebelum terjadi kire”. Kalimat segmen kedua adalah “sebab” dan letaknya setelah kire. Antar keduanya dihubungkan oleh Ma atau ruang kosong yang tercipta karena jeda nafas.  Tersebab “kumbang menanjak pelan menjangkau putik” akibatnya “embun menghilang”.  Lantas bagaimana kita harus memaknai hubungan kedua segmen haiku ini?

embun menghilang

kumbang menanjak pelan menjangkau putik

Haiku bersifat menyajikan gambar mewakili intuisi. Karena itu haiku harus dicermati dengan intuisi. Kalimat “embun menghilang” bisa jadi mewakili asa atau rasa atau suasana hati tertentu. Citraan yang diberikannya merupakan citraan ruang, suasana di suatu tempat di suatu waktu. Kalimat “kumbang menanjak pelan menjangkau putik” mengisyaratkan sebuah fenomena, objek yang muncul dan menghilang dalam irama musim (kigo). Penekanan pengertiannya adalah momen “saat ini”. Bisa jadi mewakili adanya sebuah kilas-kilas cahaya yang seketika muncul dan bersifat mencerahkan. Secara singkat dikatakan bahwa haiku di atas seakan berkata kepada para pembacanya: “pada akhirnya semua makhluk akan menemukan batasnya”.  Bila dikaji lagi lebih jauh akan lebih banyak lagi pesan-pesan tersembunyi yang tersirat di dalamnya.

******